Pikiran Rakyat
USD Jual 14.106,00 Beli 13.806,00 | Sebagian berawan, 22 ° C

Menikmati Keroncong masa Kini di Solo Keroncong Festival

KELOMPOK musik Wayang Keroncong tampil di Gedung Sunan Ambu STSI Bandung membuktikan kalau musik keroncong bukan musiknya orang tua dihadapan ratusan penonton.*
KELOMPOK musik Wayang Keroncong tampil di Gedung Sunan Ambu STSI Bandung membuktikan kalau musik keroncong bukan musiknya orang tua dihadapan ratusan penonton.*

SOLO, (PR).- Genre musik keroncong memang tak begitu populer di kalangan anak muda. Beberapa anggapan mengatakan bahwa keroncong sudah ketinggalan zaman. Tapi, Solo Keroncong Festival akan membuktikan bahwa keroncong adalah musik masa kini yang dapat dinikmati siapapun, termasuk kawula muda.

Solo Keroncong Festival akan digelar di Benteng Vastenburg, Solo, 21-22 Juli 2017. Para penonton dijamin akan dibuat takjub. Akan ada banyak penampilan anak muda yang mengemas keroncong dengan cara zaman sekarang.

Di Solo Keroncong Festival, keroncong akan ditampilkan lebih hidup. Para seniman keroncong lokal, nasional, maupun International, akan menyuguhkan banyak warna baru. Karakter anak muda yang dinamis, tegas dan energik, akan disuguhkan ke wisatawan yang datang. Keroncong akan membuat Benteng Vastenburg semakin megah dengan sejarah masa lalu.

Keroncong yang energik



"Event tahunan kali ini mengambil tema Geliat Kaula Muda Wasis Bermain dan Bernyanyi Keroncong. Mengapa anak muda? Karena secara psikologi orang muda itu dinamis, tegas, energik. Kawula muda juga suka hal-hal yang glamor, wah, dan seksi," kata Sis Ismiyati, Kepala Dinas Kebudayaan Solo.

Semua unsur itu sejatinya ada di musik pop, disco, rock, atau jazz. Gambarannya sangat jauh dari keroncong. Kalau penyanyi pop, rock, jazz atau dangdut kerap tampil glamor dan elegan, keroncong justru sebaliknya.

Dari dulu, penyanyinya biasanya mengenakan kebaya atau busana ala ibu-ibu yang datang ke resepsi pernikahan. "Sangat jauh dari tampilan Inul Daratista, Dewi Persik, dan lain-lain. Nah, di festival kali ini, kita bikin nuansa beda. Anak muda kita beri kebebasan berekspresi, sehingga kita ambil tema itu," tambah Sis Ismiyati.

Sis mengharapkan anak muda bisa mengapresiasi keroncong dengan cara zaman sekarang, membuat musik itu lebih hidup. Dengan demikian para anak muda tidak perlu gengsi untuk menikmati dan aktif bermain keroncong.

"Musik keroncong mampu bercerita tentang cinta, tentang pesona Indonesia, tentang kebangsaan," lanjutnya.

Waldjinah ikut tampil



Ketua Penyelenggara Solo Keroncong Festival, Cuk Subagyo, mengatakan dalam festival ini ada sembilan grup keroncong yang akan tampil. Mereka adalah OK Pandawa (Solo), OK Rinonce (Yogyakarta), OK Pempek (Kediri), dan OK Wahyu Tumurun (Solo). Lalu ada OKM Sendratasik Unnes (Semarang), OK Gita Abadi (Tulungagung), OK Ranisinar (Bandung), OK Marlubu (Malang), dan OK SKF 17 (Solo).

"SKF 2017 ini kita fokuskan untuk kawula muda yang ingin mengespresikan keroncong, keroncong variasi, dan lain-lain," kata Cuk Subagyo.

Sementara bintang tamunya ada Waldjinah, Yati Pesek, Sruti Respati, Bambang Heri, Endang Laras, Iin Indriyani dan Singgih Sanjaya. "Sang maestro keroncong Waldjinah hanya akan menyanyikan satu lagu, dengan memilih lagu Tanjung Perak," ujarnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menjelaskan musik termasuk keroncong adalah bagian dari industri kreatif. Bila dikemas baik, bisa menjadi daya tarik pariwisata Indonesia. "Musik mempunyai hubungan erat dengan pariwisata karena sama-sama masuk kategori gelombang keempat sebagai cultural industry atau cratiave industry," kata Arief.

Dia menambahkan, musik keroncong dapat dilestarikan melalui kegiatan pariwisata, sebaliknya pariwisata dapat dipromosikan melalui musik keroncong. "Karena itu menampilkan keroncong dengan sentuhan anak muda itu pasti kombinasi yang seru," ucap Arief Yahya.***

Bagikan: