Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 28.1 ° C

Membangun Tripartit Pendidikan Vokasi

Surat Pembaca
ILUSTRASI SMK.*/ANTARA
ILUSTRASI SMK.*/ANTARA

PERNYATAAN Gubernur Jawa Barat pada acara pelantikan Dewan Pendidikan Jawa Barat beberapa waktu lalu, cukup menyentak kita semua. Sekolah Menengah Kejuruan yang digadang-gadang menjadi ujung tombak pencetak tenaga kerja terampil tingkat menengah, akan dibubarkan. Lantaran, lulusan SMK dianggap sebagai kontributor terbesar pengangguran di Jawa Barat.

Sekolah kejuruan, sebagai salah satu mata rantai  sistem ketenagakerjaan, selain  industri dan pemerintah tentunya, pada  saat ini tengah menjadi pusat perhatian masyarakat luas. Booming narasi ”SMK Bisa!”, meredup ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa lulusan SMK ”belum bisa”, belum mampu menghadapi tuntutan  dunia industri, serta lajunya perkembangan teknologi. Revitalisasi yang digulirkan oleh pemerintah belum menyentuh substansi dan makna dari revitalisasi itu sendiri. Ketidakmampuan pendidikan vokasi memenuhi  kemauan maupun tuntutan dunia industri, mengakibatkan sumber daya manusia lulusan sekolah vokasi banyak yang  tidak terserap oleh industri.

Link and match antara sekolah  dengan DU/DI (dunia usaha/dunia industri), belum menyentuh  tuntutan utama dari dunia industri maupun dunia usaha. Yang baru dicapai adalah terbukanya peluang dan kesempatan siswa maupun guru sekolah vokasi untuk magang atau praktik kerja di industri. Karena kurikulum dan silabus sekolah vokasi hanya ditentukan  sepihak, yakni oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,  tanpa peran aktif serta keterlibatan langsung dunia industri, maka yang terjadi adalah kesenjangan. Indikatornya adalah rendahnya tingkat keterserapan lulusan SMK di industri.

Untuk itu, diperlukan sebuah lembaga semacam Dewan Industri, yang bertugas menghimpun berbagai masukan dan rekomendasi  kalangan industri yang terkait dengan ke mana arah pendidikan vokasi dan bagaimana seharusnya model dan pola pendidikan vokasi diselenggarakan.

Ketika sekolah vokasi menjadi terminal bagi seseorang, dan setelahnya ia tidak melanjutkan lagi, maka dunia kerja lah pilihannya. Revitalisasi SMK tanpa peran aktif industri menjadi sesuatu yang bisa diibaratkan dengan peribahasa ”jauh panggang dari api”. Jauh harapan dari kenyataan.

Dewan Pendidikan-Dewan Industri- sekolah, adalah pola tripartit yang seharusnya dibangun dalam upaya memajukan pendidikan vokasi di Jawa Barat pada khususnya, dan di Indonesia pada umumnya. Di era disrupsi sekarang ini, terlebih dengan hadirnya revolusi industri 4.0, tantangan dan masa depan sekolah vokasi semacam SMK semakin berat. Pemerintah tak mungkin sendirian menghadapi ini semua. Peran dunia industri semakin nyata, tak hanya menyediakan lapangan kerja tetapi juga tak kalah penting adalah terlibat secara aktif ikut memformat pendidikan vokasi sesuai dengan kebutuhan industri sendiri serta adanya tuntutan perkembangan teknologi yang  berubah cepat dari waktu ke waktu.

Budi Sartono Soetiardjo

Graha Bukit Raya I

Blok F5/19

Desa Cilame

Kecamatan Ngamprah

Kabupaten Bandung Barat

Bagikan: