Pikiran Rakyat
USD Jual 14.032,00 Beli 14.130,00 | Umumnya cerah, 21.2 ° C

Material Ramah Lingkungan Berbahan Jamur

Catur Ratna Wulandari
SALAH satu contoh produk dari bahan bermaterial ramah lingkungan  Mycotech.*/ DOK. MYCOTECH
SALAH satu contoh produk dari bahan bermaterial ramah lingkungan Mycotech.*/ DOK. MYCOTECH

BELAKANGAN semakin banyak orang memilih menjalani green living atau gaya hidup yang memperhatikan kelestarian lingkungan. Tak hanya berharap hidup yang lebih sehat, warga bumi pun ingin keseimbangan alam tetap terjaga. Hidup dengan minim sampah saja tak cukup, sebagian dari mereka ingin lebih bertanggung jawab dengan menggunakan material yang ramah lingkungan.

Mycotech, sebuah startup bioteknologi asal Bandung lewat penelitian yang panjang berhasil membuat material berbahan jamur dan limbah pertanian. Ide ini bermula setelah para pendirinya sukses membut Growbox yang membuat media tanam jamur dengan kemasan yang unik dan menarik.

Mulai 2014 dilakukan penelitian untuk membawa jamur ke level selanjutnya, yaitu menjadi material pilihan yang ramah lingkungan. Penelitian dilakukan di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Serpong, Tangerang. Lalu sempat dikembangkan bersama dengan Future Cities Laboratory National University of Singapore (NUS).

"Kalau material menggunakan kayu, perlu waktu yang lama mulai dari kayu ditanam sampai bisa digunakan. Paling cepat empat atau lima tahun, kalau kayu jati lebih lama lagi," kata COO Mycotech Robbi Zidna Ilman ditemui di Mycotech Eco Factory yang berlokasi di Desa Cipda, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 29 Agustus 2019).

Riset panjang sejak 2014 itupun membuahkan hasil dengan ditemukannya Biobo. Biobo berupa decorative panel yang terbuat dari limbah pertanian dan jamur.

Cara kerjanya tak ubahnya seperti membuat tempe. Bedanya, bukan kedelai yang direkatkan oleh miselium (mycelium) jamur, akan tetapi limbah pertanian. Limbah pertanian yang digunakan ialah yang mengandung selulosa, misalnya serbuk kayu, limbah kelapa sawit, dan ampas tebu.

Limbah pertanian dipilih karena jumlahnya melimpah. Setiap tahun Indonesia menghasilkan 120 juta ton limbah pertanian. Hanya 20 persennya yang bisa dimanfaatkan, antara lain menjadi biomassa dan barang-barang kerajinan.

Proses pembuatan Biobo diawali dengan pembuatan baglog atau media jamur yang sudah dipenuhi dengan miselium. Perlu waktu satu bulan sampai baglog siap dipanen.

Selanjutnya, baglog diproses sehingga bisa dicetak menjadi panel yang siap digunakan. Untuk kebutuhan tertentu, juga dilakukan pelapisan. Proses itu memakan waktu sekitar 14 hari.

"Ibaratnya dari menanam sampai bisa dipakai itu perlu waktu satu setengah bulan. Jauh sekali kalau dibandingkan dengan menggunakan kayu, bisa bertahun-tahun," kata Robbi.

Serbuk limbah pertanian itu memberi warna yang natural dan khas. Serat di limbah itu juga menjadi motif yang unik.

Setiap bulan, Mycotech bisa menghasilkan 6.000 sampai 9.000 baglog. Selain budidaya sendiri, Mycotech juga menggandeng petani jamur di Cisarua.

Biobo cocok untuk digunakan sebagai pelapis dinding, juga material membuat meja atau interior lainnya. Biobo telah melewati uji kekuatan, sehingga kualitasnya terjaga.

Biobo sendiri sudah pernah dicoba untuk dipakai sebagai struktur bangunan. Penelitian bersama dengan Future Cities Laboratory NUS berhasil mengembangkan kolaborasi dengan membuat struktur pertama yang menggunakan jamur yang dinamai Myco Tree. Instalasi berbentuk struktur bercabang yang menyerupai pohon itu dipamerkan di Seoul Biennale of Architecture and Urbanism 2017. Di dalam negeri, pasar Biobo sendiri sudah sampai Batam dan Bali.

Mylea, pengganti kulit

Tidak berhenti di sana, Mycotech terus mengembangkan penelitian untuk menghasilkan produk ramah lingkungan. Produk terbarunya, Mylea. Masih berbahan jamur dan limbah pertanian, Mylea berupa lembaran seperti kulit digunakan sebagai material tekstil yang ramah lingkungan.

Kulit merupakan material yang banyak digemari untuk produk-produk fashion, seperti pakaian, sepatu, dan aksesori. Sayangnya, proses pewarnaan kulit masih belum aman bagi lingkungan. Setelah melewati proses penyempurnaan, Mylea bisa menjadi material yang lebih aman bagi lingkungan.

"Kami menggunakan pewarna alami. Dari kulit kayu, dedaunan, indigo, macam-macam," ujar Robbi. Soal kekuatan, Mylea lebih kuat dibanding kulit imitasi.

Berkolaborasi dengan brand lokal, Mylea sudah pernah dipakai untuk jam tangan, sepatu, sampul buku, dan lain-lain. Kolaborasi antara Mycotech dengan produsen jam tangan Pala Nusantara, yaitu Palamylea berhasil menyabet gelar GDI Best di ajang Good Design Indonesia 2019.

Brand internasional juga tertarik untuk menggunakan Mylea. Salah satunya merk sepatu asal Inggris, Clark, sudah menyatakan minatnya untuk menggunakan Mylea.

Robbi mengatakan, permintaan memang banyak dari luar seperti Amerika dan Eropa. Di sana, warganya menaruh perhatian yang tinggi terhadap green living. Termasuk berusaha agar material barang yang dipakai tak merusak lingkungan. Ini menjadi pasar yang baik bagi produk ramah lingkungan.

Kini Mycotech tengah sibuk memproduksi pesanan yang didapat dari Kickstarter, sebuah crowdfunding platform terkemuka di dunia. Lewat pendanaan bersama ini, Mycotech berhasil mengumpulkan dana lebih dari 26.000 dolar Amerika Serikat. Lewat platform ini pula, produk ramah lingkungan buatan Indonesia tersebar ke berbagai negara. (Catur Ratna Wulandari/”PR”)***

 

Bagikan: