Pikiran Rakyat
USD Jual 14.365,00 Beli 14.065,00 | Umumnya cerah, 21.9 ° C

Mempertahankan Eksistensi Bahasa Sunda

KRISIS bahasa kini memang tengah melanda sebagian masyarakat kita. Masuknya budaya asing, termasuk bahasa di dalamnya, membuat banyak generasi muda kita lupa dan tidak mau menggunakan bahasanya sendiri, baik bahasa nasional apalagi bahasa daerahnya. Istilah-istilah yang berbahasa Inggris atau plesetan bahasa nasional ke dalam bahasa prokem atau lebih tepatnya bahasa alay, justru kian sering diucapkan oleh anak-anak remaja kita dalam pergaulannya sehari-hari. Mungkinkah ini dapat mengancam eksistensi bahasa, terutama bahasa Sunda?

Berdasarkan data, bahasa daerah di Indonesia ada 725 bahasa dan versi UNESCO ada 640 bahasa. Dari jumlah ratusan bahasa daerah tersebut, ada 14 bahasa di antaranya yang dinyatakan telah hilang. Umumnya terjadi di wilayah masyarakat Indonesia timur, seperti Maluku dan Papua. Kerugian ini, menurut penelitian sementara, disebabkan oleh warga setempat yang sudah tidak menggunakan lagi bahasanya sendiri.

Hilangnya suatu bahasa merupakan pertanda hilangnya budaya. Bukan hanya karena bahasa merupakan salah satu produk budaya, tetapi bahasa juga merupakan alat untuk mengembangkan budaya. Jika bahasa daerah tertentu dinyatakan lenyap, secara otomatis beberapa sisi budaya mereka juga ikut hilang karena sudah kehilangan alat untuk mengomunikasikannya. Sementara hilangnya budaya merupakan ancaman terhadap eksistensi sebuah bangsa, karena budaya merupakan salah satu identitas bangsa.

Diselenggarakannya kongres bahasa, seperti Kongres Bahasa Nusantara yang dilaksanakan 2-4 Agustus 2016, merupakan salah satu upaya untuk memetakan kondisi bahasa-bahasa daerah di nusantara sekaligus mencari solusi jika kemungkinan adanya potensi sebuah bahasa daerah akan hilang. Namun, boleh dibilang langkah-langkah akademik seperti kongres, seminar, maupun diskusi-diskusi ilmiah tentang kebahasaaan ini belum cukup untuk membentengi eksistensi bahasa daerah, seperti bahasa Sunda.

Dewasa ini bahasa Sunda digunakan kurang lebih oleh 42 juta jiwa yang merupakan penutur bahasa daerah terbesar ke-2 di Indonesia setelah bahasa Jawa. Pengguna bahasa Sunda sebagai bahasa pergaulan atau lingua franca tersebar di Provinsi Jawa Barat, Banten, dan wilayah barat Jawa Tengah.

Upaya-upaya nyata untuk memeertahankan eksistensi bahasa Sunda, khususnya dan bahasa daerah pada umumnya adalah dengan menggunakan bahasa tersebut menjadi bahasa pergaulan sehari-hari. Jika belakangan sudah banyak yang meninggalkan penggunaan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu di Jawa Barat dan Banten, perlu adanya regulasi, terutama dari pemerintah daerah setempat, mulai dari gubernur sampai wali kota dan bupati, berupa peraturan daerah yang mendorong masyarakat untuk kembali menggunakan bahasa leluhur Ki Sunda dalam pergaulan formal maupun nonformal.

Adanya kebijakan ”Rebo Nyunda” atau hari-hari berbahasa sunda, jangan sekadar slogan atau pemanis politik yang berbau pencitraan. Namun, harus didukung oleh reward and punishment yang jelas dan tegas serta terakumulasi dalam sebuah regulasi. Selain itu, memelihara dan meningkatkan keberadaan media-media komunikasi, baik cetak maupun elektronik yang berbahasa Sunda perlu dipertahankan. Seperti hadirnya Harian Umum Pikiran Rakyat, Majalah Mangle, Bandung TV, RRI siaran Jawa Barat, agar kehadirannya senantiasa mendapat dukungan dari segenap masyarakat Jabar dan Banten, khususnya.

Terima kasih saya sampaikan kepada Pikiran Rakyat yang telah memuat surat pembaca ini. Semoga Pikran Rakyat selalu menjadi sumber informasi yang inspiratif bagi masyarakat Jawa Barat.

 

Aam Muamar

Kompleks Lebakwangi Asri

Blok C3 No. 33 Arjasari

Kabupaten Bandung

Bagikan: