Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 28.1 ° C

PT KAI Melanggengkan Kolonialis

Surat Pembaca
ILUSTRASI kereta api.*/DOK.KABAR BANTEN
ILUSTRASI kereta api.*/DOK.KABAR BANTEN

BARU-BARU ini PT KAI baru saja meluncurkan KA Argo Cheribon. Kereta ini merupakan peleburan dari tiga kereta yaitu KA Argo Jati, KA Cirebon Ekspres, dan KA Tegal Bahari. Dengan relasi baru ini trayek khusus Cirebon-Gambir dan sebaliknya akan dilayani oleh satu kereta penumpang saja dengan delapan rit per hari.

Entah apa yang ada dalam pikiran jajaran direksi PT KAI sehingga menamai kereta dengan mencatut nama kota zaman Hindia Belanda. Nama kota tersebut yaitu Cheribon. Cheribon merupakan salah ucap dari orang londo terhadap kota pesisir utara Jawa Barat, Cirebon.

Banyak sekali kota yang salah ucap oleh orang londo ini: Bantam (Banten), Japara (Japara), Sumanap (Sumenep), dan Grisee (Gresik).

Saya tidak mau suuzan pada jajaran direksi PT KAI bahwa mereka mengidap minderwaardigheid atau penyakit inferior sehingga memunculkan kembali unsur nama kolonial untuk nama sebuah produknya. Saya juga tidak hendak berburuk sangka pada mereka bahwa mereka buta sejarah bahwa Cheribon membangkitkan nostalgia penjajahan.

Sesekali mungkin pejabat PT KAI perlu piknik ke Kalkuta, Bombay, dan Madras. Tamasya ketiga kota di India itu bukan untuk menikmati hiruk pikuknya stasiun dan studi banding tentang perkeretaapian. Hal itu mubazir karena saya haqulyakin perkeretaapian Indonesia lebih maju dari perkeretaapian India. Tujuan trip itu untuk mengingatkan bahwa ketiga kota tersebut hanya sejarah. India tak mau lagi mengabadikan nama-nama berbau kolonial Inggris untuk sendi kehidupannya. Oleh karena itu, hari ini kita mengenal ketiga kota di atas dengan Kolkata, Mumbai, dan Chennai.

Para direksi PT KAI mungkin sedang anjangsana ke masa silam. Alih-alih memunculkan kekhasan daerah, PT KAI menghidupkan cadel lidah orang londo. Sebagai bagian dari bangsa yang berdaulat dan bercita-cita menghapuskan penjajahan di atas dunia sebagaimana yang termaktub pada pembukaan UUD 1945, saya tentu tidak setuju nama kereta yang paling sering saya tumpangi diberi nama dari masa kolonial. Mengapa Direksi PT KAI tidak menggunakan kata Cerbon saja untuk nama kereta tersebut? Toh orang Cirebon menyebut identitas dirinya dengan sebutan Wong Cerbon, bukan Cheribon layaknya orang londo.

Dzien Nuen Almisri

Analis Bahasa 

Badan Pengembangan

Bahasa dan Perbukuan

Pusat Pengembangan Strategi

dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK),

Badan Pengembangan Bahasa

dan Perbukuan,

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Jalan Anyar Kompleks IPSC

Desa Sukahari

Kecamatan Citeureup

Kabupaten Bogor

Bagikan: