Pikiran Rakyat
USD Jual 14.425,00 Beli 14.125,00 | Sedikit awan, 24.7 ° C

Pelajaran Berharga dari Kerusuhan 22 Mei bagi Para Orangtua

Surat Pembaca
MASSA berhamburan ketika ditembakan gas air mata saat kerusuhan terjadi di Jalan Jati Baru Raya, Tanah Abang, Jakarta, Rabu, 22 Mei 2019.*/ANTARA
MASSA berhamburan ketika ditembakan gas air mata saat kerusuhan terjadi di Jalan Jati Baru Raya, Tanah Abang, Jakarta, Rabu, 22 Mei 2019.*/ANTARA

KERUSUHAN 22 Mei 2019 di Jakarta, menorehkan noktah hitam bagi proses demokrasi dan pendidikan keluarga di negeri ini. Gubernur DKI Jakarta, Kamis, 23 Mei 2019, menyatakan sejumlah orang telah menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Disebutkan, 8 orang meninggal dan 737 orang lainnya mengalami luka berat maupun ringan. Namun, satu hal penting yang harus digarisbawahi dari peristiwa ini adalah sebagian besar korban adalah kalangan anak-anak muda, yakni 294 orang berusia sekitar 20-29 tahun dan 170 orang lainnya berusia di bawah 19 tahun.

Sebuah catatan serius bagi kalangan orangtua, akan pentingnya pengawasan terhadap anak, terutama yang terkait dengan aktivitas anak-anak di luar rumah. Banyaknya  remaja usia di bawah 19 tahun yang menjadi korban dalam kerusuhan 22 Mei 2019 saat dini hari maupun sesudahnya, menjadi bukti tak terbantahkan bahwa para orangtua kurang peduli, bahkan lalai dalam mengawasi sikap dan perilaku anak di luar rumah.

Orangtua adalah pusat bagi sebuah proses pendidikan. Ancaman terbesar  pendidikan anak adalah  lingkungan pergaulan berikut pengaruh-pengaruh jahatnya, yang sangat sulit dideteksi, diawasi, dan dikendalikan.

Kerusuhan 22 Mei 2019 menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, khususnya para orangtua, agar lebih peduli terhadap segala aktivitas anak. Menganggap anak ”sudah cukup dewasa” adalah kekeliruan besar yang banyak dilakukan oleh para orangtua, terutama yang tinggal di kota-kota besar. Banyaknya anak di bawah umur yang  menjadi korban kerusuhan di Jakarta, bahkan kenakalan-kenakalan lainnya, seperti tawuran dan geng motor, harus dimaknai sebagai kegagalan orangtua dalam mendidik dan membina anak-anak di rumah. Sebuah persepsi yang salah kaprah yang berkembang selama ini menganggap bahwa sekolah adalah segalanya. Menyandarkan tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya di pundak lembaga sekolah adalah sebuah tindakan blunder. 

Berkeliarannya anak-anak di luar pada malam hari hingga dini hari,  mencerminkan rendahnya pengawasan orangtua kepada anak. Kasus kerusuhan 22 Mei 2019 di beberapa tempat di Jakarta, adalah early warning bagi orangtua. Karena dari peristiwa ini terbukti, tidak hanya kalangan remaja yang menjadi korban, tetapi  sebagian juga justru menjadi pelaku kerusuhan.

Budi Sartono Soetiardjo

Graha Bukit Raya I Blok F5/19

Desa Cilame

Kecamatan Ngamprah

Kabupaten Bandung Barat

Bagikan: