Pikiran Rakyat
USD Jual 14.373,00 Beli 14.073,00 | Umumnya berawan, 22 ° C

Grand Canyon di Argapura Majalengka, Indah tetapi Belum Aman Dikunjungi

Tati Purnawati
SUASANA grand canyon di Desa Sukadana, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka.*/TATI PURNAWATI
SUASANA grand canyon di Desa Sukadana, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka.*/TATI PURNAWATI

MAJALENGKA,(PR).- Sejumlah warga di Desa Sukadana, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka berharap Pemerintah Kabupaten Majalengka bersedia membuka kembali objek wisata grand canyon. Wisata itu sejak 3 tahun lalu di tutup terkait adanya musibah kecelakaan yang menewaskan sejumlah wisatawan yang terbawa arus.

Maskub salah seorang tokoh masyarakat Desa Sukadana mengungkapkan keberadaan objek wisata Grand Canyon yang menyatu dengan Curug Katumbiri dan Curug Ibun, Leuwi Kancah, Leuwi Taraje dan Leuwi Gulutuk ini sudah membawa dampak keramaian bagi warga setempat. Serta adanya aktiitas anak-anak muda di desa.

Sejumlah anak muda yang tidak sekolah atau anak yang sudah lulus sekolahnya bisa mengelola kawasan wisata tersebut. Seperti halnya anak muda lain yang wilayahnya memiliki kawasan wisata.

“Ketika kawasan wisata tersebut di buka keramaian sudah mulai dirasakan masyarakat setempat, sebagian sudah mempunyai penghasilan tambahan, dari berjualan di lokasi wisata atau dari lahan parkir,” ucap Maskub.

Menurutnya kalau pemerintah tidak membolehkan ada river tubing atau mandi di leuwi karena faktor keselamatan, sebaiknya wisata lainnya tetap dibuka. Seperti halnya menikmati curug ibun dan curug katumburi  karena lokasinya persis di mulut grand canyon.

“Goa Lalay juga yang mungkin indah dan lokasinya beberapa ratus meter dari curug boleh tidak di buka karena jalannya curam serta faktor keselamatan harus terjaga. Hanya sekali lagi kalau ke curug rasanya aman,” kata Maskub.

Siap membuat grand canyon aman dan nyaman

Menurutnya warga setempat bersedia membangun jalan dan sistem keamanan jika pemerintah membolehkan kembali dibuka

Hal yang sama diungkapkan warga lainnya Sambas, jika mungkin pemerintah bisa memberikan arahan bagi para pengelola wisata. Hal apa yang harus disediakan, bagimana sistim keamanan yang baik yang harus dilakukan pengelola bagi wisatawan dan sejumlah pasilitas lainnya yang harus disiapkan agar pengunjung benar-benar aman.

SUASANA grand canyon di Desa Sukadana, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka.*/TATI PURNAWATI

“Kami juga siap membuat tangga yang baik dan aman untuk turun ke sungai lokasi granda canyo juka persolaannya keamanan di jalan. Kamia juga sebenarnya menyediakan sejumlah petugas keamanan menjaga hal yang tidak diinginkan dan ketika melihat cuaca rawan kamipun langsung meminta seluruh pengunjung untuk naik dan tidak membolehkan seorangpun berada di lokasi karena kami tahun beresiko tinggi,” ucap Sambas.

Sementara itu sejumlah lokasi wisata curug dan grand canyon lokasinya masih berada dis atu tempat, terkecuali Goa Lalay. Curug Katumbiri adalah air terjun yang airnya berasal dari Sungai Cirumput yang kemudian dialirkan melalui tebing setinggi kurang lebih tujuh meteran. Air curug dari Sungai Cirumput tersebut bermuara ke Sungai Cilongkrang dan masuk ke sebuah lubuk yang dikenal masyarakat setempat sebagai Leuwi Kancah dari Leuwi Kancah air kemudian mengalir dan membuat air terjun yang dikenal warga Curug Ibun.

Disebut Curug Ibun karena embunnya menyebar kesekeliling lokasi wisata, dan embun menghembus disepanjang sungai Cilongkrang sejauh kurang lebih 20 meteran. Air yang turun cukup deras dari atas tebing setinngi 7 meteran bertarung dengan deburan air dibawahnya kemudian tercipta bak awan tipis yang menutupi gelombang air di bawahnya.

Sungai yang diapit dua tebing batu cadas yang menyerupai relief setinggi lebih dari 30 meteran mengalirkan air deras nan bening meliuk-liuk diantara bebatuan terus turun ke bawah dan lenyap di ujung tebing lainnya. Mataharipun menrobos diujung tebing yang agak gelap sehingga tercipta silhuet keindahan panorama alam yang luar biasa.

Bahaya cuaca dingin dan kabut tebal

Lima meteran dari Curug Katumbiri terdapat grand canyon, dari tebing sungai air keluar dari setiap sela-sela batu malah ada air yang keluar hingga sebesar pipa paralon berukuran 3 inci. Itu ada disebelah selatan dinding sungai dan satu lagi uang berukuran sama posisinya sekitar 20 meteran sebelah utara sungai. Suasana seperti itu tidak akan ditemukan di tempat lain di Majalengka.

Air sungai Cilongkrang ini terasa sangat dingin, malah bila pengunjung berendam selama 10 menitan saja di sungai tersebut. Tepatnya di sekitar grand canyon maka aliran darah yang terendam air akan terasa membeku.

Bila muncul gerimis pengunjung harus hati-hati karena kabut tebal akan muncul, jarak pandangpun sangat pendek,  kurang dari 10 meter. Atau bila hujan deras pengunjung harus segera keluar dari lokasi grand canyon karena khawatir banjir akan datang tanpa diketahui akibat gelap dan kabut tebal.

Ketua Kelompok Pariwisata Maman Rahmana, menyebutkan saat dibuka pengunjung sekitar 200 orang. Hanya di hari libur  lebaran atau tahun baru pengunjung bisa mencapai 1.000 orang. Mereka datang dari berbagai wilayah.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Majalengka mengungkapkan jika ada keinginan untuk dibuka kembali harus dikaji terlebih dulu sisi keamanan dan kenyamanan bagi pengunjung. Kajian melibatkan pihak PSDA karena wisata tersebut adalah wisata air, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah mengkaji sisi keamanan serta Bina Marga dan Dinas Parisisata sendiri. Sehingga bisa memberikan keamanan dan kenyamanan bagi para pengunjung.***

Bagikan: