Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Cerah, 28.6 ° C

Lebaran, Momen untuk Akhiri Segala Kegaduhan

Surat Pembaca
ILUSTRASI, persatuan.*/ANTARA
ILUSTRASI, persatuan.*/ANTARA

SATU bulan lamanya umat Islam menunaikan ibadah suci Ramadan, bulan penuh berkah, rahmat, dan ampunan. Waktu dan kesempatan untuk merefleksi diri, memperbaiki segala kekurangan, dan menyempurnakannya dengan ibadah dan berbagai amalan kebaikan.  Berpuasa, tidak hanya dalam konteks harfiah, tidak makan- tidak minum. Namun, sebagai upaya dan cara mengendalikan diri dari berbagai hal yang bisa mereduksi, bahkan menghilangkan nilai-nilai ibadah.

Kegaduhan politik pascapilpres dan pileg, sudah saatnya diakhiri. Tidak semakin diperpanjang, apalagi dipelihara. Kembali ke fitrah, mengakhiri segala pertikaian dan permusuhan selama ini, hanya akibat perbedaan pandangan politik dan selera memilih pemimpin.

Adakah kebaikan dan kebajikan masih tersisa dalam diri kita, jika kemurkaan dan kemarahan terus bersemayam dalam lubuk sanubari kita?

Kembali menjadi suci, ibarat bayi yang baru lahir, adalah dambaan kita semua, setelah ibadah puasa Ramadan ditunaikan. Kita sepakat, semua tak ingin sia-sia. Menjalin silaturahmi pascalebaran dalam konteks keikhlasan untuk saling memaafkan, menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilakukan. Silaturahim elite politik mendesak untuk segera dilakukan sebagai cara dan upaya  membuang jauh-jauh murka dan syak wasangka.

Pemilu adalah ritual demokrasi lima tahunan sekali. Adakah yang diuntungkan, karena ini kita jadi terpecah belah, tak ada lagi rasa bersaudara?

Idulfitri 1 Syawal 1440 H, jadikan momen dan hikmat untuk bersatu kembali, menyambung rasa dan karsa yang hilang, merajut persaudaraan dan kerukunan, tanpa membedakan  agama, suku, ras, bahasa, dan golongan.

Kita hanya punya satu rasa, Indonesia. Dan inilah yang harus senantiasa kita jaga, kini hingga nanti.

Budi Sartono Soetiardjo

Graha Bukit Raya I, Blok F5/19 Desa Cilame

Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat

Bagikan: