Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 20.6 ° C

Ayo Nikmati Indahnya Parahyangan di Garut Intan Carnival 2017

GARUT, (PR).- Garut adalah representasi keindahan Parahyangan. Panoramanya diselimuti pegunungan hijau nan sejuk membuat Garut menyimpan banyak potensi alam yang menakjubkan. Sejak abad ke-20, Garut terkenal dengan sebutan “Switzerland van Java” dan sudah menjadi tujuan wisata para meneer Eropa di Hindia Belanda.

Untuk lebih mengenalkan wisata Garut, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Garut akan menggelar Garut Intan Carnival (GIC) yang dilaksanakan pada tanggal 29-30 September 2017. Ini bertepatan dengan Hari Pariwisata Dunia.

Dukungan pun datang dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Wisata Nusantara Esthy Reko Astuti, yang didampingi Kepala Bidang Wisata Budaya Asdep Pengembangan Segmen Pasar Personal Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar, Wawan Gunawan mengatakan, ini acara yang berkonsep Street Festival” atau “Carnival on the Road”.

”Jadi ajang parade yang dilaksanakan di jalanan, kini mulai marak diselenggarakan di Indonesia. Kita support event ini karena Garut pada usianya yang sudah 2 abad sudah sepatutnya meraih kejayaan serta keberhasilan yang diimpikan oleh seluruh masyarakat Garut,” ujar Esthy.

Dalam karnaval yang mengambil tema “Karnaval Batik Jawa Barat” di Garut (Karnaval de Garut) serta Subtema “Kejayaan Sunda“ ini dilaksanakan dengan maksud tertentu. Tujuannya, memperkenalkan keberagaman busana, bahasa, suku, adat, dan warna-warni budaya. Ini juga bertujuan mempertahankan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) yang telah ditetapkan oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009.

Ajang adu kreatif



“Di karnaval ini ada nilai-nilai kerja bersama, kerja sosial, untuk saling menghargai dan menghormati antarsesama saudara kita yang berbeda suku, agama, budaya, dan bahasa. Di sini ada pendidikan budaya," lanjut Esthy yang diamini Wawan Gunawan.

Wawan menambahkan, gelaran ini diproyeksikan sebagai ajang adu kreatif para perancang busana dan model. Sekaligus merangsang ide-ide inovatif para kawula muda dalam memanfaatkan limbah beragam produk unggulan daerah menjadi produk bernilai seni, bermanfaat, bernilai ekonomi, dan dapat dinikmati masyarakat luas.

"Ada beberapa rangkaian kegiatan seperti Workshop Desain Fashion untuk “Pesona Garut 2017”, Pameran Produk Fashion dan UMKM Lomba Fotografi (Profesional dan Umum) untuk Pesona Garut 2017 dan Karnaval Busana “Pesona Garut 2017," kata pria yang baru saja menunaikan ibadah Haji taun 2017 itu.

Lebih lanjut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Garut Budi Gan Gan Gumilar menyampaikan dalam parade GIC nanti,  diharapkan menjadi helaran wisata unik. Sehingga parade busana berbahan dasar limbah produk unggulan daerah tersebut menjadi event wisata yang dapat mendongkrak tingkat kunjungan wisatawan ke Garut.

"Jadi busana yang dipakai peserta mesti menggunakan bahan dasar limbah produk unggulan Garut, seperti limbah kain batik garutan, kain sutra alam, kulit, bulu domba, bulu ayam, akar wangi, dan sebagainya," ujarnya.

Selain itu, kata Budi Gan Gan, desain busana pada GIC juga diharuskan mewakili gambaran panorama alam Kabupaten Garut. Seperti tentang gunung, sungai, hutan, danau, dan laut. Lebih lanjut Budi Gan Gan mengatakan GIC hanyalah batu loncatan dari upaya mempromosikan potensi wisata Garut dan beragam produk unggulannya. Ajang kreativitas membuat busana berbahan dasar limbah produk tersebut diproyeksikan berkelanjutan.

Ini diharapkan akan menjadi daya tarik wisata, terutama pada saat liburan. "Pengunjung nantinya bisa berfoto selfie bersama model yang busananya unik. Ini juga sekaligus sebagai apresiasi terhadap model, dan designer," tambahnya.

Jember Fashion Carnival



Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi gelaran ini dan berharap GIC bisa mendunia. "Benchmark-nya nggak usah jauh-jauh, Jember Fashion Carnival (JFC). Jember dulunya 'hanyalah' sebuah kota kecil. Siapa sangka, kini Jember dikenal sebagai kota karnaval sekaligus kota fashion. Bukan hanya di Indonesia, kota di Jawa Timur ini bahkan disetarakan dengan Rio de Janeiro sebagai kota karnaval di level dunia," Kata Menpar Arief Yahya

Bagi masyarakat Jember, kegiatan JFC merupakan berkah tersendiri. Saat JFC dihelat setiap tahunnya, ratusan ribu orang datang ke daerah berpenduduk 2,3 juta jiwa itu. Mereka berbondong-bondong datang untuk menyaksikan JFC. JFC digelar rutin di bulan Agustus. Jutaan pasang mata yang merupakan warga lokal dan wisatawan tumpah-ruah menangkap magnet JFC.

Bahkan, ratusan fotografer, baik yang amatir maupun profesional, personal maupun berasal dari media asing dan lokal, saling berebut mencari momentum indah Kota Jember saat JFC. 

"Kini, Pertunjukan karnaval jalanan di Jember pun berubah menjadi pesta rakyat dengan sajian desain-desain fashion yang unik dan detail. Ini perlu dicontoh dan dipelajari. Saat ini GIC sudah punya dasar yang kuat dalam segi fashion dan desainer, atraksinya sudah oke, tinggal keseriusan dan kerjasama semua pihak di Garut untuk membawa GOC mendunia.  Ayo bisa," katanya.***

Bagikan: