Senin, 16 Desember 2019

Echo Chamber, Arti dan Bahayanya di Dunia Maya

- 16 April 2019, 16:56 WIB
ECHO chamber/DOK. PR

ECHO chamber adalah ruang tempat kita hanya mendengar apa yang kita teriakkan tanpa mau tahu kondisi nyata. Demikian kira-kira penjelasan sederhananya. Namun, makna dan efek yang ditimbulkannya bisa sangat berbahaya untuk dia yang berteriak.

Bagi penulis buku Nudge: Improving Decisions about Health, Wealth, and Happiness (2008), Cass Sunstein, media sosial bak pisau bermata dua.

Kehadiran media sosial, kata Cass Sustein, dapat mengatasi beberapa hambatan sosial yang disebabkan letak geografis. Artinya, semua orang dapat berkomunikasi dengan siapa saja dan tentang apa saja tanpa terbatas ruang serta waktu. Maka, media sosial berpotensi besar menghadirkan pandangan yang lebih seimbang tentang dunia.

Di sisi lain, Cass Sustein khawatir bahwa media sosial hanya menyedot orang-orang ke dalam kelompok-kelompok yang homogen atau sepandangan tentang suatu hal. Orang-orang akan dijauhkan dari informasi-informasi yang berbeda dengan pandangannya.

Kekhawatiran Cass Sustein disebut dengan echo chamber (ruang gema)–hanya mendengar apa yang diteriakan sendiri.

“Meski jutaan orang menggunakan internet untuk memperluas wawasan mereka, banyak orang melakukan yang sebaliknya. Menciptakan ‘daily me’ yang secara khusus dirancang untuk kepentingan dan prasangka mereka sendiri,” ucap Cass Sustein sebagaimana dilaporkan BBC.

Apa yang dikhawatirkan Cass Sustein soal media sosial pada akhirnya terwujud karena efek algoritma yang diciptakan hampir semua media sosial. Contohnya Instagram yang mengubah algoritma linimasa yang awalnya mengikuti kronologi waktu pengunggahan menjadi peminatan pengguna.

Dalam laporan Techcrunch disebutkan, Product Lead Instagram Julian Gutman mengatakan bahwa salah satu faktor pengubahan algoritma itu adalah untuk menyesuaikan perilaku dan ketertarikan pengguna dengan konten di linimasa.


Halaman:

Editor: Yusuf Wijanarko

Tags

Komentar

Terkini

X