Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Umumnya cerah, 18.7 ° C

[Laporan Khusus] Sudahkah Persib Bandung Menjadi Ekosistem yang Baik untuk Anak-anak?

Okky Ardiansyah
Persib/DOK. PR
Persib/DOK. PR

SEPULUH tahun lalu, bek muda Persib Bandung Zalnando bukan siapa-siapa. Ia hanya anak biasa asal Cimahi yang menggeluti sepak bola dan mencintai Persib Bandung.

Bagi Zalnando, menjadi pemain Persib Bandung adalah dambaannnya sejak usia 12 tahun ketika ia menyaksikan ingar bingar Stadion Siliwangi dan mendengar puja-puji bobotoh kepada pemain.

Zalnando tahu bahwa mendambakan Persib Bandung saja tak cukup. Dia lantas membangun cita-cita bahwa suatu saat nanti ia akan berkostum Persib Bandung dan menjadi pusat perhatian bobotoh di arena pertandingan.

Cita-cita Zalnando terwujud. Ia resmi menjadi pemain Maung Bandung musim 2019. Namun, keberhasilan itu koheren dengan pengorbanannya.

Ia rela membangun jarak dengan keluarga sejak duduk di bangku SMP. Ia berpergian dari satu tempat ke tempat lain untuk mengasah kemampuan mengolah bola dan menambah jam bermain.

“Berat sekali, tapi saya sudah mengawali langkah dan harus terus berjuang. Rindu keluarga, tapi itu adalah risiko bagi saya untuk terus mengejar cita-cita,” ucap Zalnando, Selasa 9 April 2019.

Persib Bandung adalah simbol kehebatan

Diandra Meifan Putra (11) adalah Zalnando saat ini. Sepak bola dan Persib Bandung merupakan dua hal yang paling ia cintai. Pemantiknya juga tak jauh berbeda dengan Zalnando, yakni atmosfer yang dihadirkan bobotoh di stadion dan mimpi menjadi pemain Maung Bandung.

Karena, bagi anak Hani Supartini itu, Persib Bandung adalah kebanggaan. “Dari dulu suka bermain sepak bola. Kalau ada pertandingan (di sekolah), saya ikut. Saya ingin jadi pemain sepak bola sama pemain Persib,” katanya.

Persib/DOK. PR

Pun demikian dengan Salman Setyawan (14). Siswa kelas IX SMP Negeri 2 Bandung itu menyebut bahwa Persib Bandung adalah kebanggaan keluarga. Maka dari itu, ia sebagai bobotoh kerap diajak menyaksikan laga kandang Persib Bandung oleh sang kakak.

“Waktu menonton Persib, bahagia dan gembira karena waktu itu tahunya Persib adalah tim kebanggaan keluarga. Mungkin juga sudah jadi budaya di keluarga karena itu saya merasa Persib keren,” ucapnya.

Zalnando, Diandra, dan Salman adalah bukti bahwa Persib Bandung punya daya tarik besar, khususnya bagi anak-anak. Pemerhati anak, Elia Daryati tak ragu menyimbolkan Persib Bandung sebagai kehebatan.

“Anak merasa ada kebanggaan. Apalagi Persib Bandung menjadi simbol kehebatan. Itu jadi status simbol tersendiri,” ucapnya.

Selain simbol kehebatan, kata Elia, ada komponen lain yang menjadi daya tarik Persib Bandung. Komponen pertama adalah kemegahan yang ditawarkan stadion tempat Persib Bandung menggelar laga kandang.

Persib/DOK. PR

Kemegahan yang dimaksud Elia Daryati tak hanya menyoal infrastruktur, tetap keriuhan dan simbol-simbol kebesaran Persib Bandung seperti koreografi bobotoh maupun spanduk yang dibentangkan di seluruh penjuru stadion.

“Anak kan melihat satu pertunjukan. Ketika memasuki stadion, anak akan melihat sesuatu yang megah, sesuatu yang indah. Mereka melihat heroiknya dukungan orang dewasa (dan muncul angan-angan) ‘Kalau sudah besar, saya ingin menjadi seperti pemain itu’,” katanya.

Menurut Elia Daryati, segala informasi yang ada dalam stadion mulai dari ekspresi, tindakan, dan pesan bobotoh diserap oleh anak-anak. Informasi itulah yang kemudian mengikat emosi anak-anak dengan Persib Bandung.

“Anak-anak itu menduplikasi perilaku. Diduplikasi lewat penglihatannya, lewat pendengarannya, dikasih lewat visualnya karena anak-anak itu fleksibel, bergantung lingkungannya seperti apa,” katanya.

Wajah kebudayaan massa

Dengan karakteristik tersebut, Budayawan Iman Soleh tak heran apabila banyak anak-anak Jawa Barat, khususnya Bandung, yang menjadi bobotoh atau bahkan bercita-cita menjadi pemain Persib Bandung. Persib Bandung, kata Iman Soleh, merupakan kebudayaan massa dari Jawa Barat.

Oleh karena itu, Iman Soleh mengatakan bahwa masyarakat Jawa Barat menyaksikan Persib Bandung bukan semata-mata untuk kemenangan, melainkan melepas kebosanan dari rutinitas sehari-hari dan mencari kebahagiaan.

“Persib adalah sebuah tempat seluruh orang bisa menjadi anak-anak. Bobotoh dapat melepaskan dirinya, tanpa skenario dan drama,” ucapnya.

Persib/DOK. PR

Hal itulah yang kemudian ditularkan orang dewasa kepada anak-anak. Karena jika berbicara soal prestasi, kata Iman Soleh, Persib Bandung belum mempunyai komponen tersebut meskipun telah merengkuh dua gelar Liga Indonesia pada 1994 dan 2014.

“Karena kalau sudah berurusan dengan Persib Bandung, tidak ngomongin prestasi, tetapi memperkenalkan kota kepada dunia. Persib itu yang memperkenalkan Bandung dan Jawa Barat kepada dunia,” katanya.

Maka dari itu, sehebat-hebatnya Persipura Jayapura yang sudah merajai Liga Indonesia empat kali, maupun fenomenalnya keberadaan Bali United di sepak bola Indonesia, ikatan emosi anak-anak Bandung atau Jawa Barat dengan Persib Bandung sulit dikendurkan.

Rivalitas yang tak ramah untuk anak-anak

Persoalannya, Persib Bandung dan sepak bola Indonesia kental dengan rivalitas. Contohnya, perseteruan Persib Bandung dengan Persija Jakarta. Selalu ada kehormatan yang dipertaruhkan dalam setiap laga.

Stadion, yang biasa penuh kegembiraan, berubah menjadi arena yang menegangkan. Teriakan-teriakan bernada rasisme berdentum begitu keras. Padahal, pertandingan sepak bola, termasuk laga Maung Bandung menampilkan peradaban suatu daerah.

“Orang dewasa harus menunjukan peradaban yang baik karena dia beradab. Tapi, rasisme muncul, maki-maki muncul, kalimat kotor, maka seperti WC kotor. Padahal, di situlah peradaban terbaik yang Tuhan ciptakan,” kata Iman Soleh.

Masalah meluas manakala teriakan dan nyanyian yang mengandung pesan negatif diyakini oleh anak-anak sebagai hal lumrah. Anak-anak yang tak tahu dosa atau sumber persoalan terseret dalam pusaran rivalitas.

Salman adalah salah satu contohnya. Ia mengaku benci Persija Jakarta berserta suporternya. Ia pun mengatakan bahwa kehormatan sebagai pendukung Persib Bandung tergerus apabila keok oleh Persija Jakarta, terutama saat bermain di kandang.

“Waktu (kandang Persib masih) di Siliwangi, ada chant Persija, Persija apa gitu. Dari situ, Saya juga ikut gengsi lah. Jadi, bobotoh dengan Persija enggak damai. Jadi, saya merasa gengsi kalau Persib kalah oleh Persija, sampai sekarang,” ucap Salman.

REKONSTRUKSI  pengeroyokan Haringga Sirla. DOK.PIKIRAN RAKYAT

Dirijen Viking Persib Club Yana Umar tak memungkiri bahwa rivalitas Persib Bandung dan Persija Jakarta tergolong besar. Intensitas nyanyian atau chant bernada umpatan melambung apabila kedua tim tersebut berlaga.

Fokus Viking Persib Club saat ini adalah bagaimana agar rivalitas tersebut tak terbawa ke luar stadion. “Kalau rivalitas tidakmasalah, yang dipermasalahkan itu pembunuhan. Jangan di bawa ke ranah di luar lapangan, ada pembunuhan dan pembacokan.”

Pemerhati sepak bola nasional M Kusnaeni mengatakan bahwa rivalitas berlebihan akan berdampak negatif untuk anak-anak. Menurut ia, suporter memiliki peran krusial soal rivalitas, bagaimana suporter mengambil sikap atau memperhatikan keberadaan anak-anak di stadion.

“Penting mendewasakan suporter yang dewasa. Jangan, suporternya dewasa tapi sikapnya bubudakeun (kekanak-kanakan). Jangan lupa, mereka menurunkan kultur kepada anak-anak. Kultur ini bukan hanya kultur menonton sepak bola di lapangannya, tapi kultur negatifnya,” ucapnya.

Netralisasi bukan perkara mudah

Dari kacamata M Kusnaeni, cara terbaik yang bisa diambil untuk menggerus kadar rivalitas adalah menghilangkan chant dan nyanyian bernada rasisme serta umpatan-umpatan pedas. Lewat cara tersebut, sepak bola dan stadion bisa menjadi tempat ramah anak-anak.

“Permusuhan, caci maki, yel-yel rasis, semua itu ditiru karena saat ini stadion sudah menjadi tempat keluarga. Sekeluarga menonton di stadion,” katanya.

Tak hanya M Kusnaeni yang berpendapat demikian. Panitia Pelaksana Pertandingan Persib Bandung Budhi Bram Rachman paham betul akan bahayanya chant dan nyanyian bernada rasisme untuk anak-anak.

Maka, dia mengajak semua organisasi bobotoh Persib Bandung untuk bersama-sama meniadakan chant dan nyanyian bernada rasisme.

“Anak-anak itu paling mudah mencerna dan paling mudah mengingat apa yang didengar, dilihat, dan dirasakan. Kita juga ada upaya, minimal, kita perangi rasisme,” ucapnya.

“Yang pasti, dari operator, setiap kali ada nyanyian bernada rasis, akan ada sanksi berupa denda. Maka ke depannya akan ada regulasi menghentikan pertandingan sampai nyanyian rasis di tribun penonton berhenti,” ucapnya.

Say No To Racism

Hasilnya, Viking Persib Club membuat satu gerakan dengan tajuk Say No To Racism. Untuk merealisasikan gerakannya, pengurus pusat Viking Persib Club melakukan sosialisasi secara langsung ke semua distrik Viking Persib Club yang ada di Jawa Barat.

Elia Daryati mengapresiasi apa yang dilakukan panpel Persib Bandung maupun Viking Persib Club untuk menciptakan stadion ramah bagi anak-anak. Namun, menurut ia, gerakan meniadakan chant dan nyanyian bernada rasisme saja tak cukup.

Hal itu tak lepas dari sudah tertanamnya pemahaman bahwa Persija Jakarta adalah musuh. Guna mencabut pemahaman itu, diperlukan narasi tandingan karena chant dan nyanyian bernama rasisme telah diperdengarkan jauh-jauh hari.

“Sesuatu yang sudah membudaya tak mungkin mudah dicabut, kecuali keyakinan itu bergerak pada pemahaman lain. Tak mungkin kalau tak ada tindakan lain,” katanya.

“Lawan hanya di lapangan, tapi bersaudara. The Jak lawan kita di stadion saja, di  luar saudara. Lama-kelamaan, rivalitas memudar apabila ada informasi imbangan tentang kebaikan-kebaikan sehingga meminimalisasi hal-hal yang sudah terekam,” katanya.

Tempat edukasi terbaik

Sulit memang, tapi hal itu perlu diperhatikan dan menjadi pekerjaan rumah semua pemangku kepentingan Persib Bandung. Pasalnya, kata Elia Daryanti, Persib Bandung adalah tempat edukasi yang baik apabila dikelola dengan baik pula.

Langkah pertama dan krusial yang perlu ditempuh adalah menanamkan pemahaman bahwa Persib Bandung adalah sumber kebahagiaan. Dengan begitu, kata Elia Daryanti, kemenangan dan kehormatan bukan hal yang dicari anak-anak manakala menyaksikan Persib Bandung.

“Bagaimana fair play itu dibangun, bagaimana ketika salah dan meminta maaf, bagaimana tidak tricky, terus lebay itu kan menipu. Persib bisa menjadi rujukan anak-anak belajar untuk menjadi sportif,” katanya.

Persib.*/DOK. PR

“Sepak bola itu problem solving karena ada kerja sama kelompok. Ada sayap kiri dan kanan. Semua harus bergerak dan bekerja sama, enggak bisa semua sendirian. Saya lihat filosofi itu,” katanya.

M Kusnaeni sependapat dengan Elia Daryanti. Menurut dia, dasar dari sepak bola ada tiga yakni sportivitas, disiplin, dan respek. Tiga hal itulah yang mesti ditanamkan kepada anak-anak yang menggeluti maupun mencintai sepak bola.

“Sportif kepada lawan, disiplin saat latihan atau sekolah, lalu respek kepada orangtua, pelatih, dan wasit. Hal itu ditanamkan kepada anak-anak. Semua yang ditanamkan akan melekat dan terbawa seumur hidup mereka,” ucapnya.

Sementara itu, Iman Soleh mengajak semua pemangku kepentingan Persib Bandung ramai-ramai bertanya. Apakah Persib Bandung sudah dapat menjadi tempat terbaik bagi anak-anak?

“Anak-anak akan bahagia. Dia nyaman. Dia terlindungi. Dia bermain. Dia berbahagia. Edukasi, kegembiraan, dan kenyamanan, sudahkah sampai di situ? Siapa yang bertanggung jawab? Seluruh orang dewasa, bukan anak-anak. Anak-anak itu hanya menerima hak,” ucapnya.

Jika Persib Bandung sudah memenuhi komponen tersebut, bukan tak mungkin akan banyak Zalnando lainnya bermunculan. Jika tak melahirkan Zalnando lain, Persib Bandung setidaknya harus bisa menjadi tempat terbaik untuk anak-anak berkembang dan memahami kehidupan.***

Bagikan: