Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Umumnya berawan, 25.3 ° C

Sel Tahanan Rasa Hotel Bintang Lima

SEL tahanan, ketika kita mendengar dua kata itu, pastinya yang terbayang dalam benak kita adalah tempat yang dikelilingi jeruji besi, sempit, orang yang ada di dalamnya hanya tidur dengan hanya beralaskan sehelai tikar, dan ketika makan hanya dengan piring dari alumunium dengan makanan diberikan petugas.

Namun, gambaran seperti itu berbanding terbalik dengan apa yang kita saksikan sepekan ini. Bagaimana kondisi sel tahanan yang terdapat di salah satu lembaga permasyarakatan (lapas) yang menjadi tempat para koruptor tersebut, membuat gambaran itu sirna. Betapa tidak, tempat yang seharusnya membuat para koruptor ini jera dan menyesali perilaku mereka, tetapi justru di tempat itu, mereka memiliki fasilitas seperti hotel bintang lima. Kamar mereka berisikan perabotan yang komplit dan mewah. Seperti tempat tidur, pendingin ruangan, sofa empuk, kulkas, pemanas makanan, dan perabotan lainnya.

Bahkan, selain fasilitas mewah dalam sel tahanan, mereka juga bisa keluar-masuk lingkungan tahanan. Kita masih ingat dengan kasus salah satu koruptor yang menjadi penghuni Lapas Sukamiskin, yang beberapa kali tertangkap kamera sedang pelesiran di berbagai tempat liburan. Sungguh ini ironis dengan kondisi rakyat saat ini. Di saat rakyat sedang kebingungan dengan kenaikan demi kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Mereka harus menelan kekecewaan dengan menyaksikan para koruptor yang telah merampok uang rakyat justru bisa hidup mewah dan nyaman walaupun sedang di dalam tahanan.

Terungkapnya hal ini, sesungguhnya menunjukkan kepada kita bahwasanya hukum, penerapan, dan para penegak hukum di negeri ini bermasalah. Karena hal ini sering terulang dan tak ada perubahan yang berarti. Oleh karena itu, wajar jika tindak korupsi semakin merajarela di negeri ini. Karena walaupun mereka tertangkap, dengan uang, mereka bisa lolos, atau kalaupun harus ditahan, hukuman mereka hanya sebentar, tidak lebih dari lima sampai sepuluh tahun. Ketika bebas, mereka dengan gampangnya bisa menjadi pejabat. Seperti yang kemarin sempat ramai menjadi bahan perbincangan di tengah-tengah rakyat.

Permasalahan yang ada dalam dunia peradilan negeri ini, sesungguh tak lepas dari aturan yang ada saat ini. Aturan kapitalis yang erat dengan uang yang berbicara serta lahir dari ide meniadakan aturan agama dalam mengatur kehidupan. Akibatnya, sering materi atau uang menjadi ukuran dalam kehidupan. Tak heran aturannya dinamai kapitalis, asal kata dari kapital yang artinya modal (uang).

Oleh karena itu, wajar gagal karena pondasinya rapuh. Namun, berbeda dengan Islam yang dibangun berdasarkan akidah Islam dan ketakwaan kepada Allah. Faktor akidah dan ketakwaan kepada Allah ini terbukti telah membentuk pengontrolan bagi diri sendiri, yang menjadikan seseorang tidak bisa disuap atau menyuap. Karena mereka memahami walaupun tidak ada orang yang mengawasi, tapi mereka memahami ada Allah Yang Mahamelihat dan Mendengar terhadap apa yang mereka lakukan.

Itulah terkait pencegahan. Adapun dalam hal penangan kasus korupsi ini, Islam juga memiliki solusinya. Karena korupsi ini tidak termasuk mencuri dalam pengertian syariah, maka kejahatan ini tidak termasuk dalam ketegori hudud. Akan tetapi, masuk dalam wilayah ta'zir, yaitu kejahatan yang sanksinya diserahkan kepada ijtihad hakim. Sanksinya bisa berbentuk publikasi, stigmatisasi, peringatan, penyitaan harta, pengasingan, cambuk, hingga hukuman mati. Dengan hukuman yang membuat jera, tindakan korupsi ini akan dapat diminimalisir, bahkan bisa dihilangkan. Namun hal ini tidak hanya diselesaikan dalam satu urusan saja tetapi bersifat sistemik. Karena permasalahan yang ada saat ini bukan hanya dalam satu bidang tetapi secara keseluruhannya. Oleh karena itu, penyelesainya pun harus secara menyeluruh. Wallahu’alam.

 

Sri Nurhayati

Kampung Babakan Reungas

RT 1 RW 3 Desa Sukamulya

Kecamatan Rancaekek

Kabupaten Bandung

Bagikan: