Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sebagian berawan, 21.6 ° C

Produktifkan Lahan Tidur untuk Kesejahteraan Masyarakat

Surat Pembaca
ILUSTRASI lahan tidur
ILUSTRASI lahan tidur

SUDAH sejak lama saya memperhatikan banyak sekali  ”lahan tidur” dimiliki perorangan dan merasa prihatin. Makanya begitu muncul berita di HU Pikiran Rakyat,  Jumat 15 Maret kemarin, saya tertarik untuk nimbrung. Ternyata pemerintah setingkat Kabupaten Bandung juga memiliki lahan tidur.

Sangat disayangkan, rupaya karena terlalu sibuk mengurus berbagai permasalahan, lahan sebegitu luas dibiarkan tidak produktif. Untuk ukuran Jawa Barat yang padat penduduk lahan puluhan hektare adalah sangat berarti. Berbeda dengan lahan HGU punya Bapak Prabowo 220 ribu hektare di Kalimantan adalah kurang berarti.

Di Jawa Barat, saya perhatikan, karena orang-orang berduit memilih investasi ke lahan, banyak aksi memborong tanah lalu dibiarkan telantar tidak produktif. Padahal, sebelum lahan tersebut milik  petani yang mengandalkan nafkahnya dari sana, baik berupa sawah atau kebun, para  petani bisa saja banting stir, alih  profesi, menjadi pedagang atau yang muda kerja di pabrik, untuk menyambung hidup. Akan tetapi, dengan banyaknya lahan tidur, berarti mengurangi produksi pangan kita. Sementara jumlah mulut semakin bertambah.

Hampir di setiap desa ada lahan tidur. Sementara banyak pula penduduk yang menganggur, dalam arti tidak memiliki penghasilan tetap  dan pemerintah terus berupaya memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang terus bertambah dengan impor, mulai dari jagung, beras, daging, kedelai, sampai dengan terigu dalam jumlah metrik ton. Makanya terjadi defisit perdagangan, dan bisa jadi nanti terjadi rawan pangan.

Alangkah baiknya lahan tidur di KBU tersebut diolah menjadi lahan produktif, untuk komoditi yang sangat dibutuhkan warga Indonesia. Ditanami jagung misalnya, komoditi ini ribuan ton masih diimpor untuk pakan ternak atau jagung manis sangat disukai oleh wisatawan di Lembang. Komoditi lainnya misalnya singkong. Berbagai olahan singkong sudah kita kenal, seperti singkong keju, keripik singkong, dan kerupuk udang, yang mulai banyak permintaan  ekspor.  Komoditi kopi dan teh yang sedang giat ditawarkan oleh Gubernur Jabar  ke Timur Tengah, bisa saja. Cuma keuntungannya hanya dinikmati oleh perusahaan, kurang mengangkat kesejahteraan warga sekitar.

Jika lahan tidur di KBU diolah jadi lahan produktif, mungkin menjadi pilot proyek untuk lahan-lahan tidur lainnya yang banyak bertebaran di hampir setiap desa di Jabar. Tinggal disusun  visi dan misinya bagaimana. Yang penting, kebutuhan pangan tercukupi. Tidak perlu impor dan kesejahteraan warga terangkat. 

Dadang  Sunaryo

Kampung Krajan RT 6 RW 2

Maracang, Babakan Cikao

Kabupaten Purwakarta

 

 

 

 

 

 

Bagikan: