Pikiran Rakyat
USD Jual 14.068,00 Beli 13.768,00 | Langit umumnya cerah, 20.1 ° C

Noob Ejekan untuk Pemain Gim yang Payah

Tim Pikiran Rakyat
PENGGEMAR game makin dimanjakan dengan berbagai permainan.*/ANTARA
PENGGEMAR game makin dimanjakan dengan berbagai permainan.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Dalam gim, istilah "noob" merupakan plesetan dari newb yang merupakan singkatan dari newbie atau orang baru yang belum berpengalaman. Namun, seiring berjalannya waktu, istilah "noob" meluas untuk mengejek teman main gim yang bermain payah.

Sebaliknya, istilah "pro," yang merupakan singkatan dari profesional, ditujukan kepada gamers yang jago dalam bermain gim.

Dengan jumlah penduduk 265 juta jiwa, menurut sensus 2018, Indonesia memiliki potensi pasar yang besar dalam berbagai sektor industri, tak terkecuali industri gim.

Berdasarkan data dari Statista tahun 2018, industri gim Indonesia menempati peringkat 17, dengan pendapatan 1,08 miliar dolar AS tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara, serta hanya satu tingkat di bawah India.

Angka tersebut juga naik dari tahun sebelumnya, yakni 882 juta dolar AS, dengan pertumbuhan 20 hingga 25 persen dari tahun ke tahun.

Namun, data dari Asosiasi Game Indonesia (AGI) menunjukkan bahwa pangsa pasar untuk kreator game dalam negeri hanya kurang dari satu persen dari total pendapatan tersebut.

"Potensi pendapatan gim di Indonesia sangat besar, tetapi hanya delapan persen yang masuk ke perusahaan Indonesia, yaitu 0,4 persen, untuk gim karya developer Indoneisa, sementara sisanya, 7,6 persen ke publisher Indonesia yang mempublikasikan gim karya developer asing," ujar Arief Widhiyasa, CEO perusahaan pengembang gim asal Bandung, Agate.

Geliat industri gim di Tanah Air, harusnya dapat dimanfaatkan oleh para "pemain" lokal dalam industri. Tidak menjadi "noob," namun layaknya "pro," mampu menaklukkan pasar dalam negeri, bahkan menguasai pasar global.

Tantangan industri

Arief menyebut investasi menjadi faktor utama yang dapat mendorong industri gim di Indonesia. Dia mengatakan investasi yang dilakukan di Indonesia per tahunnya masih sangat kecil, sekitar Rp30 miliar.

"Dibandingkan dengan Tiongkok, Korea, bahkan Vietnam, masih sangat jauh. Kita masih kalah 25 kali lipat dibandingkan Vietnam," ujar Arief kepada Antara.

Jumlah investasi yang masih sangat kecil tersebut berdampak pada jumlah perusahaan game di Indonesia yang juga masih sedikit.

"Cuma 130 tim, yang jadi perusahaan masih 15, dibandingkan dengan China 25.000 tim, dan di Korea 16.000 tim lebih," kata Arief.

Menurut Arief, jumlah perusahaan yang masih sedikit, akan menyebabkan jumlah sumber daya manusia yang terbatas. Baik karena lapangan pekerjaan yang masih sedikit, ataupun faktor pendidikan. 

Hal senada juga disampaikan ketua Asosiasi Game Indonesia (AGI) Narenda Wicaksono. Dia melihat masih banyak "PR" yang harus dikerjakan untuk mendorong industri gim Tanah Air.

"Pertama, dari sisi talent-nya, pertumbuhan jumlah studio, startup, lebih digenjot lagi. Karena sekarang antara yang muncul sama yang mati jumlahnya mirip. Kedua, harus ada investasi dari yang bisa investasi," ujar Narenda.

Investasi, menurut Narenda dibutuhkan untuk membiayai kegagalan studio -- sebutan perusahaan rintisan di bidang gim. Tidak hanya pada tahapan awal lahirnya studio, investasi juga dibutuhkan dalam tahapan perkembangan bisnis.

Sayangnya, investor yang menyuntikkan dana ke studio masih dapat dihitung dengan jari. Para pemilik modal, menurut Narenda, lebih memilih menanamkan uang mereka di startup. Alasannya, tidak jauh dari regulasi.

Narenda melihat regulasi yang mengatur tata kelola startup lebih jelas dibandingkan gim. Tidak hanya soal penanaman modal, kehadiran gim asing nampaknya belum menjadi perhatian pemerintah.

"Di gim, bukan regulasi yang salah, tapi pasarnya memang masih tanpa batas. Jadi, ibaratnya orang dari luar tidak jelas jualan di Indonesia bisa," kata Narenda.

"Seharusnya kalau pemerintah mau bikin aturan sih sebenarnya tidak susah ya, cuman memang butuh waktu, supaya bisa menguntungkan semua," lanjut dia.

Meski begitu, Narenda mengapresiasi langkah pemerintah dalam memberikan insentif kepada mereka yang menanamkan investasi. Hal ini diharapkan dapat membuka pintu investor kepada studio-studio lokal.***

Bagikan: