Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 19.9 ° C

Golkar Pilih Ridwan Kamil, Kecaman Arus Bawah dan Petinggi Daerah Bermunculan

Mochammad Iqbal Maulud

PURWAKARTA, (PR).- Rekomendasi yang diberikan oleh DPP Partai Golkar kepada Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dan Anggota DPR RI Daniel Muttaqien, menuai kecaman dari akar rumput partai berlambang pohon beringin tersebut.

Hal ini ditenggarai disebabkan keputusan mengusung Ridwan Kamil dan Daniel Muttaqien tak sesuai dengan hasil Rapimda Partai Golkar di Karawang, pada Rabu 26 April 2017 lalu.

Dalam Rapat tersebut diperoleh keputusan bahwa seluruh kader mendorong Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi. Dedi diminta direkomendasikan sebagai calon Gubernur Jawa Barat untuk disetujui oleh DPP Golkar. 

"Saat itu kami diundang untuk mengawal aspirasi kami dalam Rapimda yang sebelumnya disampaikan kepada DPD kabupaten/kota. Alhamdulillah sesuai aspirasi kami yaitu Kang Dedi Mulyadi menjadi satu-satunya yang diusulkan untuk mendapatkan rekomendasi DPP Golkar. Tapi kenapa tidak ada nama Kang Dedi dalam rekomendasi yang disampaikan oleh Pak Idrus Marham," kata Ketua Pengurus Golkar Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Yayan Heryana , Senin 30 Oktober 2017.

Kesolidan kader grass root Partai Golkar ini bukan tanpa sebab. Selama ini, lanjut Yayan, Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi berhasil membangun spirit kader untuk membangun konsolidasi internal dan eksternal partai. Secara pribadi, Dedi pun mencontohkan dalam berbagai kegiatan safari budaya yang sering ia gelar. 

Hal tersebut menurut dia yang menjadikan para kader Golkar di pelosok desa tergerak untuk melakukan hal yang sama. Bahkan dengan berbagai sumber daya yang terbatas. 

"Kami menyambangi rumah ke rumah, satu per satu persoalan warga kami selesaikan, baik tenaga dan materi itu modal kami kader di bawah. Itu kami lakukan karena malu kepada Kang Dedi yang bergerak tidak pernah lelah melihat warga jadi kami melakukan hal yang sama. Ini DPP Golkar menutup mata terhadap kinerja kami bersama Kang Dedi," katanya. 

Diketahui, berdasarkan survei CSIS, sebelum Dedi Mulyadi memimpin Partai Golkar Jawa Barat, elektabilitas partai ini berada di angka 8,6%. Angka ini berubah segera saat Dedi memimpin menjadi 13,7% pada Tahun 2016 dan kini atau Tahun 2017 berada di angka 18,9%.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan elektabilitas Partai Golkar di tingkat nasional yang terus mengalami penurunan. 

Hal yang sama diungkapkan oleh Dadang Mulyawan, Ketua Pengurus Golkar Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka. Ia menyayangkan sikap DPP Partai Golkar yang tidak mempertimbangkan suara kader. Padahal, menurut dia, Partai Golkar dibesarkan oleh ‘saham’ kader. 

"Kalau kami tidak bekerja di lapangan, DPP Golkar mau mengandalkan siapa? Misalnya rekomendasi itu turun kepada orang lain, kalau kami tidak mau bekerja, mau apa?. Jadi, mohon DPP Golkar memperhatikan aspirasi kami," ucapnya.

Tidak hanya akar rumput



Kecaman pun datang dari pemimpin daerah salah satunya oleh kader Golkar yang juga Bupati Bandung, Dadang Naser.

Dadang selaku petinggi di Partai Golkar Kabupaten Bandung meminta pimpinan Golkar di Jakarta untuk mengkaji ulang rekomendasi calon gubernur pada Ridwan Kamil dan Daniel Muttaqien.



"Kalau pun pusat mengeluarkan statemen untuk mendukung Emil-Daniel, keputusan itu harus dikaji ulang," ujar Dadang saat diwawancarai pada Senin 30 Oktober 2017.

Menurut Dadang jikalaupun ada koalisi dirinya menginginkan pengurus pusat mendengar aspirasi dari daerah. "Kalau ingin Golkar besar di daerah dan jadi mercusuar di Jakarta, pusat harus mengerti juga konstelasi di daerah, jangan sampai kader di lapangan diabaikan," katanya.‎

Ia meyakini wacana Golkar mengusung Ridwan Kamil pun belum final. Buktinya, DPP Golkar belum mengumumkan SK pencalonan Ridwan Kamil dan Daniel Muttaqien itu.

‎"Belum ada informasi resmi dari pengurus Golkar di Jakarta ke kami para ketua DPD Golkar di daerah," ujarnya.‎‎



Bupati Bandung itu pun belum menentukan sikap lanjutan dari DPD Golkar Kabupaten Bandung. Termasuk apakah Dadang siap hengkang dari partai yang membesarkanya itu, sebagai bentuk kekecewaan. "Bukan masalah hengkang atau tidak hengkang, jika Golkar butuh saya ayo bekerjasama," ujarnya.***

Bagikan: