Jumat, 28 Februari 2020

Lebih 83% Perusahaan di Indonesia Gunakan Software Ilegal, Tertinggi di ASEAN

- 25 Oktober 2019, 20:21 WIB
ILUSTRASI software.*/CANVA

BANDUNG, (PR).- Tingkat penggunaan software tidak berlisensi atau ilegal di banyak perusahaan saat ini semakin mengkhawatirkan. Jumlahnya dinilai sudah sangat tinggi dan di luar batas kewajaran. Di Indonesia, ada lebih dari 83% software ilegal yang digunakan.

Hal itu diungkapkan Senior Director BSA The Software Alliance untuk wilayah Asia Pasifik, Tarun Sawney, melalui siaran pers yang diterima "PR", Jumat, 25 Oktober 2019. Menurut dia, penggunaan software ilegal sangat berisiko karena rentan dengan pembobolan data dan berpotensi merugikan secara finansial.

"Kondisi ini sangat riskan karena dapat menimbulkan sejumlah risiko bagi masyarakat, komunitas bisnis, dan keamanan nasional,” kata Sawney.

Jumlah pengguna software ilegal di Indonesia menjadi yang tertunggi di kawasan ASEAN. Berdasarkan hasil survey BSA Global 2018, secara keseluruhan, kawasan ASEAN mengalami kemajuan dalam pengurangan penggunaan software ilegal oleh perusahaan

Singapura, misalnya, telah berhasil menurunkan jumlah perusahaan yang menggunakan software ilegal menjadi 27% dan Malaysia 51%. Sementara, negara Thailand, Vietnam, dan Filipina masih di atas rata-rata penggunaan software ilegal di kawasan Asia Pasifik, tapi sudah berhasil menekan angkanya menjadi 57%.

"Di Indonesia masih lebih dari 83%," tuturnya.

Sawney mengatakan, tidak mudah menekan angka penggunaan software ilegal tersebut. Apalagi, sebagian besar perusahaan menjadikan efisiensi biaya produksi sebagai alasan penggunaan software ilegal.

"Dibutuhkan dukungan pemimpin perusahaan di Indonesia untuk secara serius menghentikan penggunaan software tidak berizin di perusahaan mereka," katanya.

Oleh karena itu, ia menambahkan, BSA menggelar “Clean Up to the Countdown” untuk mendorong pemimpin perusahaan melegalisasikan aset software perusahaannya sebelum akhir tahun ini. Legalisasi tersebut juga untuk mematuhi Undang-Undang Hak Cipta di Indonesia. 

Halaman:

Editor: Vebertina Manihuruk

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X