Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 29.4 ° C

Perangi Hoaks, Fitur Forward WhatsApp Dibatasi Mulai Hari Ini

Tia Dwitiani Komalasari
ILUSTRASI hoaks di aplikasi WhatsApp.*/Ist
ILUSTRASI hoaks di aplikasi WhatsApp.*/Ist

JAKARTA, (PR).- Fitur forward dalam aplikasi WhatsApp dibatasi terhitung Selasa, 22 Januari 2019. Kebijakan pembatasan forward pesan pada WhatsApp disepakati dalam pertemuan antara Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, dengan Vice President Public Policy and Communication WhatsApp, Victoria Grand, di Kantor Kementrian Komunikasi dan Informatika.

Plt. Kepala Biro Humas dan Kementrian Kominfo Ferdinandus Setu mengatakan, p‎ertemuan Rudiantara dan Victoria Grand membahas langkah nyata untuk mengurangi penyebaran hoaks melalui aplikasi pesan instan WhatsApp. Penyebaran tersebut bisa terjadi sangat cepat dan menjadi viral. 

"‎Upaya pengurangan penyebaran hoaks melalui WhatsApp menjadi perhatian global. World Global Influencer Leader dari empat negara melakukan pembahasan dengan pihak WhatsApp untuk mewujudkan langkah pengurangan penyebaran hoaks. Dalam pembahasan itu, Indonesia diwakili oleh  Menteri Kominfo Rudiantara," kata Ferdinandus.

Dia mengatakan,‎ pe‎mbatasan jumlah forward pesan melalui WhatsApp telah dibahas sejak kuartal ketiga tahun 2018. Adapun beta test fitur itu telah dilakukan sejak dua bulan terakhir.

Menurut Ferdinandus, fitur pembatasan forward pesan melaui WhatsApp akan mulai berlaku efektif pada tanggal 21 Januari 2019 waktu Los Angeles atau tanggal 22 Januari 2019 Pukul 12.00 Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB).  Pembatasan jumlah forward pesan pada aplikasi Whatsapp baru berlaku untuk pengguna OS Android.

Pesan forward dibatasi lima kali

Sedangkan untuk sistem operasi IOS, saat ini sedang dalam proses pengembangan. "Menteri Kominfo Rudiantara mengapresiasi langkah WhatsApp untuk mengurangi penyebaran konten negatif di platform pesan instan itu. Ini diharapkan bisa mengurangi penyebaran hoaks," ujarnya.

Sementara itu Head of Public Affairs Whats App Carl Woog mengatakan, kebijakan ini berlaku bagi pengguna yang sudah memperbaharui aplikasinya. Pesan forward dibatasi menjadi lima kali. 

"Awalnya batasan lima kali pesan ini hanya berlaku di India. Sementara di Indonesia pesan terusan sebelumnya dibatasi 20 kali,” ucapnya.‎ Melansir Kantor Berita Antara, Vice President Public Policy and Communication WhatsApp, Victoria Grand, menyatakan akan menindak tegas pengguna yang kedapatan menggunakan platform tersebut untuk menyebarkan hoaks.

"WhatsApp tidak bisa melihat isi pesan. Jadi yang paling mungkin adalah melihat perilakunya," kata Wakil Direktur Kebijakan Publik dan Komunikasi WhatsApp, Victoria Grand.

ILUSTRASI hoaks di aplikasi WhatsApp.*/Ist

WhatsApp sejak awal dirancang sebagai platform komunikasi pribadi, berbeda dengan Facebook yang diposisikan sebagai jejaring sosial. WhatsApp memang menyediakan grup, jumlah anggotanya saat ini dapat mencapai ratusan orang per grup.

Untuk menjaga keamanan di WhatsApp, mereka menambahkan fitur enkripsi end-to end, berupa sistem pengamanan sehingga hanya pengirim dan penerima pesan yang dapat membaca pesan tersebut.

Penghapusan akun

Enkripsi ini dipasang di WhatsApp agar pesan tidak diretas selama perjalanan dari pengirim ke penerima. WhatsApp tidak dapat melihat pesan-pesan yang berada dalam platform tersebut, namun, mereka dapat mendeteksi perilaku.

Jika WhatsApp mendeteksi perilaku tidak normal dan mengarah pada aktivitas yang negatif, WhatsApp tidak segan untuk menghapus akun tersebut. "Akun yang bersangkutan akan dilarang," kata dia.

Dengan kata lain, nomor yang digunakan untuk akun WhatsApp tersebut tidak dapat lagi digunakan untuk mengakses WhatsApp. Selain memblokir akun, WhatsApp juga memberi label forward pada pesan yang diteruskan, dan membatasi jumlah meneruskan pesan menjadi hanya lima kali.

Sehingga jika terjadi aktivitas yang tidak biasa, pesan tersebut dapat dilacak hingga ke lima pesan sebelumnya. WhatsApp memiliki fitur pelaporan melalui aplikasi, jika mendapat pesan berantai yang bersifat negatif. Pengguna bisa melaporkan akun yang mengirimkan melalui opsi report atau laporkan.

Untuk melaporkan akun yang bermasalah, buka obrolan atau chat lalu ketuk titik tiga di pojok kanan atas dan pilih report untuk melaporkan akun tersebut.

Facebook

Seperti WhatsApp, pihak Facebook juga menyatakan sudah menyiapkan berbagai langkah menjaga kondusivitas pemilihan umum, terkait beredarnya hoaks. "Kami bekerja sangat keras untuk menjaga keamanan Pemilu di Indonesia," kata Direktur Politik Global dan Perpanjangan Pemerintah Facebook, Katie Harbath.

Facebook memperhatikan aktivitas para pengguna platform tersebut dan segera menutupnya jika terbukti akun palsu. Facebook menggunakan mesin berbasis kecerdasan buatan atau AI untuk mendeteksi perilaku tidak wajar sebuah akun.

ILUSTRASI Facebook.*/Ist

Aktivitas yang dianggap tidak wajar antara lain menambahkan ribuan teman setelah membuat sebuah akun, dan aktif mengunggah di banyak grup dalam waktu yang singkat.

"98 persen akun kami hapus bahkan sebelum ada laporan dari pengguna," kata Harbath.

Facebook juga menggunakan machine learning untuk memeriksa tautan yang dibagikan. Jika mereka menemukan informasi yang dibagikan meragukan, Facebook akan mengirimkannya ke pengecek fakta (fact checker).

Setelah terdeteksi informasi palsu, Facebook akan menurunkan sebarannya. Facebook akan memberi notifikasi pada pengguna yang menyebarkan hoaks tersebut, bahwa informasi tersebut tidak benar dan sebaiknya tidak disebarkan.

Ujaran kebencian

Facebook juga bertindak untuk ujaran kebencian (hate speech), mereka bekerja sama dengan badan penyelenggara pemilu di berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk membuat kategori ujaran kebencian sesuai dengan konteks lokal.

ILUSTRASI hoaks di Facebook.*/Ist

Facebook pun menyiapkan kemungkinan intervensi dari luar negeri terhadap pemilu, misalnya, ada pengguna asing yang membuat akun dan mengaku dari Indonesia dan memiliki agenda tertentu. Aktivitas seperti ini dicurigai terjadi saat Pilpres di Amerika Serikat pada 2016 lalu, Rusia dituduh ikut campur dalam pemilu saat itu.

Facebook mengidentifikasi aktivitas tersebut dengan mesin dan tim, termasuk bekerja sama dengan organisasi lokal.***

 

 

Bagikan: