Pikiran Rakyat
USD Jual 14.260,00 Beli 14.162,00 | Sebagian cerah, 28 ° C

Kondisi Bandung Utara dan Selatan Ancam Keselamatan Masyarakat dan Lingkungan

Surat Pembaca
KAWASAN Bandung Utara.*/DOK. PR
KAWASAN Bandung Utara.*/DOK. PR

BANJIR bandang yang melanda kawasan Cijambe dan Sukup Baru, Kelurahan Pasirendah, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung, Senin 1 April 2019, mengejutkan kita semua, terutama warga Bandung. Walaupun tidak menimbulkan korban jiwa, meluapnya sungai Cicabolak, memberi isyarat kepada kita semua bahwa potensi ini bisa berulang kembali di waktu-waktu yang akan datang. Tidak hanya bersumber dari sungai ini, tetapi bisa jadi dari sungai-sungai lain yang berhulu di kawasan Bandung utara (KBU).

Rusaknya ekosistem KBU dan sedimentasi-sedimentasi sungai di bawahnya, memacu air bah melaju kencang tanpa kendali, ketika hujan datang dengan intensitas tinggi.

KBU dan KBS (Kawasan Bandung Selatan) dengan sungai Citarumnya, menjadi ancaman keselamatan masyarakat dan lingkungan.

Sebagaimana yang pernah saya tulis di rubrik ini beberapa waktu lalu, KBU sangat membutuhkan kolam/ embung tangkapan air, sebelum air menggelontor ke bawah menuju Kota Bandung.

Di puncak musim penghujan, dapat dipastikan KBU dan KBS bakal sarat dengan curahan air hujan. Air akan menggenangi semua wilayah rendah ketika Citarum tak mampu lagi menampung air, serta tidak dengan cepat membuangnya ke laut.

Upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk menyelamatkan KBS melalui program ”Citarum Harum”, harus diimbangi pula dengan upaya yang sama untuk KBU. Lagu lama yang selalu diputar ulang ketika kita berbicara tentang KBU, dengan program konservasinya, penertiban, dan penegakan aturan terhadap pembangunan-pembangunan hunian tak terkendali di kawasan ini.

Hanya orang bijak dan cerdas yang senantiasa mampu mengambil hikmah atas setiap musibah. KBU dan KBS adalah satu paket ekosistem yang harus simultan dijaga dan dipelihara.

Banjir, tanah longsor, berikut korban-korbannya, adalah paket turunan yang bersifat reciprocal terhadap paket ekosistem. Dana atau anggaran triliunan rupiah yang telah digelontorkan untuk menyelamatkan Sungai Citarum, kurang berdampak signifikan apabila kawasan di atasnya juga tidak dikelola dengan maksimal.

Eskalasi ancaman kerusakan lingkungan dari tahun ke tahun dipastikan meningkat karena faktor manusia yang abai dan kurang menjaga lingkungan. Inilah PR kita yang tak sekadar disikapi seadanya, serta hanya dianggap sebagai murni musibah dan teguran dari Tuhan Yang Mahakuasa.

 

Budi Sartono

Graha Bukit Raya I F5/19

Cilame, Ngamprah

Kabupaten Bandung Barat

Bagikan: