Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Langit umumnya cerah, 22.8 ° C

Dinanti, Kompensasi Akibat Listrik Mati

Surat Pembaca
PETUGAS PLN memperbaiki gardu listrik saat pemadaman listrik serentak se-Pangandaran di Cikidang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.*/ANTARA
PETUGAS PLN memperbaiki gardu listrik saat pemadaman listrik serentak se-Pangandaran di Cikidang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.*/ANTARA

SUNGGUH  dahsyat dampak padamnya listrik PLN di sebagian wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jakarta, dan Tangerang. Sendi-sendi kehidupan  masyarakat goyah akibat ketiadaan listrik. Industri besar, industri-idustri rumahan, layanan perbankan  berbasis aplikasi, kegiatan rumah tangga, proses belajar-mengajar, dan aktivitas-aktivitas layanan publik lainnya, lumpuh total. Belum dihitung, berapa ratus miliar rupiah kerugian finansial akibat peristiwa ini. Padam mendadak tanpa pemberitahuan membuat semua pihak kalang kabut, sehingga menyebabkan presiden turun tangan, marah, menegur keras kepada seluruh jajaran direksi PLN.

Peristiwa langka yang oleh sebagian kalangan dikategorikan sebagai force majeure ini, membuat kita terhenyak. Listrik berpotensi bisa meruntuhkan perekonomian nasional! Roda kehidupan terhenti untuk beberapa saat akibat padamnya listrik.  Oleh karena itu, keandalan sistem kelistrikan nasional dipertanyakan.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pun angkat bicara, tentang kewajiban PLN  memberi kompensasi kepada semua pelanggan, tanpa terkecuali. Regulasi tentang hal ini konon sudah diatur oleh PLN tentang besaran kompensasi atau ganti ruginya. Namun, satu hal yang tidak diperhitungkan, yakni lenyapnya peluang bisnis, deal-deal bisnis atau transaksi yang tengah dilakukan via komunikasi digital ketika listrik padam.

Di negara-negara maju, kejadian semacam ini tak pelak lagi menurunkan kredibilitas pemerintah di mata masyarakat.

Kompensasi, ganti rugi, atau apa pun istilahnya, sangat wajar diberikan PLN kepada konsumen atau pelanggan-pelanggannya. Ketika kewajiban sudah dijalankan dengan baik oleh pelanggan, menjadi kewajiban perusahaan untuk melakukan hal yang sama.

Blackout listrik PLN pada Minggu, 4 Agustus 2019 lalu, banyak memberi hikmah. Ketergantungan kita pada suplai listrik PLN sudah sedemikian besar. Harus mulai dipikirkan sumber alternatif lain. Salah satunya dengan perangkat pembangkit listrik surya atau matahari (solar cell), selain genset yang selama ini sudah banyak dipakai.

Atas kejadian itu semua, PLN harus berrbenah, menyingsingkan lengan baju, untuk berkarya lebih baik lagi. Semboyan zero accident yang pernah dicanangkan PLN harus benar-benar diimplementasikan dalam pengelolaan industri yang sangat strategis ini. Semoga ke depan, kejadian semacam ini tidak terulang lagi, karena sadar atau tidak, hal tersebut bisa mengancam sistem ketahanan dan keamanan nasional, terutama pada aspek perenomian dan kepercayaan.

Budi Sartono Soetiardjo

Graha Bukit Raya I Blok F5/19

Desa Cilame

Kecamatan Ngamprah

Kabupaten Bandung Barat

Bagikan: