Djanur Ungkap Penyebab Tingginya Rasa Memiliki Pemain terhadap Persib pada Zaman Dulu

- 15 Desember 2020, 18:39 WIB
Djajang Nurdjaman (kanan) berfoto bersama Indra Thohir (kiri), pelatih Persib yang membawa juara musim 1994-1995. Djanur, sapaan akrab Djajang, mengungkapkan penyebab tingginya rasa memiliki pemain terhadap Persib pada zaman dahulu. /Pikiran-rakyat.com/Arif Budi Kristianto

PIKIRAN RAKYAT - Eks pelatih Persib Bandung, Djajang Nurdjaman mengungkapkan penyebab tingginya rasa memiliki pemain kepada Persib pada zaman dahulu.

Hal itu diungkapkan Djanur, sapaan akrabnya, saat menghadiri acara talk show "Ngobat" pada Senin, 14 Desember 2020.

Djanur mendapatkan pertanyaan dari pembawa acara, Budi Dalton, mengapa para pemain Persib di zaman dahulu begitu militan dan tinggi fanatismenya kepada Persib.

Baca Juga: Rapat Pleno Rekapitulasi Pilkada Tasikmalaya Tetap Berjalan, Pasangan Wani Siap Maju ke MK

"Memang masyarakat atau bobotoh mungkin bisa merasakan, rasa memiliki terhadap Persib antara zaman sekarang dan zaman dahulu berbeda," ungkap Djanur dikutip Pikiran-rakyat.com (PR) dalam video yang diunggah kanal Youtube Budi Dalton Ngobat Official pada 14 Desember 2020.

"Karena kalau dahulu mah hampir gak ada pemain luar Bandung. Atau tidak ada pemain dari luar Jawa Barat," tuturnya.

"Itu yang mungkin membuat fanatisme atau rasa kepemilikan akan Bandung-nya lebih kental dibandingkan sekarang."

Dikutip Pikiran-rakyat.com (PR) dari buku Persib Aing (2007), kali pertama Persib memakai jasa pemain asal luar Jawa Barat adalah pada musim 1997-1998.

Baca Juga: Putus Praktik Calo Saat Uji KIR, Pemkab Bandung Luncurkan Aplikasi SAE KIR

Beberapa pemain dari luar Jawa Barat yang didatangkan di antarnya adalah M. Halim dan Khair Rifo dari PSMS Medan hingga Peri Sandria dan Surya Lesmana dari Bandung Raya.
 
Saat itu, datangnya para pemain dari luar Jawa Barat sempat membuahkan friksi antarpemain.
 
Para pemain luar Jawa Barat itu diperlakukan berbeda dengan para pemain asli Jawa Barat sehingga gap antarkelompok pemain pun terjadi dan akhirnya mengganggu keharmonisan tim. 
 
Terganggunya keharmonisan tim berimbas pada performa di lapangan. Persib menderita 5 kekalahan dari 15 partai yang dimainkannya, catatan terburuk sejak 4 musim terakhir. 
 
 
Sebagai pelatih, Nandar menjadi sosok pertama yang diminta tanggung jawab oleh bobotoh atas bobroknya prestasi Persib.
 
Para bobotoh mengecam keras Nandar bahkan sempat memberikan karangan bunga kematian untuk Nandar.
 
Beruntung Persib tidak terjerumus ke zona degradasi karena PSSI menghentikan kompetisi di pertengahan musim akibat rangkaian kerusuhan yang terjadi di Jakarta pada bulan Mei 1998.***

Editor: Rio Rizky Pangestu

Sumber: Buku Persib Aing (2007), Youtube Budi Dalton


Tags

Komentar

Artikel Rekomendasi

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Pikiran Rakyat Media Network

X