Pikiran Rakyat
USD Jual 14.433,00 Beli 14.335,00 | Cerah berawan, 27.4 ° C

Ketika Warga Amerika Serikat Memainkan Degung Klasik

Satira Yudatama

PERMAINAN degung klasik suguhan grup degung Pusaka Sunda menghadirkan suasana teduh. Alunan musik begitu harmonis, terpoles dengan kemasan aransemen penuh dinamika. Penampilan Pusaka Sunda tersuguh pada acara "Pusaka Sunda: 30th Anniversary West Java Tour" di Gedung Kesenian Sunan Ambu Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, Jalan Buahbatu, Kota Bandung, Rabu, 25 Juli 2018 malam.

Terdapat hal menarik, hampir seluruh personel grup merupakan warga Amerika Serikat. Pusaka Sunda merupakan grup bentukan Burhan Sukarma, bermarkas di San Jose, California Amerika Serikat. Mereka telah bermain, dan mendalami degung selama 30 tahun, menandakan komitmen yang kuat. Aktivitas grup pun begitu aktif, kerap mengadakan pementasan degung sejumlah negara bagian lain di Amerika Serikat.

Setiap personel mahir memainkan waditra, bahkan sebagian di antaranya mengisi beberapa posisi. Pendiri grup, Burhan turut tampil menunjukkan kepiawaiannya memainkan suling. Mereka tampak menuangkan elemen rasa, tergambar dari penerapan teknis ketukan, dan tiupan waditra yang penuh penghayatan. Hal itu membubuh efek syahdu pada setiap suguhan komposisi, menguatkan daya tarik.

Pusaka Sunda tampil dengan memainkan sejumlah komposisi, di antaranya, "Ladrang", "Puspawana", "Ning Nang", "Bale Ngambang", "Lolongkrang". Kendati Kebanyakan komposisi merupakan gubahan Burhan Sukarma, kecintaan personel akan kesenian degung tetap terpampang secara gamblang.

Terus belajar



Pada jeda suguhan komposisi, salah seorang personel, Henry Spiller mengatakan, kesenian degung menyimpan pesona yang luar biasa. Henry menganggap teknik permainannya belum utuh, walaupun terus belajar selama 30 tahun. Saat berinteraksi, dia sempat menyampaikan beberapa kata dengan menggunakan bahasa Sunda, menuai respons meriah dari penonton. "Abdi teu tiasa seueur nyarios Bahasa Sunda. Terima kasih kepada Pak Burhan, telah mengenalkan, dan membimbing kami bermain degung," ucap Henry.

Henry turut menerangkan sekilas perihal upaya grupnya mempopulerkan degung di Amerika Serikat, masih sulit karena masyarakat setempat masih asing akan seni budaya Sunda. Meski begitu, terdapat beberapa kampus di Amerika Serikat yang telah mengenal, dan menaruh minat kepada degung.

Sebelum Pusaka Sunda, tersuguh penampilan pembuka dari ISBI Bandung, mempersembahkan celempungan, dan Cianjuran. Mereka memainkan sepaket komposisi di bagian sayap panggung utama, tampak menggugah minat penonton yang sebagian di antaranya merupakan siswa SMKN 10.

Seusai acara, Rektor ISBI Bandung Een Herdiani menyebutkan, kerja sama dengan Pusaka Sunda mulai terjalin erat pada 2016. Saat itu, dia sedang mengadakan kunjungan ke Amerika Serikat, kemudian berjumpa dengan Burhan. Komunikasi intensif dengan Henry (Spiller) yang merupakan akademisi dari University California Davis pun tambah mempererat jalinan kerja sama.

"Kami segera menyambut dengan antusias ketika Pak Burhan masih menyusun rencana tur ke Jawa Barat. Kebanggan bagi kami, Pusaka Sunda menyempatkan tampil di lingkungan Kampus ISBI Bandung. Apalagi, mereka mengedepankan degung klasik, varian kesenian Sunda yang langka terjumpa, termasuk di lingkungan masyarakat Priangan," ucap Een.***

Bagikan: