Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 23 ° C

Buah Simalakama Penggunaan Artificial Intelegence di Dunia Militer

Huminca Sinaga
PERUSAHAAN seperti Amazon dan Microsoft tidak menyangkal bahwa mereka sedang mengembangkan senjata berbasis Artificial Intelegence yang sangat kontroversial ini. Senjata itu bisa memutuskan untuk membunuh orang- orang tanpa keterlibatan manusia secara langsung.*/AFP
PERUSAHAAN seperti Amazon dan Microsoft tidak menyangkal bahwa mereka sedang mengembangkan senjata berbasis Artificial Intelegence yang sangat kontroversial ini. Senjata itu bisa memutuskan untuk membunuh orang- orang tanpa keterlibatan manusia secara langsung.*/AFP

AMAZON, Microsoft, dan Intel adalah beberapa perusahaan teknologi terkemuka yang menempatkan dunia dalam risiko melalui pengembangan robot pembunuh. Hal itu terungkap dalam laporan yang menyurvei para pemain utama dari sektor ini tentang sikap mereka terhadap senjata otonom yang mematikan.

Lembaga Swadaya Masyarakat Belanda, Pax, memberi peringkat pada 50 perusahaan berdasarkan tiga kriteria, yaitu pengembangan teknologi yang relevan dengan kecerdasan buatan atau yang dikenal dengan Artificial Intellegence (AI) yang mematikan, bekerja di bawah proyek militer terkait, dan berkomitmen untuk tidak berkontribusi di masa depan.

Seperti dilansir AFP pekan lalu, Frank Slipper, penulis utama dari laporan yang diterbitkan minggu lalu mengatakan, mengapa perusahaan seperti Amazon dan Microsoft tidak menyangkal bahwa mereka sedang mengembangkan senjata yang sangat kontroversial ini. Senjata itu bisa memutuskan untuk membunuh orang-orang tanpa keterlibatan manusia secara langsung.

Penggunaan AI untuk memungkinkan sistem senjata memilih dan menyerang sasaran secara otonom telah menjadi perdebatan beberapa tahun terakhir. Kritik-kritik memperingatkan bahwa mereka akan membahayakan keamanan internasional dan menyebarkan revolusi ke tiga dalam peperangan setelah bubuk mesiu dan bom atom.

Sebuah panel pakar pemerintahan memperdebatkan pilihan untuk kebijakan terkait senjata otonom yang mematikan dalam pertemuan PBB terkait Senjata Konvensional di Jenewa. Google, pada tahun lalu menerbitkan prinsip-prinsip panduan yang menjauhkan AI dari penggunaannya untuk senjata.

Akan tetapi, ia termasuk di antara tujuh perusahaan yang ditemukan terlibat dalam “praktik terbaik” dalam analisis yang menjangkau 12 negara seperti Softbank di Jepang yang terkenal dengan robot seperti manusia, Pepper.

Dua puluh dua perusahaan ada dalam “konsentrasi sedang”. Sementara, 21 lainnya ada pada kategori “konsentrasi yang tinggi”, terutama Amazon dan Microsoft.

Keduanya menawarkan kontrak senilai 10 milyar Dolar AS atau sekitar lebih dari Rp 140 triliun untuk Pentagon dalam penyediaan infrastruktur komputasi awan untuk militer AS. Palantir selaku perusahan yang berakar pada organisasi modal usaha yang didukung CIA dianugerahi kontrak senilai 800 juta Dolar AS atau setara dengan lebih dari 11 triliun rupiah untuk mengembangka sistem AI yang bisa membantu para tentara menganalisis zona tempur dengan tepat.

Senjata otonom akan menjadi senjata pemusnah massal yang dapat diskalakan. Hal itu karena jika manusia tidak berada dalam lingkaran, satu orang dapat meluncurkan jutaan bahkan ratusan juta senjata.

Pernyataan itu dituturkan oleh Stuart Russell, seorang profesor ilmu computer di University of California, Berkeley. Faktanya, senjata otonom akan dikembangkan oleh banyak perusahaan dan dalam rangka kampanye untuk mencegah penyebaran senjata otonom, mereka dapat memainkan peran yang sangat besar.

Polemik

Pengembangan AI untuk keperluan militer telah memicu perdebatan dan protes dalam industrinya. Tahun lalu, Google menolak untuk memperbarui kontrak Pentagon yang disebut dengan Proyek Maven yang menggunakan mesin yang belajar untuk membedakan orang dan objek dalam video drone.

Hal ini juga menghentikan Joint Enterprise Defense Infrastructure (JEDI), kontak komputasi awan yang diinginkan Amazon dan Microsoft.

Laporan itu mencatat karyawan Microsoft juga telah menyuarakan ketidaksetujuan mereka terhadap kontrak tentara AS untuk headset dengan teknologi augmented reality, Hololens untuk “meningkatkan kematian” di medan perang.

Menurut Russell, apapun saat ini merupakan senjata. Termasuk orang- orang yang sedang bekerja pada versi otonom baik untuk tank, pesawat tempur, atau kapal selam.

Harpy Israel merupakan drone otonom yang telah “berkeliaran” di area target dan memilih tempat utuk dihancurkan. Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah kategori dari senjata otonom yang belum ada termasuk mini drone bersenjata seperti yang ada dalam film pendek Slaughterbots pada 2017 lalu.

Dengan jenis senjata seperti itu, manusia bisa mengirimkan jutaan dari mereka dalam wadah atau kargo pesawat, sehingga memiliki kapasitas seperti bom nuklir yang merusak tapi meninggalkan semua bangunan di belakang.

Dengan menggunakan teknologi pengenalan wajah, drone dapat menghapus satu kelompok etnis atau satu jenis kelamin tertentu. Dengan menggunakan informasi di sosial media, mungkin kita juga bisa menghapuskan semua orang dengan pandangan politik.

Uni Eropa pada bulan April menerbitkan pedoman tentang bagaimana perusahaan-perusahaan dan pemerintah harus mengembangkan AI. Hal itu termasuk kebutuhan pengawasan manusia, bekerja untuk kesejahteraan masyarakat dan lingkungan dengan cara yang tidak diskriminatif, dan menghormati privasi.

Russell juga berpendapat bahwa penting untuk mengambil langkah selanjutnya dalam bentuk larangan internasional untuk AI penghancur yang bisa disimpulkan sebagai mesin yang bisa memutuskan untuk membunuh manusia, agar tidak perlu dikembangkan, disebarkan, atau digunakan.***

Bagikan: