Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Cerah berawan, 30.6 ° C

Inspirasi Baju Lebaran di Rumah Batik Cipaku Bandung, Destinasi Wisata Belanja

Eva Nuroniatul Fahas

DESTINASI wisata yang berada di antara hunian atau tempat tinggal adalah konsep beda yang ditunjukkan Rumah Batik Cipaku Bandung. Alasannya, untuk mengejar kenyamanan pengunjung selama menjelajahi ragam batik yang hadir di sana.

Di atas lahan seluas lebih dari 1.000 meter persegi ini, didirikan one stop shop untuk batik. Pengunjung dapat memilih kain yang disukai. Jika hendak membuatnya menjadi pakaian, tempat ini juga menyediakan jasa penjahit.

Selain kain-kain batik khas Indonesia, disediakan pula aneka produk dan kerajinan batik lain. Misalnya, aksesori pakaian, tas, alas kaki, hingga ragam hiasan.

Pemiliknya adalah suami istri Yoga M Anugrah dan Lucyawati. Pasangan muda ini punya ketertarikan besar terhadap karya batik Tanah Air. Terutama Lucy, yang sejak kecil besar dalam keluarga yang mengelola perdagangan kain tradisional itu.

Ia menargetkan pengunjung yang datang adalah wisatawan yang menuju arah utara Bandung. ”Setelah puas berwisata di atas, saat turun mereka bisa berbelok dulu ke Cipaku untuk berbelanja,” kata Yoga.

Rumah Batik Cipaku menyediakan kain tradisional itu dengan beragam level. Mulai dari daster rumahan hingga kain-kain premium bahkan yang sudah jadi materi koleksi, bisa ditemukan di sini.

”Kami menjual produk fashion dengan merk Tjiandra. Namun, bagi pengunjung yang ingin menjahit sendiri pakaian batiknya, kami sediakan penjahit dengan mutu unggulan,” tuturnya.

Menurut dia, untuk menjahit kain tradisional itu, ada trik tersendiri jika ingin tampil mengesankan dengan kain tradisional nusantara tersebut. Pola memotong kain tak bisa sembarangan karena harus ada kesesuaian antara coraknya.

Tembus mancanegara



Sejak Februari 2016, Yoga berusaha mengembangkan konsep wisata ini. Hasilnya, permintaan batiknya sudah bisa tembus mancanegara. Beberapa di antaranya Slovakia, Korea Selatan, Amerika Serikat, serta beberapa negara di Asia Tenggara.

Dari pengalaman melayani pesanan dari orang asing, ada kesamaan batik yang disukai masing-masing negara. Misalnya, pesanan dari Slovakia menyukai kain batik etnik dan tulis. Sementara itu, orang Korea Selatan lebih suka batik garutan dengan warna-warnanya yang cerah dan pastel.

”Rata-rata mereka menyenangi batik karena sisi etnik dan keasliannya. Selain memesan pakaian, ada juga yang memang kolektor kain-kain tradisional seperti batik,” kata Yoga.

Beribu corak, kekayaan khazanah negeri



Batik tak hanya selembar kain bercorak yang merupakan salah satu karya warisan leluhur bangsa Indonesia. Dalam selembar kainnya, dapat ditemukan pula kandungan kisah mendalam atau bahkan pakem-pakem yang mendasari dibuatnya amba-tik (menulis titik) di atas kain.

Untuk membuat batik tulis butuh canting yang berisi tinta untuk menggambar corak. Semakin kecil ukuran mulut canting, semakin kecil dan tipis titik atau gambar yang dihasilkan pada kain. Pengerjaan pun bisa jadi semakin sulit.

Terlebih jika selembar kain tersebut diberi isen (isian) yang begitu detail dan penuh. Pengerjaan akan lebih memakan waktu lagi. ”Oleh karena itu, harga batik tulis selalu tinggi karena proses membuatnya pun tak mudah dan tak singkat. Minimal perlu waktu dua bulan untuk selembar kain. Beda dengan batik yang sudah terkena inovasi zaman. Dengan cap atau printing (cetak), pengerjaan bisa lebih cepat. Harganya juga bisa jadi lebih murah,” tutur Lucyawati.

Ia mendapat kain-kain untuk Rumah Batik Cipaku Bandung dari perajin di banyak kota seperti Pekalongan, Solo, Cirebon, dan Garut. Seperti halnya selembar kanvas lukis, selembar kain bercorak batik juga punya arti sendiri.

Motif



Dalam batik dikenal dengan istilah batik pakem (pakeman). Motif batik jenis ini biasanya dicari karena memiliki arti tersendiri. Beberapa di antaranya adalah parang/rereng, sidomukti, pringgodani, wahyu tumurun, semenrono, dan truntum.

Elliza van Zuylen merupakan salah seorang maestro batik nusantara pada awal 1990-an. Wanita Belanda ini tinggal di Pekalongan dan ia menciptakan motif yang khas dan berbeda dari sebelumnya.

Karya Eliza banyak menggambarkan corak buketan seperti bunga, teratai, burung, atau kupu-kupu. Yang menarik, ia tak menggunakan warna pada umumnya yang cenderung sogan, gelap, atau tegas. Ia justru memakai warna pastel dari pewarna kain sintetis untuk menghasilkan karya yang feminin dan penuh isen.

Perbedaan warna saat membatik juga dipengaruhi lokasi pembuatnya. Lucy menjelaskan, bagi pembatik di daerah pesisir, warna-warna yang dihasilkan tegas dan terang seperti merah, kuning, atau biru. Coraknya pun khas daerah pesisir seperti gambar manusia atau hasil laut.

Sebagai contoh, motif angkin dari Cirebon yang menggambarkan akulturasi budaya Indonesia dan Tionghoa. Nuansa oriental sangat kental terutama dari segi delapan pada kain tradisional itu. Warna cerah dan terang yang digunakan menandakan pembuatnya berada di daerah pesisir.

Beda dengan motif yang dibuat di daerah pegunungan seperti Solo. Warnanya cenderung gelap seperti cokelat. Terlebih, warna ini juga jadi ciri khas suasana keraton pada zamannya dan itemukan pada batik mukti kuncoro yang biasa digunakan pada perayaan atau upacara naik jabatan di keraton. Corak ini ditandai de­ngan warna granit hitam seperti langit. ”Meski gelap, warna langit bukanlah hitam, melainkan biru tua pekat,” ucap Lucy.

Ada lagi motif srikaton yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Mengambil nama dari Dewi Padi, Sri, batik ini diharapkan membawa kesejahteraan, panjang umur, dan kesuburan. Tampak bulir-bulir padi kuning dituliskan pada corak ini.

Pengaruh datangnya bangsa Jepang ke Indonesia mendorong munculnya motif hokokai. ”Biasanya motif hokokai dibuat siang-malam, atau antara dua sisi dibuat berbeda. Dinamai demikian karena kain tradisional itu sering memuat gambar bunga hokokai yang khas dengan Jepang,” ujar Lucy.

Tak hanya membuat motif etnik dengan banyak lengkung dan isen, khasanah batik nusantara juga semakin ramai dengan motif banji. Pola ini termasuk pola tertua, berupa silang yang diberi tambahan garis-garis pada ujungnya dengan gaya melingkar ke kanan dan ke kiri.

Motif yang seperti ini terkenal di berbagai kebudayaan kuno di seluruh dunia dan sering disebut swastika. Pola banji termasuk pola geometris dan perlambang murah rejeki atau kebahagiaan yang berlipat ganda.

Lucy mengungkapkan, ada jutaan motif yang sudah diciptakan leluhur bangsa Indonesia. Setiap batik memiliki iktikad yang memuat banyak muatan filosofis.

”Tak heran, orang zaman dulu pakai kain itu hanya untuk bawahan atau atasan. Itu pun berbentuk baju kurung. Dulu ada aturan yang mengatakan tidak boleh memotong (pola) batik. Karena kalau motifnya terpotong atau berubah, maknanya bisa hilang,” katanya.

Meski demikian, pengaruh perkembangan zaman membuat kain tradisional itu bisa dinikmati siapa saja dari seluruh kalangan. Tak sekadar menjadi pakaian atau dikenakan pada waktu khusus, kain tradisional itu tampil menjadi item fashion dengan segala inovasinya.***

Bagikan: