Pikiran Rakyat
USD Jual 14.286,00 Beli 13.986,00 | Cerah berawan, 26.9 ° C

Ponsel 5G Akan Bermunculan pada 2019

Siska Nirmala
Teknologi 5G.*/REUTERS
Teknologi 5G.*/REUTERS

JAKARTA, (PR).- Ponsel yang mendukung untuk tersambung ke jaringan 5G diperkirakan akan mulai bermunculan pada 2019. Ini menyambut jaringan yang diperkirakan akan keluar pada akhir tahun 2019.

"Ponsel pintar (yang berjaringan 5G) akan keluar pertengahan 2019," kata Kepala Solusi Jaringan Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal, saat menjelaskan tentang riset Mobility Report kuartal ketiga 2018 di Jakarta, Kamis, 20 Desember 2018, seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Peluncuran gawai yang mendukung jaringan 5G bahkan bisa jadi lebih cepat karena produsen biasanya memamerkan produk termutakhir mereka pada gelaran MWC yang diadakan setiap Februari di Barcelona, Spanyol.

Jaringan 5G dibagi menjadi ultra band, mid band dan low band. Diperkirakan 2019 akan menjadi permulaan kemunculan ponsel generasi 5G dan semakin meningkat pada 2020.

Akhir 2019 diperkirakan akan semakin banyak bermunculan perangkat 5G untuk semua kategori jaringan 5G.

Ericsson Mobility Report memprediksi langganan jaringan 5G akan mencapai 1,5 miliar dan menjangkau lebih dari 40 persen populasi global. Ericsson menggarisbawahi kunci utama peluncuran 5G ini adalah peningkatan kapasitas jaringan, biaya per gigabita dan persyaratan penggunaan baru.

Tingkat adopsi yang besar biasanya didukung ketersediaan perangkat dengan harga yang terjangkau. Sementara itu, total jumlah pelanggan seluler secara global berdasarkan data Ericsson pada kuartal ketiga 2018 mencapai 7,9 miliar, dengan penambahan pelanggan baru sebanyak 120 juta.

Indonesia menyumbang penambahan pelanggan seluler sebesar 13 juta, berada di bawah China (37 juta) dan India (31 juta).

Pada kuartal ketiga 2018, pertumbuhan traffic layanan data mencapai 79 persen dari tahun ke tahun, pertumbuhan yang tertinggi sejak 2013. Di Asia Tenggara dan Oseania, jaringan WCDMA dan HSPA masih dominan, sebanyak 48 persen dari keseluruhan pelanggan data seluler. Ericsson mencatat langganan 4G LTE tumbuh 70 persen selama 2018, mewakili pangsa pasar sebesar 26 persen.

Diperkirakan langganan 4G akan terus tumbuh hingga mencapai 63 persen pada 2024 di Asia Tenggara dan Oseania.

Ilustrasi.*/CANVA

Kenapa harus 5G?

5G dinilai mampu menjawab kebutuhan konsumen akan data yang lebih cepat dan kapasitas yang lebih tinggi.

"Karena jumlah konsumen makin lama makin banyak jumlah pelanggan harus ada terobosan teknologi untuk memenuhi kebutuhan mereka," ujar Senior Manager Business Development Qualcomm Technologies, Dominikus Susanto, dalam workshop media "Snapdragon Academy" di Jakarta, Kamis, 20 Desember 2018, seperti dilaporkan Kantor Berita Antara.

Manfaat teknologi 5G tersebut, menurut Susanto, tidak hanya dapat dirasakan oleh pengguna, namun juga para operator jaringan yang akan mendapat keuntungan dengan menampung lebih banyak pelanggan.

Peningkatan teknologi 5G sesuai dengan tiga fundamental dalam peningkatan konektivitas, yaitu coverage, spectrum dan capacity.

Salah satu hal yang cukup menentukan dari kualitas jaringan adalah wilayah cakupan atau coverage. Susanto menganalogikan wilayah cakupan dengan riak air di mana semakin jauh dari pusat gelombang akan semakin lemah.

Gangguan yang ada dalam wilayah cakupan juga menjadi hal yang menentukan kualitas jaringan. Gangguan yang dimaksud, menurut Susanto, seperti tembok dan gedung.

"Noise atau gangguan tidak bisa dihilangkan, karena bakal banyak jaringan lain yang menggunakan sinyal yang sama. Maka perlu adanya teknologi yang bisa menyaring hal-hal tersebut," kata Susanto.

Beberapa teknologi jaringan baru seperti 4G dan 5G, menurut Susanto, sudah menggunakan teknologi yang bisa menggunakan beberapa penerima dan pengirim sekaligus atau yang disebut multiple-input multiple-output (MiMo).

Selanjutnya, untuk spektrum, Susanto mengatakan hal itu telah diatur oleh pemerintah masing-masing negara, namun spektrum tidak bisa dengan mudah ditambahkan.

Untuk mengatasi hal ini diciptakan teknologi jaringan yang bisa mengisi spektrum frekuensi yang kosong, yakni hadirnya jaringan 5G. "Kita bisa menggunakan frekuensi yang lebih tinggi, lebih tepatnya di atas 24Ghz," ujar Susanto.

Frekuensi ini, menurut Susanto, masih belum digunakan untuk saluran komunikasi, sehingga dapat menciptakan jalur yang baru.

Ilustrasi/CANVA

Jaringan 5G juga memiliki teknologi yang bisa 'menggunakan dua tipe jaringan spectrum yaitu licensed spectrum, seperti jaringan operator, dan unlicensed spectrum, misalnya bluetooth dan Wi-Fi.

"Licensed dan unlicensed gabung sehingga lebih cepat lagi," kata dia.

Terakhir, kapasitas. Susanto menganalogikan hal ini dengan pipa air, saat dikucurkan dalam satu ember akan cepat, namun saat sumber air digunakan oleh beberapa keran secara bersamaan, maka kecepatan akan berkurang.

Susanto mengatakan bahwa teknologi 5G mampu menjawab hal itu dengan membuat kecepatan lebih tinggi, latensi yang lebih rendah dan kapasitas yang lebih besar.

Manfaat teknologi 5G Susanto mengatakan bahwa teknologi 5G dapat digunakan dalam bidang industri, misalnya automasi mesin-mesin di pabrik.

"Atau misalnya penerangan jalan, dengan adanya Internet of Things (IoT) semua terhubung, atau bisa mengetahui lampu jalan daerah mana yang mati yang harus dilakukan penggantian," ujar Susanto.

Contoh lainnya, dia mengatakan adalah meteran listrik. Dengan teknologi 5G petugas tidak lagi melakukan pencatatan secara manual, karena hal itu dapat dilakukan secara otomatis.

"Tidak perlu lagi menggunakan manusia untuk mengecek jumlah pemakaian listrik. Selain itu, 5G sangat memberi peluang untuk industri baru untuk penyedia aplikasi layanan baru akan makin bermunculan," kata Susanto.

Tidak hanya itu, teknologi 5G juga dapat digunakan untuk mobil swakemudi karena latensi yang rendah, juga memperkaya konten hiburan -- tidak hanya terbatas pada video dan foto, namun juga realitas tertambah atau Augmented Reality (AR).***

Bagikan: