Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 28.3 ° C

Ganti Rupiah, Pilih Dinar Dirham

PEREKONOMIAN global kembali melesu. Salah satu faktor pemicunya adalah makin perkasanya dolar dan terpuruknya mata uang lokal sejumlah negara di dunia. Indonesia menjadi negara yang turut merasakan dampaknya. Rupiah dipaksa anjlok hingga menyentuh level Rp 14.644 per dolar Amerika, melemah 0,52 persen terhadap dolar (Merdeka.com, 15/8/2018).

Faisal Basri, pengamat ekonomi menyebut, kondisi rupiah saat ini merupakan yang terburuk sepanjang sejarah perekonomian Indonesia. Menurutnya, nilai tukar rupiah merosot karena lemahnya daya tahan mata uang Indonesia ini terhadap gejolak yang terjadi, baik dari dalam maupun luar negeri (Liputan6.com, 17/8/2018).

Alasan lain yang mengemuka di balik lemahnya rupiah adalah besarnya hutang yang ditanggung pemerintah dan arus impor yang tak terkendali. Ketua MPR Zulkifli Hasan menuturkan bahwa hutang Indonesia yang berjumlah Rp400 triliun pada 2018 ini sudah di luar batas kewajaran dan kemampuan bayar negara. Angka itu setara tujuh kali dana desa seluruh Indonesia (viva.co.id, 16/8/2018).

Anjloknya nilai tukar rupiah sangat dirasakan masyarakat, terutama masyarakat menengah ke bawah. Pengaruhnya dapat dilihat dengan adanya inflasi yang membuat harga-harga, terutama harga bahan kebutuhan pokok sehari-hari semakin mahal. Dengan daya beli yang semakin rendah, masyarakat akan semakin terbebani. Bagaikan jatuh tertimpa tangga. Sudahlah masyarakat harus membayar berbagai jenis pajak, kini mereka harus menghadapi melambungnya harga bahan kebutuhan pokok. Padahal mereka berharap besar terhadap pemimpin negeri ini bahwa kehidupan perekonomian mereka dapat berubah lebih baik.

Sejatinya akar masalah krisis ekonomi yang melanda dunia hari ini tak lepas dari diterapkannya sistem ekonomi kapitalis liberal. Sistem ekonomi kapitalis berbasis riba dengan mata uang kertasnya inilah yang menimbulkan inflasi di mana-mana. Amerika dengan dominasi politiknya pun mampu mengarahkan perekonomian negara berkembang semisal Indonesia. Mudah bagi negara adidaya ini mengguncang perekonomian negeri ini dengan dolarnya. Selama sistem negeri ini menerapkan sistem ekonomi liberal, rupiah takkan pernah stabil.

Setidaknya dibutuhkan dua faktor agar suatu mata uang stabil dan kuat, yaitu jenis mata uang dan penggunaannya. Islam telah memberikan petunjuk bahwa mata uang yang memenuhi dua faktor itu dimiliki oleh dinar dan dirham. Karena kedua mata uang ini bernilai intrinsik yang kuat dan stabil di seluruh masa. Lalu penggunaannya hanyalah sebagai alat tukar, bukan komoditas yang diperjualbelikan. Sehingga kelak perekonomian sektor riil yang akan bergerak bukan sektor non riil seperti saat ini. Karena sektor non riil yang sebenarnya yang menjadi penyebab utama krisis ekonomi dunia.

Oleh karena itu, apabila kita menginginkan nilai tukar rupiah menguat dan stabil, mengganti rupiah dan memilih dinar dirham sepaket dengan sistem ekonomi Islam merupakan pilihan benar dan bijak. Mata uang inilah yang akan menjamin kestabilan ekonomi dan kesejahteraan rakyat pun bukan lagi hal yang utopis.

 

Rina Yunita

Griya Kenari Mas E.6/6

Cileungsi, Kabupaten Bogor

Bagikan: