Sabtu, 4 April 2020

Lima Mitos Dampak Buruk Bermain Video Game

- 8 April 2019, 08:09 WIB
ILUSTRASI main game.*/DOK. PR

VIDEO game merupakan salah satu jenis hiburan yang paling sering disalah pahami. Hal tersebut terjadi karena adanya stereotip seorang gamer di dalam masyarakat. Bisanya gamer dikenal sebagai seseorang yang tidak dapat lepas dari layar digital dan cara hidup mereka seringkali tidak sehat. Selain itu, pada level yang lebih tinggi, seorang gamer sering dikategorikan sebagai sosok yang antisosial dan seringkali melakukan kekerasan. 

Berkaitan dengan hal-hal tersebut, The Guardian memiliki sudut pandang lain dalam menanggapi hal ini. Berikut merupakan 5 mitos tentang video game:

1. Video Game Mendorong Tindakan Kekerasan

Seringkali video game menjadi pembahasan utama dalam analisis sosial tentang kaitannya dengan tindak kekerasan. Contohnya seperti Call of Duty atau Fortnite yang diasumsikan dapat membuat pemainnya terdorong untuk melakukan penembakan masal. Akan tetapi, sebuah penelitian terbaru membuktikan bahwa hubungan antara bermain game dan sifat agressif seseorang sangatlah tipis.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Molecular Psychiatry mengukur kadar keagresifan seseorang lewat suatu perbandingan. Para partisipannya diminta untuk bermain game yang mengandung kekerasan (Grand Theft Auto), game yang tidak mengandung kekerasan (The Sims) dan tidak memainkan game sama sekali. Kegiatan tersebut dilakukan selama dua bulan setiap hari. Lewat serangkaian kuesioner untuk menguji agresi, sikap seksis dan kesehatan mental, peneliti menyimpulkan bahwa bermain game kekerasan tidak memiliki efek negatif yang signifikan pada salah satu tindakan tersebut.

Dari sana dapat disimpulkan bahwa video game bukanlah akar dari tindak kekerasan masal karena tidak memiliki dampak yang berarti pada keagresifan seseorang.

loading...

 2. Membuat Kecanduan

Pada tahun 2018, WHO sempat memasukan “kecanduan bermain game” ke dalam catatan diagnostik mereka, International Classification of Diseases, untuk pertama kalinya. Sikap tersebut membuahkan banyak perdebatan dari masyarakat. Sedangkan permasalahannya sendiri adalah, apakah “kelainan” tersebut benar-benar ada?

Dalam perkembangannya sendiri, kriteria untuk kecanduan game ini menggunakan ukuran yang sama untuk mengidentifikasi jenis kecanduan lain. Salah satu contoh dari kriterianya sendiri adalah ketika seorang lebih meilih bermain game dari pada melakukan kegiatan lain. Dari penyataan itu sendiri tidak menunjukan adanya dampak berbahaya bagi orang tersebut.

Kemudian, ada beberapa penelitian yang menyatakan bahwa kecanduan ini tidak berlangusng lama. Data menunjukan paling lama orang akan bertahan setelah enam bulan, selama itu pula tidak ada dari responden yang menunjukan perilaku melewati batas. Akan tetapi hal ini tidak berlaku pada pay-to-win. Sistem penjualan inilah yang harus lebih diwaspadai, karena para pemain harus membayar sejumlah uang untuk dapat bermain.

3. Bermain Game Menjadikan Seseorang Antisosial

Biasanya seorang gamer memiliki stereotip sebagai seorang remaja yang sering mengurung diri di kamarnya. Jika dilihat dari pernyataan tersebut, adalah wajar bahwa perilaku itu tidaklah baik. 

Halaman:

Editor: anef

Tags

Komentar

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X