Pikiran Rakyat
USD Jual 14.027,00 Beli 14.125,00 | Cerah berawan, 28.6 ° C

Sebelum Demonstrasi, Mahasiswa Harus Miliki Kemampuan Literasi

Hendro Susilo Husodo
PENGAMAT politik dari Universitas Padjadjaran, Muradi (tengah) berbicara dalam diskusi politik di Second House, Collaboration & Creative Spaces, Jalan Tubagus Ismail, Kota Bandung, Senin, 7 Oktober 2019 sore.*/HENDRO SUSILO HUSODO/PR
PENGAMAT politik dari Universitas Padjadjaran, Muradi (tengah) berbicara dalam diskusi politik di Second House, Collaboration & Creative Spaces, Jalan Tubagus Ismail, Kota Bandung, Senin, 7 Oktober 2019 sore.*/HENDRO SUSILO HUSODO/PR

BANDUNG, (PR).- Meskipun demonstrasi mahasiswa sempat marak, sejauh ini tuntutan mahasiswa masih belum membuahkan hasil. Fenomena tersebut memberikan pembelajaran penting, bahwa mahasiswa sebagai agen perubahan harus memiliki kemampuan literasi dalam menyuarakan aspirasinya.

Demikian mengemuka dalam diskusi politik di Second House, Collaboration & Creative Spaces, Jalan Tubagus Ismail, Kota Bandung, Senin, 7 Oktober 2019. Pengamat politik dari Unpad, Muradi, dan komisioner KPU Jawa Barat Titik Nurhayati ikut dalam diskusi politik bersama mahasiswa dari berbagai kampus.

Menurut Muradi, mahasiswa sebagai agen perubahan harus mudah turun ke jalan untuk mengoreksi kebijakan pemerintah yang dinilai tak sesuai dengan harapan masyarakat. Aksi demonstrasi mahasiswa, kata dia, merupakan bagian dari demokrasi. 

"Hanya memang yang kami inginkan sebenarnya teman-teman mahasiswa juga kan harus punya literatur yang kuat untuk bisa mengoreksi. Jadi bukan sekadar katanya-katanya. Di beberapa kasus kemarin, itu kan terlihat bahwa mereka tidak paham betul substansi apa yang mereka bicarakan," katanya.

Berbeda dengan demonstrasi mahasiswa pada 1998, terang dia, saat ini perkembangan teknologi sebetulnya telah memudahkan mahasiwa untuk mengecek dan mengkaji persoalan-persoalan yang perlu dikritisi. Dengan kontrol dari mahasiswa yang menguasai literasi, dia pun berharap ke depan demokrasi di Indonesia bisa lebih berkualitas. 

"(Demonstrasi mahasiswa yang sempat marak) itu jadi euforia biasa. Hanya memang maksud saya yang paling penting adalah bagaimana kemudian euforia itu bisa jadi positif. Dengan apa? Literasi politiknya kuat. Jadi, (mahasiswa) kuat membacanya. Bukan sebatas ikut-ikutan dan katanya-katanya," tuturnya.

Berpotensi terbawa setting politik

Tanpa kemampuan literasi yang baik, Muradi menilai, mahasiswa akan mudah terbawa dalam setting politik yang berkembang. Oleh karena itu, dia menyimpulkan, literasi menjadi tantangan bagi demokrasi di Indonesia, di mana peran mahasiwa sebagai kaum intelektual turut diperlukan.

"Buat saya, kuncinya memang literasi politik. Membaca, memahami, menguliti betul apa dari agenda politik yang berkembang. RUU KUHP atau UU KPK, misalnya, dikaji lebih dalam dulu, baru kemudian bicara. Itu yang kemudian akhirnya jadi agak mis, bukan salah. Agak mis, kalau akhirnya mereka menuntut," katanya.

Dia menambahkan, demonstrasi tanpa literasi pun akhirnya akan jadi tidak akan fokus. Tak heran, poster atau spanduk yang dibawa mahasiswa saat demonstrasi pun banyak yang nyeleneh. "Tanpa memahami betul isu yang berkembang, dia akan menjadi gerombolan, crowd, kerumunan. Begitu jadi kerumunan, dia akan menjadi anarkis, karena idenya enggak sampai," tuturnya.

Selain diskusi politik, pada kesempatan tersebut turut dilakukan peluncuran Bandung School of Democracy (BSoD). BSoD merupakan suatu metode menganalisa perkembangan politik mulai dari ranah lokal, nasional, hingga internasional. 

BSoD didirikan dalam rangka membangkitkan kultur diskusi dan peningkatan kapasitas para pemuda, dengan memberikan wadah atau forum untuk mengasah kemampuan analisa, kepemimpinan, dan pengembangan jaringan.***

Bagikan: