Pikiran Rakyat
USD Jual 14.150,00 Beli 13.850,00 | Umumnya berawan, 22.8 ° C

Echo Chamber, Arti dan Bahayanya di Dunia Maya

Okky Ardiansyah
ECHO chamber/DOK. PR
ECHO chamber/DOK. PR

ECHO chamber adalah ruang tempat kita hanya mendengar apa yang kita teriakkan tanpa mau tahu kondisi nyata. Demikian kira-kira penjelasan sederhananya. Namun, makna dan dan efek yang ditimbulkannya bisa sangat berbahaya untuk dia yang berteriak.

Bagi penulis buku Nudge: Improving Decisions about Health, Wealth, and Happiness (2008), Cass Sunstein, media sosial bak pisau bermata dua.

Kehadiran media sosial, kata Cass Sustein, dapat mengatasi beberapa hambatan sosial yang disebabkan letak geografis. Artinya, semua orang dapat berkomunikasi dengan siapa saja dan tentang apa saja tanpa terbatas ruang serta waktu. Maka, media sosial berpotensi besar menghadirkan pandangan yang lebih seimbang tentang dunia.

Di sisi lain, Cass Sustein khawatir bahwa media sosial hanya menyedot orang-orang ke dalam kelompok-kelompok yang homogen atau sepandangan tentang suatu hal. Orang-orang akan dijauhkan dari informasi-informasi yang berbeda dengan pandangannya.

ECHO chamber/MARKETINGLAND

Kekhawatiran Cass Sustein disebut dengan echo chamber (ruang gema)–hanya mendengar apa yang diteriakan sendiri.

“Meski jutaan orang menggunakan internet untuk memperluas wawasan mereka, banyak orang melakukan yang sebaliknya. Menciptakan ‘daily me’ yang secara khusus dirancang untuk kepentingan dan prasangka mereka sendiri,” ucap Cass Sustein sebagaimana dilaporkan BBC.

Echo Chamber dimanjakan algoritma

Apa yang dikhawatirkan Cass Sustein soal media sosial pada akhirnya terwujud karena efek algoritma yang diciptakan hampir semua media sosial. Contohnya Instagram yang mengubah algoritma linimasa yang awalnya mengikuti kronologi waktu pengunggahan menjadi peminatan pengguna.

Dalam laporan Techcrunch disebutkan, Product Lead Instagram Julian Gutman mengatakan bahwa salah satu faktor pengubahan algoritma itu adalah untuk menyesuaikan perilaku dan ketertarikan pengguna dengan konten di linimasa.

Oleh karena itu, foto atau video yang tersaji di linimasa pengguna kerap sesuai dengan pencarian pada masa lalu. Begitulah echo chamber mewujud di jagat maya.

Instagram juga dapat menganalisis kedekatan pengguna dengan pengguna lain yang membagikan foto maupun video di linimasa. Menurut Julian Gutman, interaksi berupa komentar menjadi salah satu indikator Instagram mengukur kedekatan pengguna dengan pengguna lainnya.

Dari dua faktor tersebut, Kita bisa melihat bahwa Instagram menyediakan informasi dan kabar dari pengguna-pengguna yang memiliki kesamaan pandangan maupun minat. Pada saat yang bersamaan, Instagram menjauhkan kita dari pengguna-pengguna yang tak memiliki minat sama.

Peneliti dari University of Ottwa, Elizabeth Dubois mengatakan bahwa media sosial menampung terlalu banyak informasi dan pengguna tak bisa mengonsumsi semua informasi atau kabar dari pengguna lain.

Akan tetapi, Elizabeth Dubois tak memungkiri bahwa ada keganjilan yang bersifat kaku secara intelektual.

Maksud pernyataan Elizabeth Dubois adalah pengguna media sosial hanya akan menerima apa yang ia yakini sebelumnya dan jarang sekali menerima informasi yang berbeda dengan pendapatnya.

Sehingga, pengguna hanya mendefinisikan suatu peristiwa sesuai pendapatnya sendiri dan menolak pendapat lain. Dengan kata lain, orang hanya akan mendengar informasi dan kabar sesuai dengan apa yang disuarakannya seperti berada di ruang gema atau echo chamber.

“Apa yang telah diputuskan oleh platform atau perusahaan adalah yang paling sesuai dengan Anda dan tujuan Anda,” kata Elizabeth Dubois  seperti diberitakan BBC.

Echo chamber dan hasil kontestasi politik

Di ranah politik, echo chamber akan membuat banyak pengguna terkejut. Misalnya, Anda adalah pendukung salah seorang calon presiden. Di media sosial, Anda akan menemukan banyak informasi soal calon peresiden tersebut dan mengonsumsi kabar-kabar dari pengguna yang juga mendukungnya.

Anda akan dijauhkan dari pengguna yang mendukung calon presiden lain. Anda juga akan dijauhkan dari informasi-informasi soal program calon presiden lain di linimasa. Keyakinan bahwa calon presiden yang Anda dukung akan menang lantas membesar. Apa yang Anda suarakan, disuarakan pula oleh orang lain.

Akan tetapi, Anda lupa bahwa hasil kontestasi politik ditentukan terbanyak di TPS, bukan linimasa media sosial. Anda juga akan terkejut -kenapa calon presiden yang jarang Anda dengar dapat menang. Jawabannya, karena Anda hanya mendengar apa yang Anda teriakan dan lupa akan situasi berbeda di sisi lain kehidupan nyata.***

Bagikan: