Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 23.3 ° C

Ini Kualifikasi yang Paling Banyak Diburu Startup

Endah Asih Lestari
Ilustrasi.*/CANVA
Ilustrasi.*/CANVA

SEMAKIN berkembangnya startup di bidang teknologi, artinya semakin banyak pula kebutuhan akan sumber daya manusia, terutama di bidang software engineer atau IT profesional yang berpengalaman. Di Bandung, tantangan itu menjelma menjadi pencarian talent yang sesuai dengan spesifikasi atau kebutuhan masing-masing startup, serta memiliki pengalaman dan keahlian yang mumpuni. 

Yunita Anggraeni, Co-Founder sekaligus Chief Operating Officer (COO) Geekhunter, startup yang bergerak di bidang konsultan rekrutmen untuk mencari IT profesional, mengatakan bahwa untuk memiliki skill yang diinginkan oleh startup tersebut, lulusan Jurusan Informatika yang memiliki kemampuan dasar programming atau coding saja tidak cukup.

Misalnya, jika lulusan tersebut tertarik dengan bahasa pemrograman Android atau iOS, mereka juga perlu dibekali dengan project tambahan seperti pernah membuat aplikasi android hingga pernah mempublikasikannya di Google Play Store. 

"Akan lebih baik ketika mereka pernah magang di suatu startup dan berkontribusi dalam membuat beberapa aplikasi juga saat magang tersebut. Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris pun juga menjadi salah satu kebutuhan utama, " kata Anggra. 

Kualitas sumber daya manusia yang baik, juga menentukan kelangsungan bisnis startup. Apalagi, banyak pula startup yang kini gulung tikar akibat terlibas persaingan.

"Kebanyakan alasan banyak startup gagal adalah ide yang dibuat belum benar-benar menyelesaikan permasalahan yang ada. Juga kurangnya riset yang mendalam terhadap permasalahan maupun market yang mau dituju," ucap Anggra, yang juga diamini oleh salah satu inisiator pendirian startup Bandung, Muhammad Ajie Santika. 

Faktor lainnya adalah kesulitan menghadapi tantangan dalam mengembangkan startup ke skala yang lebih besar, baik dari segi manajemen, pendanaan, SDM, dan operasional. 

"Selain itu, ada gap practical knowledge dan skill antara kampus dengan real business. Banyak skill kurang terasah atau bahkan pelajaran yang diajarkan selama masa perkuliahan outdated dan tidak relevan dengan kebutuhan industri sekarang," tuturnya.***

Bagikan: