Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 14.187,00 | Sebagian berawan, 20.2 ° C

2019, Tahun 5G dan ­Kebangkitan Smartphone

Asep Budiman
5G/REUTERS
5G/REUTERS

2019 akan menjadi tahun 5G dan ­Qualcomm ingin memastikan itu di garis depan dari semuanya. Saat consumer electronic show (CES) 2019 mulai dibuka pada 8 Januari 2019, ­pembuat cip itu telah mengumumkan bahwa platform Snapdragon X50 akan menjadi jantung dari lebih dari 30 ­smartphone ­berkemampuan 5G tahun ini saja.

Dalam keterang­an persnya, Snapd­ragon 855 adalah platform mobile 5G komersial pertama yang dirancang untuk memungkinkan gelombang asli perangkat mobile 5G komersial dimulai pada awal 2019. Dengan keluarga modem Snapdragon X50 5G dan solusi Qualcomm RFFE (RF Front End), perangkat yang didukung oleh Snapdragon 855 dengan spektrum sub-6 dan mmWave, memungkinkan kecepatan multigigabit dan latensi rendah.

Qualcomm mencatat bahwa sebagian besar dari 30 perangkat tersebut adalah ponsel cerdas dari pabrikan global yang menggunakan Snapdragon 855. ­Dengan kata lain, kita dapat berharap banyak ponsel andalan tahun ini menggunakan Snapdragon 855 yang mendukung 5G.

Sejauh ini, baru Amerika Serikat yang serius mengadopsi teknologi 5G dalam waktu dekat. Pada akhir tahun lalu, AT&T, Verizon, dan T-Mobile semuanya mengonfirmasi bahwa mereka berencana untuk meluncurkan smartphone Samsung 5G pada tahun 2019. 

4G pun masih kurang menjangkau

Langkah serupa dilakukan Sprint yang akan meluncurkan smartphone 5G dari Samsung pada musim panas 2019. Perangkat ini akan mencakup dukungan untuk cakupan 5G dan 4G LTE. Untuk 5G dan LTE, Sprint akan menawarkan dukungan untuk spektrum 2.5 GHz. Juga dukungan untuk 1.9 GHz (Band 25), 800 MHz (Band 26), dan band spektrum LTE lainnya untuk roaming.

Selain Amerika Serikat, sejumlah negara maju lainnya juga sudah mulai melakukan uji coba dalam wilayah terbatas. Namun, untuk negara berkembang seperti Indonesia sepertinya masih harus menunggu lebih lama mengingat teknologi 4G saja belum menjangkau seluruh pengguna smartphone. Bahkan, masih banyak masyarakat yang menggunakan feature phone yang sekadar bisa telefon dan SMS.

Regional Head Smartfren Jawa Barat Edward Bambang menyata­kan, Indonesia kemung­kinan baru menjalankan teknologi 5G tahun 2020. Menurut dia, masih banyak operator yang belum menggunakan 4G secara penuh. 

”Masih banyak yang mem­beratkan 2G dan 3G. Contoh 2G adalah SMS dan voice karena 60% masyarakat Indonesia masih pakai 2G. Operator yang menawarkan 3G juga masih banyak,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 Januari 2019.

Smartfren butuh investasi

Dia menjelaskan, Smartfren paling siap untuk bermigrasi ke 5G karena sudah memiliki teknologi TDD (time division ­duplex) dengan kecepatan agregasi 150 mbps. Teknologi ini jarang digunakan operator lain, padahal itu cikal bakal 5G. 

Menurut Edward, pendapatan operator lain yang terbesar dari teknologi 2G. Jika pemerintah mulai menerapkan teknologi 5G, secara otomatis konsumen harus mengganti telefon pintar yang mendukung 5G.

”Di saat itulah penjualan smartphone akan naik dan semarak lagi. Sekarang tidak bisa karena orang masih banyak yang pertahankan teknologi 3G, begitu juga dengan operatornya,” ucapnya.

Walaupun Smartfren meng­klaim sudah siap bermigrasi ke 5G, Edward menegaskan, pihaknya masih harus menambah investasi lebih besar. Pasalnya, perpindahan dari 4G ke 5G adalah lompatan teknologi yang cukup jauh.

”Lompatan dari 4G ke 5G cukup jauh, maka perlu tambah investasi besar meski kami sudah punya TDD,” ujar Edward. 

Selama dua tahun terakhir, penjualan smartphone secara keseluruhan telah menurun. Pada akhir Februari 2018, sebuah ­laporan muncul untuk pertama kalinya dalam sejarah industri ponsel pintar, penjualan turun dari tahun ke tahun dari 2016 hingga 2017.

Pada kuartal IV 2016, penjualan telefon pintar mencapai sekitar 432 juta unit terjual. Pada kuartal IV 2017 hanya terjual sekitar 408 juta unit atau turun sekitar 5,6%.

Industri global pada tahun 2018 tidak jauh lebih baik. Meskipun ada pertumbuhan kecil dibandingkan dengan 2017, penjualan kemungkinan tidak akan mencapai puncaknya pada 2016.

Bagikan: