Pikiran Rakyat
USD Jual 14.024,00 Beli 14.122,00 | Sebagian cerah, 24.7 ° C

Jatuh Bangun Startup Bandung

Endah Asih Lestari
ILUSTRASI startup.*/net
ILUSTRASI startup.*/net

TIGA tahun terakhir, kemunculan perusahaan rintisan (startup) kian menjamur. Di era borderless seperti saat ini, regional tentu tak lagi menjadi batasan. Perintisnya tak lagi bicara soal mengembangkan pasar bisnis di dalam negeri, melainkan harus berekspansi hingga ke luar negeri.

Bandung dengan segala kreativitasnya menjadi salah satu yang terdepan melahirkan startup. Geliatnya kian semarak. Hal itu terlihat dari jumlah pertumbuhan startup dari tahun ke tahun.

Grahadea Kusuf, Koordinator Startup Bandung Community yang juga merupakan Founder dan CEO Kuassa, startup yang bergerak di bidang musik, mengatakan bahwa jumlah startup di Bandung dalam beberapa tahun terakhir meningkat pesat. Hanya saja, jumlah startup yang gulung tikar juga terus bertambah.

"Kalau sekarang, jumlah startup yang aktif dari berbagai bidang ada sekitar 200-an," ucap Grahadea, ketika berbincang dengan Pikiran Rakyat, Jumat, 26 Juli 2019.

Dibandingkan Jakarta atau kota-kota lain di dunia, startup di Bandung terbilang unik. Kebanyakan tidak mendapatkan pendanaan besar dari investor, ketika memulai bisnis. Jika diperhatikan, kondisi tersebut juga setali tiga uang dengan scene musik dan industri kreatif di Kota Bandung yang sudah lebih dulu ada.

Di kota besar lain, jumlah startup yang kolaps juga berbanding lurus dengan kecepatan pendirian startup. Banyak perintis yang dengan sangat cepat memutuskan untuk mendirikan bisnis, sehingga cepat pula mengakhiri keberlangsungannya.

"Kalau di Bandung, antara yang kolaps sama yang sustain tentu banyakan yang sustain, karena goals mereka adalah membuat sesuatu yang sustain, yang 10 sampai 20 tahun ke depan masih ada," kata Grahadea, yang juga merupakan personel HMGNC itu.

Adapun bidang yang paling banyak digeluti startup yaitu travel tech, fintech, edutech, dan social tech. "Yang jadi primadona enggak ada sih, karena kalau sudah ada yang general juga orang pasti malas jadiin bisnis," ujarnya.

Berkembang cepat

Yunita Anggraeni, Co-Founder sekaligus Chief Operating Officer (COO) Geekhunter, startup yang bergerak di bidang konsultan rekrutmen untuk mencari IT profesional, berpendapat bahwa kurva pembelajaran anak-anak muda Bandung ketika mendirikan startup tergolong cepat.

Pada dasarnya, anak muda Bandung juga kreatif dan mampu melihat perspektif yang berbeda dari kebanyakan orang. "Tapi, di sisi lain, laidback dan grit-nya juga harus dibenahi sih. Jadi sering kebalap sama daerah atau kota lain," ucap Anggra.

Saat ini, mulai bermunculan startup yang mendapatkan pendanaan series A (di Indonesia, biasanya memiliki nominal belasan miliar rupiah) ke atas di Bandung. Ada pula unicorn yang membuat cabang di Bandung, seperti Bukalapak.

"Banyak juga venture capital atau angel investor yang mulai berdatangan secara rutin dan membuat acara di Bandung," kata Anggra.

Seru dan dinamis

Salah seorang inisiator pendirian startup di Bandung, Muhammad Ajie Santika, berpendapat bahwa traffic startup Bandung saat ini sudah sedemikian seru dan dinamis. Sejalan dengan apa yang disampaikan Grahadea, banyak bermunculan startup baru, dan tidak sedikit pula yang harus gulung tikar.

"Ada sekitar 30 persenan yang tenggelam. Penyebabnya beragam, bisa karena diakuisisi sama timnya atau startup yang lebih besar, founder berganti startup, atau karena ada peluang yang lebih bagus di startup lain," ucap Ajie.

Ajie yang kini menjadi Co Founder sekaligus CMO Feedloop, startup pengembang platform konten pemasaran, menyatakan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi startup lokal yaitu persoalan SDM yang menjadi rebutan dengan banyak kota lain, kesesuaian produk, serta kesesuaian pasar.

Mendunia

Bicara skala, banyak startup Bandung yang bergerak dalam lingkup kecil, namun punya keterikatan loyal, sehingga terus bertahan. Tak sedikit pula yang mendunia.

Salah satunya Octagon Studio, yang bermarkas di kawasan Surya Sumantri, Kota Bandung. Startup yang memiliki spesialisasi di bidang Augmented Reality, Virtual Reality, dan Mixed Reality ini juga pernah membawa pulang trofi Best App dan Rising Star Awards dari Wearable Technology Show (WTS) 2016 yang dihelat di London.

Stella Setyiadi, Chief Marketing Officer (CMO) Octagon Studio menuturkan, perkembangan startup di Bandung dalam beberapa tahun terakhir memang meningkat drastis. Hal itu terlihat dari sisi diferensiasi produk, kreativitas, teknologi, hingga pendanaan.

Dari segi pendanaan, Octagon saat ini masih mengandalkan penjualan produk dan peluang komersial lainnya. Tetapi, bukan berarti mereka tak mampu mendayung investor.

"Saat ini masih bootstrapping, tapi kami open kalau ada investor yang mau bergabung, cuma memang sangat selektif menjatuhkan pilihan," ujarnya.

Sebagai perusahaan berbasis industri kreatif, Stella berpendapat bahwa tantangan terbesar yang dihadapi startup adalah bagaimana caranya agar membuat produk yang tetap dibutuhkan orang di masa mendatang. Bisa dengan selalu melakukan upgrade terhadap produk yang sudah ada, maupun menciptakan produk-produk baru.***

Bagikan: