Pikiran Rakyat
USD Jual 14.286,00 Beli 13.986,00 | Hujan petir singkat, 22.6 ° C

Fotografi Smartphone semakin Menantang

Eriyanti Nurmala Dewi
DOK. PR INSTITUTE
DOK. PR INSTITUTE

BANDUNG, (PR),- Kamera smartphone yang semakin canggih dengan fasilitas fitur yang ekstra canggih telah banyak memanjakan masyarakat penggunanya. Lebih dari itu, bagi para fotografer era milenial, kamera smartphone canggih ini menjadi alat yang menantang untuk mendapatkan hasil foto yang luar biasa.

Fenomena itulah yang mengemuka pada Workshop Fotografi & Optimalisasi Kamera Smartphone untuk Media Massa yang diselenggarakan PR Institute, Jumat-Sabtu 24-25 Februari 2019. Workshop yang diikuti berbagai profesi  seperti dokter, humas pemerintah dan swasta, serta peserta umum ini berlangsung seru.

Redaktur Foto Pikiran Rakyat Harry Sujana, pada hari pertama lebih mengenalkan kamera sebagai alat dan foto sebagai hasil karya bidikan kamera. Menurutnya, kamera untuk foto jurnalistik rata-rata menggunakan bukaan besar yakni 2.8 tetapi ada juga yang masih menggunakan bukaan 3.5. Kalau bukaannya tidak besar, hasil fotonya akan goyang. 

"Boleh-boleh saja menggunakan bukaan kecil tapi yang namanya wartawan foto sering tiba-tiba harus mengambil gambar dengan bukaan besar sehingga harus selalu siap. Kalau tidak, harus repot-repot lagi mengatur bukaan," katanya.

Dalam foto jurnalistik, kata Kang Harry, unsur manusia dalam foto itu sangat penting agar foto terasa lebih "hidup". "Misalnya saat memotret gedung atau apapun sebagai objek foto, jangan dibiarkan hanya memotret gedung tetapi harus ada unsur manusianya. Kalau tidak, akan terasa ada sesuatu yang kosong," ujarnya.

DOK. PR INSTITUTE

Ihwal penggunaan tele, dipakai untuk memberi lebih penuh pada sebuab foto yang disajikan dalam bentuk lanskap. Tele bukan alat rekayasa karena digunakan memang pada saat dan di tempat yang memang sesuai dengan saat pengambilan gambarnya. 

Hal lain yang sangat penting, lanjut kang Harry, adalah pesan foto. Setiap foto selalu akan menyampaikan pesan-pesan tertentu. Pesan dalam foto tidak serta merta sehingga untuk mengambil foto diperlukan perencanaan tersendiri.

Pada hari kedua, peserta diajak mengenali dan mengoptimalkan kamera smartphone untuk karya foro jurnalistik. Fajar sebagai instruktur mengatakan, kamera smartphone saat ini sudah banyak yang jauh lebih canggih dari kamera biasa. 

Sebuah kamera smartphone sudah sampai pada 4 key atau 4.000 pixel sedangkan kamera biasa belum. Kamera smartphone juga dilengkapi dengan image stabilisizer sehingga hasil foto sangat baik. Ketajaman gambar, warna, dll yang diperlukan, sudah sangat didukung oleh keberadaan fitur canggih kamera smartphone.

"Mungkin dalam lensa saja kamera smartphone tidak lebih baik dari kamera biasa. Sedangkan teknologi yang lainnya jauh lebih canggih dari kamera," ujarnya.

Bagi fotografer, kecanggihan ini menjadi tantangan. Jika dapat paham dan dapat mengoptimalkan semua fitur yang terkait kamera, hasilnya akan jauh lebih bagus dari hasil foto kamera. "Sayangnya umumnya masyarakat merasa dimudahkan sehingga hasilnya standar, coba lebih ngulik, lebih ngoprek, di situlah tantangannya," ujarnya.

Untuk pendampingan kepada peserta, peserta praktik hunting foto langsung di kawasan Jalan Asia Afrika. Momen inilah yang menjadi pengalaman menarik bagi peserta apalagi mereka juga ditantang untuk mempresentasikan karyanya sehingga ada kritik dan apresiasi terhadap karya.***

Bagikan: