Pikiran Rakyat
USD Jual 14.311,00 Beli 14.011,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Kawasan Rajamandala, Tujuan Wisata yang Nyaris Terlupakan Zaman

Kodar Solihat
ORANG-orang Belanda yang berwisata ke kawasan Rajamandala, di dekat jembatan Rajamandala (jalur jalan yang lama) di atas Sungai Citarum tahun 1937-1942.*/KITLV UNIVERSITEIT LEIDEN
ORANG-orang Belanda yang berwisata ke kawasan Rajamandala, di dekat jembatan Rajamandala (jalur jalan yang lama) di atas Sungai Citarum tahun 1937-1942.*/KITLV UNIVERSITEIT LEIDEN

SUATU kawasan yang masih hijau lestari yang berujung ke Waduk ­Saguling berada ke arah selatan dari pertigaan Pasar ­Rajamandala, Jalan Raya Bandung-Cianjur. ­Itulah kawasan Rajamandala, jalur Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, yang masih ­menyimpan suasana sejuk, nyaman, dan ­pemandangan indah, walau kadang-kadang terasa gerah, di bagian barat perbatasan ­Bandung-Cianjur.

Di kawasan Rajamandala, diketahui masih ada objek-objek alam yang asri seperti kawasan kehutanan, perkebunan besar, sungai kombinasi gua, sejumlah curug alias air terjun, pemandian air panas, dsb.

Karena suasananya, berjalan-jalan di kawasan Rajamandala membuat sejumlah orang tampak asyik menggunakan sepeda motor melintasi kawasan sejuk tersebut, dengan berujung ke Waduk Saguling, termasuk pada musim liburan akhir tahun 2018 ­hingga awal 2019 ini.  

Zaman sekarang, perjalanan menuju kawasan Rajamandala baik dari arah Bandung maupun arah Cianjur, dikenal sering macet pada kawasan perdagangan di Padalarang, Rajamandala, dan di Ciranjang.

Rute dulu dan kini

Perjalanan menuju ke kawasan Rajamandala menjadi seakan harus ”berjuang” melintasi suhu panas, melintasi kawasan pabrik kapur dan pabrik lainnya, bahkan menjadi ”bete” mengekor truk yang berjalan merayap dengan angkutan padat.

Jalur tempuh ke kawasan Rajamandala, sejak zaman kolonial dan hingga kini sebenarnya dapat diakses langsung karena masih adanya jalur rel kereta api Bandung-Cianjur-Sukabumi, dengan berhenti di halte Rajamandala.

Akan tetapi, semenjak operasionalnya dihentikan beberapa tahun lalu, praktis perjalanan menuju ke kawasan Rajamandala harus melintasi Padalarang atau dari arah barat melalui Ciranjang.

WISATAWAN asal Belanda di areal tanaman karet Perkebunan Rajamandala.*/NATIONAAL MUSEUM VAN WERELDCULTUREN BELANDA

Lokasi halte Rajamandala dengan kawasan perkebunan dan kehutanan di kawasan Rajamandala bagi orang Sunda menyebutnya ”duduluran” dalam suasana indah yang nyaris terlupakan zaman. Sebab, berdasarkan sejumlah catatan arsip dari Koninklijke Bibliotheek Delpher Belanda, pada masa kejayaannya dahulu, orang-orang yang menuju atau berwisata ke kawasan perkebunan dan kehutanan di Rajamandala umumnya lebih suka menggunakan kereta api dengan turun atau pulang di halte Rajamandala, kemudian menggunakan sado melintasi Jalan Raya Bandung-Cianjur ke selatan tempat kawasan Rajamandala berada.

Jika merunut sejarahnya, keberadaan halte Rajamandala pada Januari 2019 nanti akan mencapai 127 tahun. Namun, dari bangunan halte Rajamandala, tampak sudah merupakan bangunan baru model tahun 1980-1990-an, bukan lagi peninggalan zaman kolonial yang diketahui umumnya hanya berbentuk mirip gardu terbuat dari bahan dinding bilik atau kayu.

Surat kabar Java-bode terbitan 23 Desember 1892, memberitakan, pembukaan halte Rajamandala akan dilakukan pada Januari 1893.

Adapun petugas penanggung jawab halte Rajamandala dipercayakan kepada seorang pribumi bernama Moentaham.

Pesona air

Banyaknya curug di kawasan Sungai Citarum, Sanghyang Tikoro, dan Sang­hyang Heuleut pernah menjadi daya tarik tinggi bagi wisatawan Eropa pada zaman kolonial.

Setidaknya, hal itu menjadi bahan tulisan dan kekaguman Karl von Scherzer asal Austria, dalam bu­ku yang ditulisnya Narrative of The Circumnavigation of the Globe by the Austrian Frigate volume 2 terbitan Cambridge University Press, New York, Amerika, terbitan tahun 1862 dan dicetak ulang tahun 2013.

Pada 22 dan 23 Mei 1859, Scherzer berkelana ke kawasan Rajamandala, termasuk ke Sanghyang Tikoro, Curug Baong, dll. Melalui bukunya itu, dunia kemudian mengetahui bahwa di kawasan Rajamandala diketahui terdapat banyak curug.

SANGHYANG Heuleut.*/DOK. PR

Kawasan Rajamandala yang begitu terkenal dengan banyaknya curug di sekitarnya juga dicantumkan pada buku pan­duan wisata berjudul Bandoeng, Mountain City of Netherlands India yang disusun SA Reitsma, diterbitkan G Kolf & Co, Weltevreden, Batavia tahun 1930-an. Kawasan Rajamandala memiliki banyak air terjun, salah satunya yang dikenal adalah Curug Jompong.

Promosi kawasan Rajamandala dan Sungai Citarum, bersama sejumlah ka­wasan wisata alam lainnya di Jawa Barat, saat itu bekerja sama dengan perusahaan kereta api negara Hindia Belanda, Staats Spoorwegen. Untuk ke kawasan Rajamandala de­ngan mengoptimalkan fungsi ­Stasiun Rajamandala di lintas Bandung-Cianjur.

Penelitian dan sejarah

Informasi dari Rijksmuseum van Na­tuurlijke Historie Leiden Belanda dan ­Naturalis Biodiversity Center menyebut­kan, pada tahun 1920 dan 1930-an, ka­wasan hutan dan perkebunan di Rajamandala juga merupakan tempat habitat sejumlah jenis burung langka.

Oleh karena itu, kawasan Rajamandala sering menjadi lokasi penelitian untuk mengamati dan mencatat jenis serta populasi sejumlah jenis burung langka.

Pada masa-masa itu, kawasan Rajamandala juga sudah menjadi objek menarik untuk tujuan penelusuran sejarah.

Oleh karena itu, para wisatawan yang berkunjung ke kawasan Rajamandala selain me­nikmati keindahan alamnya, juga sekaligus dapat menelusuri aspek sejarah yang menarik di daerah itu.

De Preanger Bode terbitan 2 Agustus 1921 memberitakan komunitas sejarah dari Bandung berjalan-jalan ke kawasan Rajamandala dengan tiba di halte Rajamandala untuk wisata sejarah.

Mereka menikmati kebun teh dan karet di Perkebunan Rajamandala, kemudian ke kawasan hutan, lalu menelusuri sejumlah gua yang dianggap bersejarah.

Pada masa-masa itu, komoditas teh dan karet memiliki nilai jual yang bagus dan menjadi produk perdagangan yang sangat laku di pasaran. Tak heran, produk teh dari pabrik menjadi incaran sejumlah pihak untuk dicuri ataupun dirampok.

Diberitakan De Indische Courant terbit­an 15 Desember 1927, kejadian perampokan di halte Rajamandala yang menggondol teh dan karet produksi Perkebunan Rajamandala.

Manajemen Perkebunan Rajamandala menyebutkan, penggarongan teh dan karet di Perkebunan Rajamandala sudah kesepuluh kalinya pada masa itu.***

Bagikan: