Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Cerah berawan, 29.9 ° C

Bocornya Pembicaraan BJ Habibie pada Masa Awal Reformasi Lahirkan Alat Antisadap Buatan Bangsa Sendiri

Ida Farida
BJ HAbibie membidikkan kamera sakunya ke arah wartawan saat menunggu kedatangan Presiden Filipina Joseph Estrada di Batam, 13 Oktober 1998.*/ANTARA
BJ HAbibie membidikkan kamera sakunya ke arah wartawan saat menunggu kedatangan Presiden Filipina Joseph Estrada di Batam, 13 Oktober 1998.*/ANTARA

BARANGKALI luput dari ingatan, pada masa awal reformasi tahun 1998, terjadi skandal penyadapan percakapan telefon antara BJ Habibie yangkala itu presiden Indonesia dengan Jaksa Agung Andi M Galib. Kasus itu lantas membukakan mata betapa mudahnya telefon para politisi atau orang-orang tertentu disadap untuk suatu kepentingan.

Kasus yang menghebohkan itu kemudian memunculkan ide agar bangsa Indonesia mengembangkan perangkat antisadap telefon. Permintaan untuk membuat antisadap telefon atau telefon scrambler datang ke Pusat Penelitian Informatika LIPI di Jalan Sangkuriang, Kota Bandung.

Pihak yang meminta agar telefon scrambler dibuat adalah Dinas Penelitiang dan Pengembangan Angkatan Laut dan Lembaga Sandi Negara.

Menurut Kepala Puslit Informatika LIPI kala itu, E Koswara, perangkat antisadap telefon yang sudah ada merupakan produk impor dengan harga mahal. Biasanya, peralatan seperti itu digunakan di kalangan militer. Namun seiring perkembangan zaman, peralatan antisadap telefon digunakan juga di lingkungan pemerintahan atau di dunia bisnis yang ingin menjaga kerahasiaan pembicaraan bisnisnya.

Menjawab kebutuhan itu, Puslit Informatika LIPI bersama Dislitbang AL mulai mengembangkan telefon scrambler pada akhir 2001. Untuk membuat telefon scrambler, para peneliti di LIPI mulai mencari komponen elektronika yang dibutuhkan di dalam negeri.

Perangkat telefon scrambler terdiri atas kotak berukuran 30 cm x 25 cm. Pesawat telefon yang akan “diamankan” dari penyadapan tinggal dihubungkan dengan kotak itu.

Prinsip kerja alat itu, kata Kepala Bidang Komputer Puslit LIPI tahun 2003, Elan Djaelani dan Peneliti Bidang Komputer Puslit LIPI Elli A Gojali, didasarkan kepada pengacakan spektrum frekuensi suara.

Suara yang masuk melalui telefon akan “diolah” di dalam kotak antisadap dengan cara mengacak spektrum frekuensi suara tersebut sehingga penguping tidak akan paham apa yang sedang dibicarakan “korbannya”.

Jika penguping bingung mendengar suara percakapan, tidak demikian halnya dengan kawan bicara resmi. Alat antisadap itu akan menyusun kembali frekuensi suara yang tadi diacak sehingga kembali ke suara asalnya dan kawan bicara akan tetap menerima suara dengan frekuensi yang benar.

Sistem pengacakan frekuensi suara itu menggunakan algoritma yang sulit ditebak penguping. Kalau akhirnya bisa ditebak, menurut Elli, paling tidak butuh waktu cukup lama karena setidaknya ada 32 mode yang diacak oleh prosesornya.

Pesawat telefon yang dipasangi alat antisadap, menurut Ellan, bisa berfungsi dalam dua mode. Yaitu mode biasa, untuk perbincangan tanpa pengacakan (tanpa anti sadap) atau mode scrambler.***

Bagikan: