Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Hujan singkat, 31.2 ° C

Jangan Lupakan Sejarah

Surat Pembaca
SOEKARNO dan Soeharto/DOK. PR
SOEKARNO dan Soeharto/DOK. PR

EMPAT belas eks anggota Harakah Islam Indonesia, DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia), dan NII (Negara Islam Indonesia) berikrar setia kembali kepada Pancasila, UUD 1945, dan NKRI. Ikrar diucapkan di depan Menkopolhukam, di Jakarta, Selasa, 13 Agustus  2019.

Ikrar, sumpah, dan janji, adalah statement moral seseorang atau sekelompok orang, dalam bentuk lisan maupun tulisan, sebagai manifestasi sikap dan akseptasinya terhadap suatu keyakinan atau ideologi. Sejarah panjang negeri ini mencatat berbagai peristiwa pergolakan segerombolan orang yang ingin membangun dan menegakkan sebuah ideologi, yang bertentangan dengan yang telah disepakati oleh founding fathers, para pendiri Republik ini.

Beberapa waktu lalu, Cyrus Network, sebuah lembaga survei, melakukan jajak pendapat yang dilakukan pada 22-28 Juli 2019, terhadap  1.230 responden di 34 provinsi, tentang sikap dan akseptasi masyarakat Indonesia terhadap ideologi Pancasila. Hasil survei menyebutkan, 70,3 persen masyarakat menyatakan dengan tegas menerima Pancasila sebagai ideologi serta perekat bangsa. Sisanya, 13 persen responden  menyatakan Indonesia harus berlandaskan syariat Islam karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam, dan 4,7 persen responden lainnya menyatakan terang-terangan mendukung khilafah.

Data dan kesimpulan di atas memberi gambaran nyata  adanya potensi  ancaman  terhadap NKRI dan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Jasmerah, jangan lupakan dan tinggalkan sejarah! Demikian pesan Bung Karno. Peringatan yang masih aktual dan up to date dengan kondisi dan situasi saat ini. Kita harus banyak belajar dari sejarah. Catatan panjang pasang-surutnya negeri ini memberi isyarat masih adanya bahaya laten yang potensial mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Menggaungkan kembali pesan dan wanti-wanti Bung Karno, Jasmerah, harus secara konsisten dilakukan agar kita tidak lengah, terlena, dan senantiasa waspada terhadap potensi dan ancaman, yang ingin mengganti, bahkan menghancurkan Pancasila. Pendidikan sejarah menjadi sangat krusial diperkuat kembali agar ”kacang tak lupa pada kulitnya”,  merawat serta menjaga Pancasila sebagai way of life, falsafah, dan ideologi bangsa.

Tidak ada kata terlambat untuk melakukan semua ini. Pastinya, kita tidak ingin bangsa besar ini porak poranda, tercerai-berai karena tidak adanya lagi pengikat, perekat, dan  alat pemersatu. Keberagaman suku, agama, ras, etnis , bahasa , dan budaya, adalah sebuah keniscayaan, yang membuat bangsa ini kuat dan bersatu hingga detik ini. Keberagaman adalah berkah dan anugerah yang harus  kita syukuri,  agar Allah swt, Tuhan Yang Mahaesa, selalu menambah nikmat dan rahmat pada bangsa ini, dari waktu ke waktu,  pada setiap saat dan kesempatan.

Budi Sartono Soetiardjo

Graha Bukit Raya I

Blok F5/19 RT 3 RW 21

Desa Cilame

Kecamatan Ngamprah

Kabupaten Bandung Barat

 

 

 

Bagikan: