Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Sedikit awan, 20.3 ° C

Waspadai Penipuan Kartu Kredit

AWALNYA saya terima telefon dari BNI. Katanya saya berkesempatan mendapat kartu kredit tanpa perlu pengajuan. Semua prosedur mulai dari validasi data dan sebagainya dilakukan via telefon. Sekitar satu bulan kemudian, kartu kredit sampai di rumah. Bahkan saya dibuatkan dua kartu kredit. Beberapa hari kemudian, saya mendapat telefon dari BNI yang menanyakan apakah kartu kreditnya sudah diterima. Saya katakan sudah. Customer service mengatakan, saya harus datang ke cabang BNI untuk mengaktifkan kartu kredit tersebut, karena ada data yang harus diisi.

Beberapa hari kemudian saya menerima telefon lagi dari laki-laki yang mengaku dari BNI. Nomor yang digunakan memang nomor kantor/rumah yang berlokasi di Jakarta. Ia menanyakan, apakah kartu kreditnya sudah sampai atau belum. Saya bilang sudah, dan sudah ditelefon juga oleh pihak BNI beberapa hari lalu. Akan tetapi, belum aktif karena harus diaktifkan ke kantor cabang. Laki-laki itu kemudian memberikan alternatif lain. Dia akan mengirimkan kurir untuk mengambil fotokopi KTP dan NPWP saya untuk dikirimkan ke kantor BNI pusat. Saya masih belum curiga. Namun, karena tidak ada yang datang dan menghubungi, akhirnya saya pergi ke kantor cabang BNI untuk mengaktifkan kartu kredit tersebut.

Namun beberapa hari kemudian, ada yang menelefon yang mengaku sebagai kurir. Katanya akan mengambil fotokopi KTP dan NPWP saya. Saya katakan bahwa saya sudah pergi ke kantor cabang untuk mengaktifkan kartu kredit. Jadi tidak perlu lagi diambil. Penelefon mengatakan, untuk cepat diproses, lebih baik dia yang mengantarkan fotokopi KTP dan NPWP tersebut ke kantor cabang di Jakarta.

Selang beberapa lama, laki-laki yang mengaku dari BNI kembali menelefon. Dia meminta maaf atas keterlambatan datangnya kartu kredit. Dia mengatakan, ada satu kartu diskon lagi yang akan diberikan. Dia menceritakan benefit yang ada pada kartu tersebut bahwa dapat dipakai selama 10 tahun dan sebagainya. Saya tidak sadar sama sekali bahwa penelefon ini adalah penipu.

Keesokan harinya, datanglah kurir tersebut ke kantor. Dia meminta untuk melihat KTP dan kartu kreditnya yang kemudian saya berikan. Tidak lama, dia mengeluarkan mesin gesek ATM yang biasa kita lihat di kasir-kasir toserba. Kemudian dia menggesek kartu tersebut sebanyak dua kali dengan nominal berbeda. Dia memberikan slip yang keluar mesin gesek tersebut dan meminta saya untuk tanda tangan. Saya tidak sadar sama sekali. Kemudian dia mengeluarkan seperti tanda terima. Ada nominal sebesar Rp 9 juta yang telah digesekkan. Ketika saya tanyakan Rp 9 juta itu apa? Dia berkata bahwa ini adalah biaya member dan sebagainya, hanya dibayarkan sekali dan jika voucher-nya dipakai, nominal ini akan berkurang. Tidak masuk akal tetapi saya hanya bertanya sampai situ dan merasa kebingungan sampai orang tersebut pergi. Ketika kembali ke ruangan, saya baru menyadari, sepertinya saya sudah ditipu.

Kemudian saya langsung menghubungi Customer Service BNI dan menceritakan soal penipuan tersebut. Petugas hanya mengatakan, saya harus lebih hati-hati dan untuk sementara kartu akan diblokir. Dia akan mengirimkan kartu penggantinya maksimal 14 hari kerja. Ketika saya minta pembatalan transaksi, petugas hanya menjawab, transaksi hanya bisa dibatalkan oleh merchant yang bersangkutan. Saya katakan, silakan distop saja kartu kreditnya. Saya tidak mau bayar yang Rp 9 juta itu. Untuk tagihan sebelumnya yang saya lakukan, akan saya bayar. Namun, petugas mengatakan, pemberhentian kartu hanya bisa dilakukan ketika tagihan sudah lunas dan untuk transaksi tersebut tetap harus dibayar.

Saya kembali menelefon Customer Service BNI tetapi tetap tidak mendapatkan jawaban yang diharapkan. Petugas mengatakan, transaksi tersebut masih menggantung karena terjadi di hari Jumat. Merchant-nya adalah toko elektronik di ITC Cempaka Mas Jakarta. Namun saat dicari, tidak ada toko handphone tersebut.

Ketika tagihan kartu kredit muncul, transaksi yang terjadi pada Jumat, 18 Mei itu belum masuk ke tagihan. Jadi saya menelefon kembali customer service untuk menanyakan hal itu. Namun katanya, transaksi tersebut sudah masuk tanggal 20 Mei. Ketika saya minta untuk memecah menjadi cicilan saja untuk transaksi tersebut, menurut petugas, itu harus menunggu sampai kartu yang baru sampai karena kondisi kartu yang sebelumnya sudah diblokir.

Di situ saya sangat kecewa karena petugas sama sekali tidak membantu saya atau memberikan solusi lain. Jadi sampai saat ini, untuk transaksi yang tidak saya setujui itu, masih saya bayar.

 

Fakhrana Nur Hanifati

Jalan Mega Mekar No 3

Sukaraja, Cicendo

Kota Bandung

Bagikan: