Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Umumnya berawan, 26.1 ° C

Persib Dihajar PSM 3-1, Pengamat: Strategi Tidak Dibarengi Konsistensi

Arif Budi Kristanto
ROBERT Rene Alberts/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
ROBERT Rene Alberts/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

MAGELANG, (PR).- Persib Bandung harus menelan kekalahan keenamnya pada Shoppe Liga 1 2019 setelah dihajar tuan rumah PSM Makassar 1-3 di Stadion Andi Mattalatta, Makassar, Minggu, 18 Agustus 2019. Pilihan strategi pelatih Persib Robert Rene Alberts yang tidak dibarengi konsistensi para pemainnya dinilai menjadi penyebab kekalahan Maung Bandung pada laga pekan ke-15 liga itu.

"Pilihan pelatih menerapkan strategi menunggu dan menempatkan Hariono- (Abdul) Aziz sebagai dua holding (gelandang bertahan) sebenarnya sudah tepat untuk meredam agresivitas PSM. Hariono dan Aziz tidak banyak naik, menjaga keseimbangan lini depan dan belakang. Hanya saja, strategi itu tidak dibarengi konsentrasi yang kuat dan konsistensi pada pemain," ujar mantan kiper Persib Anwar Sanusi saat dihubungi melalui telefon.

Menurut mantan pelatih kiper Persib yang akrab disapa Away itu, strategi menunggu yang cenderung bertahan butuh konsentrasi tinggi dan konsistensi. Apalagi, PSM bermain sangat agresif. Celakanya, kata Away, Persib hanya bisa menjalankan strategi itu selama 40 menit. 

"Persib dengan strategi itu awalnya cukup efektif. PSM tidak bisa melakukan crossing dan hanya menyerang dari sisi tengah. Namun setelah 40 menit, konsentrasi Persib menurun dan konsistensi melemah sehingga ada celah dalam sistem pertahanan Persib. PSM punya pemain kunci seperti (Willem Jan) Pluim yang bisa mendobrak dan mengeksploitasi celah kecil itu," kata Away.

Tendangan menyilang Pluim yang tidak begitu keras, namun melintasi kerumunan pemain membuat pandangan Kiper I Made Wirawan terhalang. Gol itu, kata Away, makin meruntuhkan konsentrasi para pemain Persib yang sebelumnya cukup solid bermain defensif dengan pengoperasian dua gelandang bertahan.

"Konsentrasi makin hilang dan gol kedua dengan cepat terjadi," kata Away.

Dia mengatakan, keputusan pelatih untuk kemudian keluar menyerang setelah defisit dua gol juga adalah pilihan normal. Namun, opsi itu tidak dibarengi kemampuan mengantisipasi serangan balik. Hariono yang ikut naik meninggalkan celah untuk serangan balik sehingga PSM bisa mencetak gol ketiga.

"Terlepas dari kemampuan luar biasa yang dimiliki Pluim, memang ada momen yang dibuat oleh para pemain Persib sehingga dimanfaatkan lawan. Strategi menunggu saat tandang meang bagus, tapi kalau tidak konsisten, hanya tinggal menunggu waktu (kebobolan). apalagi ball possession juga kalah jauh," kata Away.

Dia juga menilai, Persib gagal ke luar dari skema, terutama dalam pergantian pemain. Dalam kondisi tertinggal dan butuh menutupi defisit gol, kata Away, tidak ada kejutan dalam pergantian pemain yang dilakukan oleh Rene Alberts. 

"Pergantian pemain yang dilakukan seperti rutinitas, mudah ditebak. Hariono digantikan Dedi (Kusnandar) dan Gozali Siregar diganti Erwin (Ramdani), tidak ada surprise. Padahal untuk lebih menekan, coba masukkan pemain yang memang bisa menambah daya serangan," kata Away. 

Menurut Away, kegagalan Persib meredam agresivitas PSM Makassar juga tidak terlepas dari keberadaan dua pemain kunci Juku Eja, yakni Pluim dan Marc Klok. Persib, kata Away, tidak memiliki sosok pemain kunci yang mampu menjadi pembeda atau mengubah keadaan.

"PSM tidak punya striker murni. Tapi mereka punya Klok yang seperti ada di mana saja dan Pluim yang bisa melakukan determinasi sekaligus menyelesaikan peluang. Persib tidak punya sosok itu. Tidak ada pembagi bola, tidak ada gelandang box to box layaknya Inkyun, tidak ada partner yang cocok buat Eze seperti Bauman dulu yang bisa cepat berada di dalam kotak penalti saat tim menyerang dan melakukan transisi ikut bertahan ketika diserang balik," ujarnya. 

Kekalahan di Makassar menambah rentetan hasil minor Persib. Maung Bandung tidak pernah menang dalam lima pertandingan beruntun, tiga di antaranya bahkan berakhir kekalahan. Deretan hasil buruk itu, ditambah perombakan tim di tengah jalan, dinilai Away memengaruhi psikologis pemain.

"Hasil tidak pernah menang dan beberapa pemain sudah dicoret. Dalam kondisi tim yang seperti ini, memang seperti kehilangan kepercayaan diri. Beda halnya jika sebuah tim berbekal deretan kemenangan, pasti di manapun dia akan habis-habisan untuk menang. Apakah pemain-pemain baru di putaran kedua otomatis akan bisa mengubah keadaan? Masih harus menunggu kecepatan mereka beradaptasi dan mengikuti misi pelatih. Apalagi, rentang waktu jeda putaran pertama ke putaran kedua itu tidak lama," kata kiper Persib saat menjuarai Liga Indonesia edisi perdana itu.***

Bagikan: