Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Umumnya berawan, 28 ° C

Memetakan Citarum Menggunakan Drone

Catur Ratna Wulandari
Sungai Citarum.*/ARIF HIDAYAH/PR
Sungai Citarum.*/ARIF HIDAYAH/PR

UPAYA untuk memperbaiki kualitas kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum memerlukan data akurat. Sungai sepanjang 297 kilometer itu mempunyai karakter beragam dan masalah yang berbeda-beda di setiap segmennya. Solusi tepat harus bersumber pada data yang akurat.

Berangkat dari sana, Geolog Universitas Padjadjaran Cipta Endyana mengembangkan riset pemetaan Citarum menggunakan drone. Pemetaan itu untuk mendapatkan informasi yang lebih detail dari citra satelit.

"Detailing itu kalau pakai pemetaan biasa akan memakan waktu. Pakailah drone sehingga bisa didapat spot-spot unik dengan lebih efisien, lebih murah," tutur Cipta kepada "PR", Sabtu 27 April 2019.

Dengan resolusi yang lebih tinggi, diharapkan citra yang dihasilkan drone ini mempunyai kualitas lebih baik dari citra satelit. Untuk itu perlu dipasang sensor tambahan agar tidak hanya menangkap kondisi morfologi saja, tetapi juga informasi lain seperti suhu, rona, dan lain sebagainya.

"Sensor itu ada tapi mahal, maka itu kami akan join research dengan MIT (Massachussets Institute of Technology)," katanya.

MIT memiliki laboratorium drone sendiri. Mereka mengembangkan sendiri teknologi drone. Bahkan mereka sudah membuat drone dengan solar cell yang memungkinkan waktu terbang yang lebih lama.

"Akhirnya kami membuat lab juga namanya Integraded," ujar Cipta.

Laboratorium yang dikembangkan oleh Center of Citarum Research Unpad (CCR-Unpad) ini membuat pemodelan urban society sekaligus mengembangkan citra drone berkolaborasi dengan MIT.

Citra drone sendiri sudah banyak dikembangkan di Indonesia. Tetapi biasanya hanya untuk Digital Elevatio Model (DEM). Biasanya untuk menyajikan model 3D sebuah kawasan atau lahan. Penggunaan drone bisa memberikan informasi detail yang diperlukan.

Pemetaan daerah rawan bencana

Semula, Cipta membuat riset pemetaan di kawan kampus Unpad di Jatinangor, Sumedang. Riset itu dimaksudkan untuk memetakan daerah rawan bencana, mencari potensi sumber air, dan melihat tingkat korosi bangunan dengan menggunakan thermal infrared.

Untuk mendapatkan gambaran detail dengan citra satelit membutuhkan biaya yang mahal. Kawasan kampus seluas 200 hektare perlu biaya sekitar Rp 45 juta. Drone menjasi solusi yang jauh lebih murah.

Cipta mengatakan, citra drone memang tidak bisa menangkap semua kawasan. Tapi toh yang data yang diperlukan hanya di titik-titik penting saja. "Sementara kalau regionalmua bisa pakai yang free seperti google earth," ujarnya.

Hal yang sama akan diterapkan tahun ini untuk monitoring urban development di Citarum. Ia mencontohkan, pemetaan di hulu sub DAS dengan drone bisa melihat bekas banjir, limbah, mitigasi longsor, dan sebagainya. Dari data itu bisa dilakukan pengendalian banjir di titik mana saja.

"Dengan drone, bisa lebih spesifik, penanganannya pun bisa lebih spesifik," ujarnya.

Ia mengatakan, dengan pemetaan biasa, untuk 1 km saja memerlukan banyak orang. Sehingga perlu biaya besar pula untuk transportasi dan akomodasi. Waktu yang diperlukan juga lebih lama.

"Dengan drone coverage bisa lebih luas dan waktunya lebih cepat," ucap Cipta.

Pengambilan citra dengan satelit juga memerlukan kondisi bersih dari awan. Drone mengatasi hambatan itu karena posisinya di bawah aman. Sehingga gambar yang tak bisa ditangkap satelit karena halangan itu bisa didapat oleh drone.

Kolaborasi dengan empat elemen

Berbagai upaya untuk mengobati Citarum menggunakan prinsip kolaborasi setidaknya dengan empat elemen, akademisi, pemerintah, komunitas, dan industri.

Cipta menjelaskan, saat ini tengah dilakukan penjajakan dengan komunitas pehobi drone. Komunitas drone biasanya tertarik pada menerbangkan dan mengulik drone. Namun tidak tertarik pada pengolahan citranya. "Sementara kami justru butuh citranya. Jadi kerja sama, mereka yang mengambil citranya, kami yang mengolah," tuturnya.

Mengingat komunitas drone berbasis hobi, wacana kolaborasi ini masih perlu pembicaraan lebih lanjut. Utamanya soal operasionalnya. Misalnya saja di lintasan mana saja yang mereka tertarik mengambil citra, lalu juga soal jadwal penerbangan drone itu sendiri. Komunitas sendiri nantinya juga bisa memanfaatkan Lab Integrated untuk mengulik drone lebih jauh.

Kolaborasi antarperguruan tinggi juga akan diperkuat. Utamanya untuk mengatasi keterbatasan dana untuk pengadaan instrumen lainnya. Misalnya untuk keperluan sensor yang lebih murah dan mudah, bisa dikembangkan kolaborasi dengan perguruan tinggi lain yang punya kapasitas bidang tersebut. Misalnya dengan bantuan Institut Teknologi Bandung, Politeknik Manufaktur, dan Telkom University.

Hasil pemetaan dengan drone ini diharapkan bisa menjadi data spasial yang diperlukan untuk riset-riset lainnya. Sehingga peneliti tak perlu lagi melakukan pengambilan data yang sama berulang-ulang. Hasil riset ini bisa juga dimanfaatkan pemerintah juga komunitas yang akan turun ke Citarum.

"Semakin akurat, mereka tidak perlu ke lapangan untuk survei. Bisa langsung implementasi," kata Cipta.

Dengan begitu berbagai cara untuk memulihkan Citarum ini tak lagi sporadis. Apalagi jika target adanya spasial data center bisa terwujud. ***

Bagikan: