Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Umumnya berawan, 26.1 ° C

Mantan Pemain Persib Bandung Ini Tak Pernah Menyerah Meski Kini Bermain dengan Satu Kaki

Tim Pikiran Rakyat
Aditya/PRFMNEWS
Aditya/PRFMNEWS

BANDUNG, (PR).- Nama Aditya barangkali tak familier di terdenagar pendukung Persib Bandung. Padahal, pemain berusia 22 tahun itu pernah mengukir prestasi bersama Persib U-17. Aditya merupakan salah seorang pemain yang turut mengantarkan Persib Bandung U-17 menjuarai turnamen di Jawa Barat pada 2014 lalu.

Pemain yang seangkatan dengan Gian Zola dan Hanif Sjahbandi di Persib Bandung U-17 itu mencintai sepak bola sejak kecil. Ia sudah akrab dengan sepak bola sejak duduk di bangku SMP. Aditya yang merupakan pemain jebolan Saint Prima Bandung itu lolos seleksi Diklat Persib pada usia 16 tahun dan bergabung dengan tim Persib Bandung U-17. 

Aditya tak hanya pernah memperkuat Persib Bandung U-17. Dia juga aktif mewakili tim futsal kampus dan prodinya dalam berbagai turnamen.

Petaka datang pada 2017.  Aditya mengalami cedera saat bermain futsal membela kampusnya, UIN Sunan Gunung Djati Bandung di ajang Torabika Cup. Menurut dia, cedera tersebut didapat setelah berbenturan dengan kiper tim futsal Unpad Jatinangor.

“Kejadiannya benturan dengan kiper. Kaki kanan terkena injakan sepatu dan patah,” kata Aditya seperti dilaporkan pewarta Prfmnews Rian Firmansyah, Rabu 14 Agustus 2019.

Untuk menyembuhkan cederanya, dia menjalani pengobatan tradisional. Alih-alih sembuh, cedera yang dialaminya kian parah. Kaki kanannya yang patah membengkak karena infeksi.

“Semakin hari semakin lebar luka infeksinya,” kata dia.

Setelah cedera kakinya semakin parah, Aditya memutuskan memeriksakannya ke rumah sakit. Namun karena terkendala biaya, dia harus kembali menjalani pengobatan tradisional.

Setahun setelah menjalani pengobatan tradisional, usahanya itu justru membuat kondisi kaki semakin parah.

Akhir 2018, Aditya a memutuskan memeriksakan kakinya ke Rumah Sakit Hasan Sadikin. Karena kondisi kakinya sudah begitu parah, demi keselamatan diri, dokter mengatakan bahwa tidak ada pilihan lain kecuali diamputasi. Dengan berat hati, Aditya harus merelakan kaki kanannya diamputasi.

Harapan itu bernana Amputee Football

Setelah pengalaman pahit itu, dua bulan dia berfokus memulihkan kesehatan. dia mulai membiasakan diri beraktivitas dengan menggunakan tongkat. Karena merasa bosan dan menyayangkan kemampuan bermain sepak bolanya, pada bulan ketiga usai diamputasi, Aditya mulai berlatih sepak bola dengan menggunakan tongkat sebagai penopang.

Semangatnya bangkit kembali setelah dia tahu saat ini sepak bola bagi mereka yang kakinya diamputasi sedang berkembang di daratan Eropa. Olah raga bagi para penyandang disabilitas tersebut dinamai Amputee Football.

Melalui Amputee Football, Aditya bercita-cita bisa bermain di Inggris. Alasannya, di Inggris, Amputee Football berkembang pesat. Klub-klub besar Inggris seperti Chelsea dan Arsenal memiliki tim Amputee Football.

Bukan hanya karena klub besar, hasrat Aditya bermain di luar negeri juga dilatarbelakangi karena di Indonesia belum ada klub Amputee Football.

Di Indonesia, baru ada wadah untuk menampung pemain pesepak bola yang pernah menjalani operasi amputasi yaitu Garuda Indonesia Amputee Football atau Garuda INAF.

“Harapannya, dapat klub di luar (luar negeri). Di sana ada kesempatan bermain,” kata dia.

Untuk mewujudkan cita-citanya, Aditya rutin berlatih setiap hari. Dengan dibantu temannya, dia berlatih fisik dan teknik Amputee Football dan mematok target lolos seleksi tim Garuda INAF pada September 2019.

Keterbatasan tidak menyurutkan semangat dan mimpi Aditya untuk berprestasi. Dia juga mendorong dan memberikan motivasi kepada semua orang yang memiliki nasib sama dengan dia untuk bangkit.

“Amputasian ternyata masih bisa melanjutkan (cita-citanya) jika ingin bermain sepak bola, tapi niatnya harus dari keinginan diri sendiri,” kata dia.***

Bagikan: