Pikiran Rakyat
USD Jual 14.635,00 Beli 14.335,00 | Umumnya berawan, 22.2 ° C

Wisata Cosplay di Pusat Kota Bandung, Mau Jurig atau Superhero?

Joko Pambudi
WISATAWAN berfoto bersama ”hantu” di , Kamis 10 Januari 2019. Sejak penataan kawasan Jalan Asia Afrika, keberadaan seniman jalanan yang tergabung dalam Comjurig, kependekan dari Comunitas Jurig, tersebut menjadi salah satu daya wisata di pusat Kota Bandung.*/JOKO PAMBUDI/PR
WISATAWAN berfoto bersama ”hantu” di , Kamis 10 Januari 2019. Sejak penataan kawasan Jalan Asia Afrika, keberadaan seniman jalanan yang tergabung dalam Comjurig, kependekan dari Comunitas Jurig, tersebut menjadi salah satu daya wisata di pusat Kota Bandung.*/JOKO PAMBUDI/PR

KAMIS 10 Januari 2019 sore, hujan sudah mulai reda. Di salah satu sudut Jalan Asia Afrika Kota Bandung, rombongan wisatawan dari Malang, Jawa Timur tiba. Mereka menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di tengah sejuknya udara pusat Kota Bandung. Tidak sedikit dari mereka yang mengeluarkan telefon seluler kemudian berfoto bersama sejumlah ”hantu”. Bahkan, ada pula yang sengaja melakukan panggilan telefon video dengan keluarga di rumah untuk menunjukkan bagaimana ”hantu” di Bandung bisa menjadi sosok yang menyeramkan sekaligus menyenangkan.

”Keren, awalnya enggak tahu kalau di sini ada yang seperti ini,” ujar Indri (41), salah seorang wisatawan dari Malang.

Ketika itu, dia bersama puluhan anggota rombongan tengah berwisata ke Bandung. Selain berbelanja dan mengunjungi sejumlah destinasi wisata, kawasan Alun-alun Kota Bandung serta Jalan Asia Afrika menjadi salah satu titik yang disambangi. Keberadaan ”hantu-hantu” ini kemudian menjadi daya tarik. Tidak sedikit dari mereka yang menyempatkan diri berfoto sekaligus berinteraksi dengan hantu tersebut.

Tentu saja, hantu tersebut bukan merupakan makhluk halus yang sebenarnya. Mereka adalah seniman jalanan yang saat ini menjadi bagian dari daya tarik wisata Kota Bandung. 

Ada yang menyebut aktivitas ini sebagai bagian dari cosplay, kependekan dari costum play. Intinya, istilah ini dialamatkan bagi mereka yang menggunakan kostum tokoh tertentu, baik dari dongeng, cerita, film, atau sumber lainnya. Tidak hanya dari sisi penampilan, gerak tubuh pun disesuaikan dengan karakter tokoh yang dimaksud.

Meramaikan Alun-alun selama 4 tahun

Keberadaan mereka mulai marak sejak empat tahun terakhir, sejalan dengan peringatan Konferensi Asia Afrika. Ketika itu, sejumlah sudut Kota Bandung dibenahi, termasuk di bagian pusat kota yang dekat dengan sejumlah lokasi strategis, seperti Ge­dung Merdeka, Alun-alun Kota Bandung, serta Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat. 

Seniman jalanan ini kemudian mulai tumbuh dan ber­kembang sekaligus berperan untuk menarik wisatawan. Ber­­beda dengan hantu yang cenderung menakutkan, hantu di Jalan Asia Afrika ini berusaha untuk menghibur dengan berbagai cara dalam berinteraksi. ”Enggak takut, enggak ka­pok juga. Seru aja,” kata Indri.

Di lokasi tersebut terdapat sejumlah jenis hantu, mulai dari pocong, kuntilanak, hingga sosok bernama Valak, tokoh dalam sebuah film horor. Namun, tidak semua seniman jalanan ini menjadi hantu. Ada pula dari mereka yang menggunakan kostum superhero atau tokoh kartun, seperti Batman, Captain America, hingga Naruto.

Biasanya, seniman jalanan ini mulai menampakkan diri di Jalan Asia Afrika pada pukul 15.00 hingga pukul 22.00. Untuk akhir pekan atau periode libur panjang, jam operasional bisa jadi bertambah sejalan dengan banyaknya wisatawan yang datang ke lokasi.

Mereka dapat diajak untuk berfoto oleh para wisatawan yang datang. Ada pula pengguna jalan yang memperlambat laju kendaraan sekadar untuk melihat bagaimana hantu-hantu itu beraksi. Sejumlah kotak tersedia di lokasi. Pengunjung bisa memberikan uang secara sukarela sebagai bentuk apresiasi. Selain menjadi daya tarik wisata, cara seperti ini juga sekaligus menjadi mata pencarian.

Plesetan film The Conjuring

Para seniman jalanan ini tergabung dalam sejumlah komunitas untuk mewadahi aktivitas mereka. ”Kami tidak pernah memaksa (untuk bergabung). Kami di sini hanya membuka ruang,” ujar Tedi ”Cepot”, Ketua Comjurig, salah satu komunitas di lokasi tersebut.

Sebagai catatan, nama Comjurig diambil dari pele­setan sebuah film horor berseri ”The Conjuring” yang mulai dirilis tahun 2013. Karena tumbuh di daerah Sunda, komunitas ini mengambil nama Comjurig, kependekan dari Comunitas Jurig. Dalam bahasa Sunda, kata jurig berarti hantu.

Saat ini terdapat sedikitnya 25 orang yang tergabung dalam komunitas tersebut. Mereka berbagi ruang untuk memainkan peran sebagai hantu sekaligus berbagi ­pendapatan. 

Hal serupa juga berlaku untuk komunitas Kostum Unik yang juga beraksi di lokasi yang sama. Mereka memberikan ruang bagi sejumlah kalangan untuk ikut bergabung dalam menggunakan kostum sekaligus mencari nafkah. Hanya, komunitas ini tidak menggunakan karakter horor sebagai identitas. ”Karakternya ada yang superhero luar, ada juga tokoh lokal,” kata Ketua Kostum Unik Bob ”Soekarno”.

Saat ini, keberadaan seniman jalanan ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari Jalan Asia Afrika. Media sosial menjadi salah satu pendukungnya. Kita dengan mudah dapat menengok aksi mereka, baik dalam bentuk gambar maupun video. 

Namun, tentu saja akan berbeda rasanya jika berinteraksi langsung dengan mereka, seniman jalanan yang menye­ramkan sekaligus menyenang­kan. ***

Bagikan: