Krisis politik yang melanda Myanmar hingga kini masih berlangsung. Krisis tersebut bermula adanya aksi kudeta yang dilakukan oleh militer terhadap pemerintahan sipil di negara itu. Militer Myanmar menyebut aksi kudeta tersebut dilakukan lantaran terdapat adanya kecurangan dalam hasil Pemilu Myanmar. . Selain melakukan aksi kudeta, militer Myanmar juga melakukan penahanan terhadap pejabat tinggi sipil di negara itu, salah satunya tokoh peraih nobel perdamaian Aung San Suu Kyi. Kudeta tersebut mendapatkan penolakan dari warga sipil Myanmar dalam bentuk aksi unjuk rasa. Namun, aksi unjuk rasa tersebut mendapatkan tindak kekerasan dari pasukan keamanan hingga menimbulkan korban jiwa. . Terbaru, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) mendesak ASEAN melakukan konsolidasi mengakhiri krisis kekerasan di Myanmar. Ketua komisi Hubungan Internasional PB HMI Mahfut Khanafi mengatakan kudeta militer Myanmar menjadi salah satu ujian bagi ASEAN dalam menciptakan kedamaian, keamanan, stabilitas, dan kesejahteraan di kawasan Asia Tenggara. (PR) .