Selasa, 25 Februari 2020

Buah Simalakama Penggunaan Artificial Intelegence di Dunia Militer

- 26 Agustus 2019, 11:05 WIB
PERUSAHAAN seperti Amazon dan Microsoft tidak menyangkal bahwa mereka sedang mengembangkan senjata berbasis Artificial Intelegence yang sangat kontroversial ini. Senjata itu bisa memutuskan untuk membunuh orang- orang tanpa keterlibatan manusia secara langsung.*/AFP

AMAZON, Microsoft, dan Intel adalah beberapa perusahaan teknologi terkemuka yang menempatkan dunia dalam risiko melalui pengembangan robot pembunuh. Hal itu terungkap dalam laporan yang menyurvei para pemain utama dari sektor ini tentang sikap mereka terhadap senjata otonom yang mematikan.

Lembaga Swadaya Masyarakat Belanda, Pax, memberi peringkat pada 50 perusahaan berdasarkan tiga kriteria, yaitu pengembangan teknologi yang relevan dengan kecerdasan buatan atau yang dikenal dengan Artificial Intellegence (AI) yang mematikan, bekerja di bawah proyek militer terkait, dan berkomitmen untuk tidak berkontribusi di masa depan.

Seperti dilansir AFP pekan lalu, Frank Slipper, penulis utama dari laporan yang diterbitkan minggu lalu mengatakan, mengapa perusahaan seperti Amazon dan Microsoft tidak menyangkal bahwa mereka sedang mengembangkan senjata yang sangat kontroversial ini. Senjata itu bisa memutuskan untuk membunuh orang-orang tanpa keterlibatan manusia secara langsung.

Penggunaan AI untuk memungkinkan sistem senjata memilih dan menyerang sasaran secara otonom telah menjadi perdebatan beberapa tahun terakhir. Kritik-kritik memperingatkan bahwa mereka akan membahayakan keamanan internasional dan menyebarkan revolusi ke tiga dalam peperangan setelah bubuk mesiu dan bom atom.

Sebuah panel pakar pemerintahan memperdebatkan pilihan untuk kebijakan terkait senjata otonom yang mematikan dalam pertemuan PBB terkait Senjata Konvensional di Jenewa. Google, pada tahun lalu menerbitkan prinsip-prinsip panduan yang menjauhkan AI dari penggunaannya untuk senjata.

Akan tetapi, ia termasuk di antara tujuh perusahaan yang ditemukan terlibat dalam “praktik terbaik” dalam analisis yang menjangkau 12 negara seperti Softbank di Jepang yang terkenal dengan robot seperti manusia, Pepper.

Dua puluh dua perusahaan ada dalam “konsentrasi sedang”. Sementara, 21 lainnya ada pada kategori “konsentrasi yang tinggi”, terutama Amazon dan Microsoft.

Keduanya menawarkan kontrak senilai 10 milyar Dolar AS atau sekitar lebih dari Rp 140 triliun untuk Pentagon dalam penyediaan infrastruktur komputasi awan untuk militer AS. Palantir selaku perusahan yang berakar pada organisasi modal usaha yang didukung CIA dianugerahi kontrak senilai 800 juta Dolar AS atau setara dengan lebih dari 11 triliun rupiah untuk mengembangka sistem AI yang bisa membantu para tentara menganalisis zona tempur dengan tepat.

Senjata otonom akan menjadi senjata pemusnah massal yang dapat diskalakan. Hal itu karena jika manusia tidak berada dalam lingkaran, satu orang dapat meluncurkan jutaan bahkan ratusan juta senjata.

Halaman:

Editor: Endah Asih

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X