Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 28.7 ° C

Berebut Emas di Negeri Kaya Emas

YO yo ayo... Yo ayo yo yo ayo...

Yo ayo yo yo ayo..

Kita datang kita raih kita menang.

Kalau menang berprestasi, kalau kalah jangan frustasi.

Kalah menang solidaritas, kita galang sportivitas.

Siapa yang tidak tahu penggalan lagu Asian Games 2018 yang dibawakan oleh salah satu penyanyi dangdut yang tengah naik daun.

Masyarakat Indonesia memang sedang semarak menyambut perhelatan akbar Asian Games 2018 yang telah resmi dibuka pada tanggal 18 Agustus 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta. Seluruh kalangan hadir di kemeriahan acara tersebut, mulai dari presiden, pejabat negara, artis-artis, dan para atlet negeri. Acara yang berhiaskan panggung megah dan koreografi serta musik yang apik, opening ceremony itu disebut-sebut menelan dana sebesar 47 juta dolar atau sekitar Rp685,2 miliar.

Aroma persaingan dalam pertandingan di Asian Games masih tercium hingga saat ini. Para atlet dan peserta Asian Games mengerahkan seluruh energi dan usahanya untuk bisa meraih medali emas dan mengharumkan nama bangsa negeri tercintanya.

Sayang beribu kali sayang, di tengah hiruk-pikuk kemeriahan perlombaan Asian Games ini, dimana para atlet saling berlomba memperebutkan sebuah medali emas, dan atlet kita bersungguh-sungguh dalam berlomba untuk mendapatkan medali emas, saat itu pula tambang emas terbesar di dunia yang berada di negeri ini harus lagi dan lagi dikuasai oleh penjajah asing.

Pada saat yang sama bangsa ini seolah tak pernah menyadari bahwa kekayaan mereka terus dikuasai dan dieksploitasi oleh bangsa lain. Tak hanya tambang emas yang mereka kuasai, masih banyak lagi kekayaan negeri ini yang dieksploitasi, seperti tambang minyak, gas, dan sumber daya alam lainnya.

Sungguh ironis, di negeri agraris ini seharusnya rakyat dapat merasakan kesejahteraan dengan sumber daya alamnya yang berlimpah.

Jika SDA di negeri ini, dikelola oleh bangsa sendiri, niscaya tak akan ada rakyat yang terpaksa menelan pahitnya impitan hidup yang terus menerpa dan menindas mereka. BBM yang terus melonjak membuat rakyat tak bisa beranjak dari kemiskinan yang dialami.

Harga bahan pokok yang terus naik, seolah membuat rakyat sangat tercekik dengan segala kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Ditambah dengan harga listrik yang sangat melambung tinggi, membuat rakyat gigit jari karena kesulitan yang mereka alami. Begitulah realitanya, jika hukum negeri tak memakai hukum yang berasal dari sang Illahi.

Wallahu'alam bish shawab.

 

Endang Noviyani

Kampung Bojong RT 4 RW 2

Desa Cikuya, Kecamatan Cicalengka

Kabupaten Bandung

Bagikan: