Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 19.9 ° C

Menanti Solusi Tepat untuk Kasus Kekeringan di Cicalengka

MUSIM kemarau tahun ini telah memberikan dampak kekeringan dan kesulitan memperoleh air bersih di beberapa wilayah di Kabupaten Bandung. Hal ini pun dialami oleh warga di Kecamatan Cicalengka. Sudah hampir dua bulan warga di beberapa desa di Cicalengka mengalami kesulitan air bersih, seperti di Desa Panenjoan dan Kebon Kalapa. Untuk memenuhi kebutuhan air minum, memasak, mandi, dan mencuci, mereka harus bersusah payah, berjuang mengambil air ke tempat yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Bila tidak, terpaksa membeli dari penjual keliling dengan harga Rp 20.000 per derigen. Terbayang berapa puluh ribu rupiah yang harus mereka keluarkan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan air bersih ini. Betapa kondisi ini akan menambah beban berat ekonomi yang harus mereka tanggung, di tengah beban kehidupan yang semakin mengimpit akibat kenaikan BBM pascalebaran kemarin.

Ironisnya, pemerintah sepertinya kesulitan untuk memberikan solusi yang cepat dan tepat bagi warganya yang tengah dilanda kesulitan air ini. Terbukti sampai sekarang masih banyak warga bahkan semakin meningkat jumlahnya yang mengeluh atas kesulitan yang mereka hadapi saat ini.

Di lain pihak, saya merasa miris dan ironis dengan pemberitaan di salah satu media massa yang memberitakan tentang penandatanganan kontrak kesepamahaman (MoU) antara direktur PT PDAM Tirta Raharja dengan salah satu pengembang perumahan di Buahbatu. Dalam MoU tersebut, dinyatakan bahwa penyediaan air bersih di perumahan tersebut sepenuhnya akan mengandalkan suplai air dari PDAM Tirta Raharja. Yang jadi pertanyaan, kenapa saat ini di beberapa wilayah di Kabupaten Bandung yang sudah jelas kekurangan air bersih sangat sulit untuk mengakses air yang disuplai dari PDAM?

Itulah fakta akibat kapitalisasi air. Air saat ini telah menjadi komoditas ekonomi yang diperjualbelikan untuk meraup keuntungan. Air akan mudah diperoleh dan diakses oleh kalangan yang punya modal untuk membelinya. Sementara bagi rakyat kecil yang berpenghasilan minim, air bersih yang berkualitas menjadi sesuatu yang langka, sulit dicari, bahkan untuk memperolehnya harus dengan perjuangan yang cukup berat.

Ditambah lagi saat ini, untuk memenuhi kebutuhan akan air pun menjadi sulit. Karena banyak sumber mata air yang sudah dimiliki perusahaan air minum swasta dan banyak industri nakal yang memanfaatkan air permukaan, yang selama ini menjadi andalan sumber air bersih bagi warga.

Seandainya pemerintah dan penguasa saat ini mau mengelola sumber daya alam yang ada termasuk dalam hal pengelolaan sumber mata air, mengikuti jejak dan merujuk pada pesan Rasulullah saw, niscaya kejadian ini tidak akan terjadi.

 

Iah Robiah

Kampung Warung Lahang

RT 2 RW 2 No 68 Desa Nagrog

Kecamatan Cicalengka

Kabupaten Bandung Barat

Bagikan: