Pikiran Rakyat
USD Jual 14.635,00 Beli 14.335,00 | Umumnya berawan, 23.4 ° C

Jelang Integrasi 3 Aplikasi, CEO Facebook Prioritaskan Privasi

Huminca Sinaga
ILUSTRASI Facebook.*/Ist
ILUSTRASI Facebook.*/Ist

SAN FRANSISCO, (PR).- Selama 15 tahun, Facebook memaksa miliaran penggunanya untuk membagikan detail pribadi mereka di dunia maya. Semua itu dilakukan untuk membuat dunia lebih terbuka dan terhubung. Namun kini CEO Facebook (FB) Mark Zuckerberg mencanangkan ide untuk bertindak sebaliknya.

“Saat saya memikirkan masa depan internet, Saya percaya platform komunikasi yang bersifat rahasia akan lebih diutamakan dibanding platform terbuka seperti sekarang,” ungkapnya dalam artikel blog terbarunya, seperti dilansir laman The Guardian, Kamis, 7 Maret 2019.

Menurutnya, Facebook dan Instagram merupakan “alun-alun digital”. Akan tetapi, orang-orang juga membutuhkan “ruang keluarga digital”. “Privasi memberikan semua orang kebebasan untuk menjadi diri sendiri dan berhubungan dengan satu sama lain secara alami, itulah alasan kenapa kami membuat jejaring sosial," kata Zuckerberg.

Integrasi

Dilansir The Guardian, pengumuman tersebut berhubungan dengan rencana Zuckerberg untuk mengintegrasikan layanan pengirim pesan tiga aplikasi: WhatsApp, Messenger, dan Instagram.

Layanan pengirim pesan yang terbaru akan mementingkan privasi penggunanya, ungkapnya. Layanan tersebut memiliki fitur yang akan menghapus pesan secara otomatis dalam jangka waktu tertentu.

Namun, sejumlah kritik berdatangan setelah Zuckerberg mencanangkan hal tersebut. Reputasi Facebook sendiri tengah terpuruk setelah isu penyalahgunaan dan pembobolan data hingga kasus ujaran kebencian terjadi selama bertahun-tahun di platform tersebut.

"Saya sangat mendukung privasi pengguna saat berkomunikasi daring. Namun, gerakan ini hanya sebuah taktik untuk menggunakan privasi sebagai kelebihan Facebook dan membuatnya sebagai platform penerima pesan yang menguasai (pasar)," ungkap seorang teknolog dari  Komisi Pedagangan Federal (FTC)Ashkan Soltani via Twitter.

Teknolog tersebut berpandapat bahwa hal ini merupakan suatu upaya untuk membatasi pertukaran data menggunakan aplikasi selain Facebook.

Jonathan Albright, ahli forensik digital dari Tow Center, mengingatkan bahwa peningkatan "keamanan platform" bukan berarti "peningkatan privasi pengguna".

"Privasi sejatinya adalah hak setiap orang untuk mengontrol apa yang dibagikan, dan mengetahui bagaimana hal tersebut dapat diakses," ujarnya seperti yang dikutip oleh The Guardian.

“Tidak ada yang berubah. Pengaksesan data pengguna masih dikontrol oleh Facebook dan sekarang ketentuan layanan tersebut akan digunakan pada semua layanan dan aplikasi bawaan Facebook," katanya. 

Meski begitu, Zuckerberg sendiri setidaknya menyadari bahwa dirinya akan kesulitan dalam meyakinkan para pakar tersebut.

“Saya mengerti kenapa banyak orang yang berpikir bahwa Facebook tidak dapat atau tidak berencana membangun platform yang berfokus pada privasi. Karena sejujurnya saat ini kami tidak memiliki reputasi yang bagus dalam menciptakan layanan yang melindungi privasi (pengguna),” tulisnya.

"Akan tetapi, kami telah menunjukkan kemampuan dalam mengembangkan layanan yang diinginkan setiap orang, termasuk dalam (bertukar) pesan dan cerita pribadi."

Facebook sendiri sejak awal selalu berkutat dalam membatasi jumlah informasi individu yang dapat diakses publik atau pemerintah. Sementara itu, para pakar tersebut justru meminta Facebook untuk membatasi jumlah informasi pengguna yang dikumpulkan dan disimpan oleh platform tersebut.

Rencananya kali ini akan mencegah Facebook dalam mengumpulkan data dari pesan pengguna, namun belum ada rencana untuk mengubah atau membatasi pengumpulan data pengguna dari sektor lainnya. Hal tersebut patut diperhitungkan mengingat penjualan data pengguna kepada pengiklan merupakan model bisnis Facebook.

Dalam artikel blognya, Zuckerberg berkomitmen untuk tidak menyimpan data pengguna di negara yang mempunyai sejarah pelanggaran hak asasi manusia dalam hal privasi atau kebebasan berekspresi, mengingat potensi penyalahgunaan oleh pemerintah.

“Penegakkan prinsip ini mungkin dapat menyebabkan layanan kami diblokir di beberapa negara, atau ditolak masuk ke negara lain dalam waktu dekat. Ini adalah risiko yang akan kami ambil,” tuturnya.****

Bagikan: