Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Umumnya berawan, 26.5 ° C

Kemenpora Ungkap Alasan Mendasar di Balik Rumitnya Naturalisasi Bek Persib Bandung Fabiano Beltrame

Tim Pikiran Rakyat
BEK naturalisasi yang dipinjamkan dari tim utama Persib Bandung Fabiano Beltrame tengah berlatih bersama tim Persib B di Stadion Arcamanik, Kota Bandung, Senin, 10 Juni 2019. Tim yang dihuni pemain muda dan senior itu rencananya akan berlaga di Liga 2.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
BEK naturalisasi yang dipinjamkan dari tim utama Persib Bandung Fabiano Beltrame tengah berlatih bersama tim Persib B di Stadion Arcamanik, Kota Bandung, Senin, 10 Juni 2019. Tim yang dihuni pemain muda dan senior itu rencananya akan berlaga di Liga 2.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

BANDUNG, (PR).- Proses naturalisasi bek Persib Bandung Fabiano Beltrame masih belum rampung. Bahkan, naturalisasi Fabiano Beltrame kalah cepat dengan rekan senegaranya, Otavio Dutra, yang resmi menjadi Warga Negara Indonesia. Otavio Dutra diambil sumpahnya di Kantor Kementerian Hukum dan HAM Wilayah Jawa Timur, Jumat 27 September 2019.

Sejumlah pihak menanyakan alasan lambatnya proses naturalisasi Fabiano Beltrame. Menurut Sekretaris Kemenpora, Gatot S Dewa Broto, keterlambatan naturalisasi Fabiano Beltrame terjadi karena adanya masalah dari klub dia sebelumnya yakni Madura United.

"(Natiuralisasi) Fabiano Beltrame terlambat memang karena konflik di klub. Selain itu, kami juga tidak hanya melihat kualitas pemainnya tapi juga dari berbagai aspek seperti dari BIN, kepolisian, dan durasi tinggal di Indonesia," ujarnya dalam wawancara yang disiarkan Radio PRFM, Sabtu 28 September 2019.

Fabiano Beltrame.*/ARIF HIDAYAH/PR

Kendati demikian, Gatot S Dewa Broto menegaskan bahwa tak butuh waktu lama bagi Fabiano Beltrame untuk segera disumpah sebagai Warga Negara Indonesia.

"Surat pengajuannya ada dan masih diproses dan selisih dengan Otavio Dutra itu hanya sebulan," ujarnya.

Kemenpora, kata Gatot S Dewa Broto, akan sedikit selektif ketika mendapatkan usulan naturalisasi dari beberapa klub. Pasalnya, acap kali naturalisasi pemain menuai banyak kritik.

"Masalah naturalisasi ini memang banyak kritik, makanya kami agak selektif," ucapnya.

Bentuk kepanikan

Pengamat sepak bola Supriyono Prima menilai, program naturalisasi yang dilakukan dalam kurun waktu terakhir merupakan bentuk kepanikan karena Timnas Indonesia tak kunjung berprestasi.

Meski status Warga Negara Indonesia adalah hak, naturalisasi pemain asing di Indonesia kurang tepat sasaran. Alasannya, sejumlah pemain yang dinaturalisasi sudah tidak dalam masa keemasan kariernya.

"Naturalisasi itu hak. Hanya, yang dibutuhkan Indonesia adalah pemain yang punya kesiapan dinaturalisasi, bukan hanya siap pindah. Pemain naturalisasi harus bisa mengangkat level sepak bola baik untuk Timnas ataupun individu," ujarnya.

Menurut Supriyono Prima, Filipina dan Singapura adalah contoh kesuksesan negara yang menerapkan proses naturalisasi pemain sepak bola. Hal itu terbukti dari torehan prestasi baik di level klub maupun timnas meski jumlah penduduk dua negara tersebut kalah banyak dibanding Indonesia.

"Berbeda dengan Filipina dan Singapura. Sepak bola di sana begitu sangat dicintai dan kita bisa lihat bagaimana Filipina sekarang bisa berkembang. Singapura juga sukses. Berbeda dengan Indonesia," kata mantan pemain timnas era Primavera tersebut.

Supriyono Prima menyarankan kepada para pemangku kebijakan sepak bola di Indonesia untuk lebih memanfaatkan pembinaan serta memaksimalkan peran pemandu bakat.

"Maksimalkan pembinaan, dan (talent) scouting harus baik. Siapa yang mampu menjadi tim scouting ke seluruh pelosok Indonesia dan yang tak kalah penting, tunjukkan sportivitas dan kejujuran," ujarnya.***

Bagikan: