Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Hujan singkat, 30.4 ° C

Whatsapp Kini Buka Kanal untuk Melaporkan Hoaks

Yusuf Wijanarko
Whatsapp/DOK. PR
Whatsapp/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Whatsapp menggandeng Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) dan lembaga ICT Wacth untuk membuka saluran telefon agar publik bisa melaporkan hoaks temuan mereka menjelang hari pencoblosan Pemilu 2019, 17 April.

"Hal ini dibangun atas komitmen Whatsapp, termasuk upaya kami mengurangi jumlah pesan yang dapat diteruskan hingga maksimal lima kali, yang ternyata dapat mengurangi 25 persen distribusi pesan terusan di Whatsapp." Demikian isi keterangan resmi yang dipublikasikan Whatsapp, Minggu 7 April 2019.

Masyarakat dapat mengirim teks, foto, video, dan audio yang berpotensi berisi misinformasi atau hoaks ke nomor 085574676701.

Whatsapp juga memastikan bahwa pesan itu mendapat perlindungan enkripsi end-to-end yang berlaku di platform tersebut sehingga pesan tidak dapat terlihat bahkan oleh pengelola Whatsapp.

Laporan itu juga akan menjadi arsip data Mafindo mengenai penyebaran hoaks selama periode Pemilu 2019.

Hoaks/CANVA

Presidium Mafindo Harry Sufehmi meminta pengguna Whatsapp melaporkan hoaks ke nomor tersebut agar kabar bohong dapat diidentifikasi dan didata.

"Misinformasi merupakan tantangan yang membutuhkan kerja sama yang kuat untuk menanggulanginya," kata dia.

Selain dengan Mafindo, Whatsapp juga bekerja sama dengan ICT Watch untuk memberikan pelatihan bagi publik mengenai hoaks di 10 Ruang Publik Terpadu Raman Anak (RPTRA) di Jakarta.

Whatsapp berencana bekerja sama dengan komunitas untuk mengembangkan stiker yang bertema penanggulangan hoaks.

Awal 2019, Whatsapp membatasi jumlah meneruskan pesan atau forward menjadi hanya 5 kali untuk satu pesan.

Saat ini, pesan yang diteruskan dilabeli "forwarded" sehingga penerima tahu bahwa pesan tersebut bukan asli ditulis oleh pengirim.

Wakil Direktur Kebijakan Publik dan Komunikasi Whatsapp Victoria Grand, Januari lalu mengatakan bahwa pembatasan pesan itu akan membantu melacak perilaku yang mencurigakan.

Whatsapp tidak dapat membaca isi pesan yang dikirim karena enkripsi end-to-end yang disematkan di sistemnya. Mereka hanya mengizinkan pengirim dan penerima pesan untuk membaca isi pesan tersebut.

Akan tetapi, Whatsapp bisa mendeteksi perilaku berkirim pesan jika terdapat aktivitas yang tidak wajar, misalnya meneruskan pesan ke banyak orang sekaligus.

"Mempersulit orang-orang yang kurang bertanggung jawab untuk meneruskan pesan," kata Victoria Grand.

Berdasarkan data Whatsapp, 90 persen pesan yang dikirim di platform tersebut tergolong pesan pribadi.***

Bagikan: