Pikiran Rakyat
USD Jual 14.373,00 Beli 14.073,00 | Sedikit awan, 22 ° C

Ayo Berkunjung ke Perkebunan Teh Peninggalan Zaman Belanda di Lemahsugih!

Tati Purnawati
SEORANG warga tengah berjalan menuju puncak perkebunan teh  Blok Culamega, Desa Cipasung, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka. Perkebunan teh peninggalan Belanda ini menjadi sebuah kawasan wisata di Kabupaten Majalengka.*/TATI PURNAWATI
SEORANG warga tengah berjalan menuju puncak perkebunan teh Blok Culamega, Desa Cipasung, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka. Perkebunan teh peninggalan Belanda ini menjadi sebuah kawasan wisata di Kabupaten Majalengka.*/TATI PURNAWATI

PEMANDANGAN indah dan udara yang segar akan menjamu saat kita tiba di kebun teh Blok Culamega, Desa Cipasung, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka. Tak heran banyak pengunjung yang menikmati jamuan perkebunan teh peninggalan zaman Belanda itu.

Di Kabupaten Majalengka ada dua lokasi perkebunan. Satunya berada di Desa Cipasung, yaitu di Blok Sadarehe, Desa Payung, Kecamatan Sindangwangi. Hanya di wilayah ini tidak begitu seluas dan tempatnya tersebar tidak menghampar. Wisatawan yang menikmati keindahan perkebunan teh inipun lebih terbatas disamping pasilitas yang juga masih terbatas.

Pengunjung yang datang ke lokasi wisata perkebunan teh Cipasung tidak hanya anak muda namun dari smeua kalangan usia. Mereka datang selain ingin menikmati luasanya hamparan perkebunan teh berada di lembah hingga puncak gunung, juga air yang mengalir deras.

SEORANG warga tengah berjalan menuju puncak perkebunan teh  Blok Culamega, Desa Cipasung, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka. Perkebunan teh peninggalan Belanda ini menjadi sebuah kawasan wisata di Kabupaten Majalengka.*/TATI PURNAWATI

Hal yang menarik juga adalah di kawasan perkebunan teh ini terdapat sejumlah warung nasi khas masyarakat pegunungan serta jajanan lainnya, warung ini berada di lembah dan puncak bukit  perkebunan teh. Sehingga sambil makan pengunjung bisa melihat panorama alam ke arah utara sejauh mata memandang serta bagian selatan ujung perkebunan terdapat hutan lindung nan hijau.

Disebut khas, karena di warung nasi ini menyediakan nasi merah dan putih nan pulen, ikan asin, pepes peda, petai, sambal, lalapan serta oncom cigaleuh. Oncom ini tidak akan ditemukan di daerah lain. Pengunjung bisa juga memesan menu lain seperti liwet, pepes ikan mas, daging ayam dan sebagainya. Juga makanan khas Cipasung seperti kalua jeruk dan cukcur.

Menurut keterangan Camat Lemahsugih, Deden Supriatna serta warga setempat Dudu dan Asep banyak tamu atau pejabat yang datang ke Kecamatan Lemahsugih  yang sengaja di jamu makan di pegunungan teh agar lebih memiliki kesan tersendiri. Karena suasana nyang khas serta diharapkan sepulang dari Lemahsugin bisa memberijkan informasi yang menarik kepada pihak lainnya dan kembali berkunjung ke Lemahsugih.

“Perkebunan teh ini sudah lama dan pengunjungnya lumayan banyak, malah banyak anak sekolah yang sengaja  berkunjung dan menjadikan perkebunan tes sebagai onjek foto. Kami berharap pengunjung bisa lebih banyak lagi,” kata Deden.

Perkebunan teh peninggalan Belanda

Diperoleh informasi perkebunan teh tersebut  Celuas 35 hektare. Kebun teh ini masih terawat baik   oleh PTPN hanya kini pemilik sebenarnya adalah Aceng yang mendapat warisan dari keke buyutnya yang dulu sempat menajdi mandor perkebunan teh.

Di perkebunan teh ini terdapat perumahan pemetik teh dan juga pabrik pengolahan teh dengan pabrik yang lumayan luas. Hasil olahan teh dikirim ke Bandung untuk dieskpor bersama produk teh lainnya.

Menurut budayawan Majalengka Rachmat Iskandar, Culamega merupakan bagian akhir dari sejarah perkebunan Tjarenang di Pegunungan Cakrabuana. Kebun teh ini dirintis oleh keluarga Wilhelm Abraham Baron Baud  asal Belanda pada tahun 1879 dengan nama Maatschappij tot Exploitatie der Ondernemingen Nagelaten dor Mr Baron van Baud.

SEORANG warga tengah berjalan menuju puncak perkebunan teh  Blok Culamega, Desa Cipasung, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka. Perkebunan teh peninggalan Belanda ini menjadi sebuah kawasan wisata di Kabupaten Majalengka.*/TATI PURNAWATI

“Keberadaan perkebunan ngadegkeun 'Maatschappij tot Exploitatie der Ondernemingen Nagelaten dor Mr Baron van Baud' Tjarenang ini kemudian berakhir poada tahun 1944 saat Jepang menguasai seluruh aset Negara termasuk usaha perkebunan,” ucap Rachmat.

Menurutnya, tanaman ngadegkeun 'Maatschappij tot Exploitatie der Ondernemingen Nagelaten dor Mr Baron van Baud' ini kemudian rata dengan tanah pada saat perang kemerdekaan (1945 – 1949) terjadi pembumihangusan semua areal perkebunan téh milik Baron Baud tersebut hingga tak menyisakan satu pohonpun.

Wilhelm Abraham Baron Baud, sebagai salah satu golongan Preanger Planters atau Kelompok Pengusaha Priangan ternyata berhasil mengelola pabrik teh di Tjarénang, Baron Baud mendirikan Maatschappij tot Exploitatie der Ondernemingen Nagelaten dor Mr Baron van Baud.  Seperti tercatat dalam Buku Koloniaal verslag van 1879,  pada saat itun Baron Baud pada awalnya dia menyewa tanah di lereng Gunung Cakrabuana yang bernama Tjarenang   seluas 250  hektar saja.   Yang kemudian terus diperpanjang masa sewanya pada tahun 1883,1884 dan 1905,  arealnyapun kian diperluas sampai mencapai Pasir Boentoe ( Desa Borogojol- Desa Cipasung).

Perkebunan ini kemudian berkembang pesat sampai  pada tahun 1921 sempat membuat sarana transfortasi lintas pegunungan, mulai dari Pasir Cakra sampai ke Panimbunan dan Kiara Jamparing, Untuk mempermudah sarana angkutan hasil bumi yang saat itu selain mengelola  kina, kayumanis  dan karet. Kemudian dibuat juga kereta gantung di Sukanyiru, Ada tiga pimpinan perkebunan yang masih dikenang masyarakat, antara lain , H.J. Coster (1887), G. Hamakers (1915) dan H.J.H Forbes (1937).

Konon kabarnya pemiliknya meninggal dan sebagian kembali ke tanah airnya, perkebunan akhirnya diserahkan kepada mandor dan mandor tersebut adalah kakek dari Aceng yang kini menetap di Tasikmalaya.***

Bagikan: