Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sebagian berawan, 20.8 ° C

Dilo Hackhaton Festival 2019, Upaya Memacu Produksi Konten Gim Lokal

Ai Rika Rachmawati
DILO Hackhaton Festival 2019 di Bandung Digital Valley, Jalan Gegerkalong Hilir, Bandung, Sabtu 24 Agustus 2019.*/AI RIKA RACHMAWATI/PR
DILO Hackhaton Festival 2019 di Bandung Digital Valley, Jalan Gegerkalong Hilir, Bandung, Sabtu 24 Agustus 2019.*/AI RIKA RACHMAWATI/PR

BANDUNG, (PR).- Sebagian besar pasar gim nasional masih dikuasai kereator dari luar negeri. Padahal, jumlah pengguna dan pasar gim Indonesia sangat besar dan terus bertumbuh setiap tahunnnya.

Hal itu diungkapkan Direktur Digital Business PT Telkom Indonesia, Tbk. Faizal Djoemadi pada acara "DiLo Hackhaton Festival 2019" di Bandung Digital Valley, Jalan Gegerkalong Hilir, Bandung, Sabtu 24 Agustus 2019.

Dia memprediksi, pendapatan kotor industri gim tahun depan akan mencapai 1 juta dolar Amerika Serikat dan akan tumbuh dua kali lipat pada 2025.

"Value chain gim juga cukup besar, mencapai 10 persen sampai dengan 30 persen," tuturnya.

Secara global, industri gim mutakhir memiliki pendapatan kotor senilai 120 juta dolar. Nilainya mencapai 10 kali lipat dibandingkan industri konten sejenis seperti musik dan film.

DILO Hackhaton Festival 2019 di Bandung Digital Valley, Jalan Gegerkalong Hilir, Bandung, Sabtu 24 Agustus 2019.*/AI RIKA RACHMAWATI/PR

Tingginya pertumbuhan industri gim, menurut dia, tidak terlepas dari laju pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia. Selain itu, juga karena terus berkembangnya infrastruktur digital serta bertambah banyaknya smartphone dan gawai yang beredar di Indonesia.

"Gim memang belum bisa lepas dari stigma negatif. Namun, secara bisnis telah menjadi industri yang menguntungkan bagi pemain di industri ini, mulai dari pengembang konten gim, publisher, agregator, payment, hingga distributornya," tuturnya.

Indigo Game Startup Incubation

Faizal yakin generasi muda Indonesia memiliki kemampuan untuk mengembangkan gim yang diminati pasar. Bahkan menurut dia, banyak budaya lokal yang bisa dikembangkan menjadi konten gim.

"Gim lokal bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Hanya, diperlukan stimulus untuk merangsang geliat industri gim lokal," tuturnya.

Untuk itu, menurut Faizal, Telkom merilis program Indigo Game Startup Incubation. Program tersebut merupakan inisiatif lanjutan program yang sudah berjalan, Indigo Creative Nation.

Kegiatan tersebut dilangsungkan di 8 DiLo se-Indonesia yang diikuti 125 tim dari 176 tim peserta dengan total hadiah Rp 300 juta. Khusus di Bandung, ada 15 tim yang ikut serta dalam aktivitas coding program secara spartan tersebut.

Indigo Game Startup Incubation, menurut dia, tidak hanya dikembangkan bagi startup gim, tetapi juga bagi mereka yang tertarik ingin belajar terjun ke industri gim.

"Indigo Game Startup Incubation merupakan sebuah ajakan untuk berkolaborasi mengembangkan industri gim di Indonesia dan bersama-sama tumbuh menjadi ekosistem yang besar. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan jika gim yang dikembangkan dari Gegerkalong dapat mendunia dengan cepat," katanya.

Ia berharap program dan sarana tersebut dapat dimanfaatkan semaksimal mungkun oleh para penggiat gim agar bersama-sama menumbuhkan industri gim lokal dengan konten yang mampu mengungguli konten dari luar negeri. Apalagi, kata eks CEO PT Telin tersebut, saat ini Indonesia tengah mengembangkan ekonomi digital sebagai kekuatan dalam mensejahterakan Indonesia.

"Karenanya, ini menjadi kesempatan besar bagi generasi muda dalam memberikan kontribusi sebesar-besarnya melalui sektor digital," tuturnya.***

Bagikan: