Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 13.985,00 | Sedikit awan, 21.1 ° C

Persib vs Persiwa Digelar 11 Februari 2019

Irfan Subhan
Persib.*/DOK. PR
Persib.*/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- PSSI telah resmi merilis jadwal baru pertandingan laga kedua babak 32 Besar Piala Indonesia antara Persib dan Persiwa Wamena. Laga tersebut bakal digelar Senin 11 Februari 2019 di Stadion Si Jalak Harupat, Kutawaringin, Kabupaten Bandung.

Keputusan tersebut dituangkan melalui surat PSSI bernomor 419/AGB/52/II-2019, tentang Penetapan Jadwal Pertandingan Piala Indonesia Babak 32 Besar Leg 2 antara Persib Bandung dan Persiwa, tertanggal 4 Februari 2019 ditanda­tangani Sekjen Ratu Tisha.

Laga Persib versus Persiwa sedianya digelar Senin 4 Februari 2019. Namun, merujuk pada hasil putusan rapat koordinasi bersama Dinas Tata Ruang Kota Bandung, Dinas Pemuda dan Olah Raga Kota Bandung, Polrestabes Bandung, dan Panpel Persib 1 Februari lalu, laga harus dipindah dan dijadwal ulang karena faktor keamanan infrastruktur.

Bobotoh gelar aksi damai

Ratusan bobotoh menggelar aksi da­mai terkait ditundanya pertandingan laga kedua babak 32 Besar Piala Indonesia antara Persib melawan Persiwa, Senin 4 Februari 2019.

Mereka melakukan aksi ini dengan melakukan jalan kaki dari depan kantor PT Persib Bandung Bermartabat di Jalan Sulanjana sampai ke depan Mapolrestabes Bandung di Jalan Merdeka.

Aksi yang dilakukan pada pukul 16.00 itu mengundang perhatian dari ma­syarakat Kota Bandung yang melintas. Saat tiba di depan pol­restabes, tepatnya di Taman Vanda, bobotoh membentangkan spanduk dan orasi.

JOKO PAMBUDI/PR

Setelah Kapolrestabes Bandung Irman Sugema memberi­kan penjelasan, para bobotoh ini kembali ke depan kantor PT Persib Bandung Bermar­tabat dan kembali berkumpul untuk membacakan tuntutan.

Mereka diterima Gene­ral Coordinator Panpel Persib Bandung, Budi Bram Rachman dan perwakilan manajemen Per­sib. Saat audiensi, pa­ra bo­botoh ini mengeluarkan aspirasi dan rasa ke­ke­cewaan atas ditundanya pertandingan laga kedua itu.

Perwakilan bobotoh Albert Shadrach Dragtan mengatakan, aksi damai ini dilakukan sebagai bentuk rasa kekecewaan bo­botoh karena penundaan pertandingan tersebut dengan alasan tidak direkomendasikannya Stadion Gelora Bandung Lautan Api Kota Bandung.

Mereka menyayangkan karena sebelumnya ti­dak ada koordinasi dalam hal ini dengan bo­botoh yang dilakukan oleh pihak kepolisian ataupun PT Per­sib Bandung Bermartabat. ”Kita tidak me­nya­lahkan panpel sedi­rian karena panpel juga penyewa,” katanya.

Ada tiga tuntutan yang disam­paikan oleh bo­botoh pada aksi ini. Pertama kepada pihak keamanan dalam hal ini Kepolisian Resor Kota Besar Bandung, untuk mempermudah se­gala bentuk perizinan terkait pertandingan kandang Persib di Kota Bandung. Karena tugas utama kepolisian adalah me­me­lihara keamanan dan ketertiban ma­syarakat, memberikan perlindungan serta pe­ngayoman dan pelayanan kepada ma­sya­rakat. Dalam hal ini, bobotoh sebagai masyarakat yang ingin menyaksikan hiburan satu-satu­nya yaitu menonton Persib agar dimudahkan. Jika pun terjadi penolakan perizinan, kepolisian harus memberikan alasan yang jelas.

BOBOTOH menyaksikan laga Persib melawan Persiwa pada pertandingan babak 32 Besar Piala Indonesia di Stadion Wijayakusuma, Cilacap, Minggu 27 Januari 2019. Laga tersebut berakhir dengan skor 0-0.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

Tuntutan kedua, pihak kepolisian agar berusaha membantu Panitia Pelaksana (Panpel) pertandingan Persib me­me­cahkan masalah dengan tanpa melanggar ketentuan dan re­gulasi yang telah di­tetapkan PSSI selaku badan tertinggi se­pak bola di Indonesia.

Poin ketiga, kepada para pemangku kepenting­an di Kota Bandung khususnya serta Jawa Barat umumnya, memberikan kebebasan kepada bo­botoh untuk melihat, menyaksikan, dan mendu­kung Persib di Kota Bandung tercinta ini.

Mengenai tuntutan walk over kepada Persib, Albert menga­takan, bobotoh menilai panpel telah gagal menyelengga­rakan pertandingan laga ke­dua babak 32 Besar Piala Indonesia yang seha­rus­nya diadakan pada tanggal 4 Februari lalu.

”Tuntutan WO dari kawan-kawan sebenarnya mudah saja, ketika kita selalu gembar-gembor mengenai bagai­mana suporter yang baik itu seharusnya fair. Ketika hitam di bilang hitam, ke­tika putih dibilang putih, ketika buruk dibilang buruk, ketika baik dibilang baik. Mi­salkan dalam kasus ini bobotoh nuntut saja, kita secara langsung menjilat ludah kita sendiri,” katanya.

Panpel pertandingan Persib menjawab

General Coordinator Panpel Persib Bandung, Budhi Bram Rachman mengatakan, aspirasi yang disampaikan oleh ratusan bobotoh ini akan langsung di­sampaikan kepada manajemen untuk ditindaklanjuti.

Bram menuturkan, panpel juga perlu menjelaskan permasalahan perizinan yang dilakukan. Bahkan, prosesnya te­lah dilakukan sejak jauh-jauh hari termasuk kelengkapan lainnya sesuai prosedur.

”Setelah ada pernyataan dari Dinas Tata Ruang itu tidak bisa digunakan karena ada penurunan tanah dan retak-retak, polisi juga tak bisa menjamin tak ada apa-apa. Jadi, kami juga tidak bisa paksakan. Jadi, kami menganggap adanya alasan dari Dinas Tata Ruang sebagai force majeure (situasi atau peristiwa yang terjadi di luar batas kemampuan dan dugaan manusia),” ujarnya.

STADION Si Jalak Harupat/ARIF HIDAYAH/PR

Mengenai keinginan bobotoh meminta agar Persib kalah walk over, Bram menambah­kan hal tersebut sepenuhnya merupakan kewenangan PSSI sebagai operator penyelenggara turnamen Piala Indonesia.

Panpel Persib saat ini telah mengajukan su­rat untuk penyelenggaraan ulang pertandingan laga kedua yaitu tanggal 8 sampai 11 Februari. Nantinya dari operator Piala Indonesia akan mengeluarkan keputusan kapan tanggal pasti pelaksanaan pertandingan laga kedua.

”Perlu saya sampaikan karena kami sebelumnya sudah mengantongi izin penggunaan Stadion GBLA. Itu sudah kami lengkapi, tapi ti­ba-tiba Dispora mencabut surat itu karena ada kerusakan dan penurunan tanah. Nah, ini kan kalau kami sudah diizinkan ya percaya diri saja bisa melaksanakan pertanding,” katanya.

Bram mengatakan, ketentuan ini dianggap tidak melanggar regulasi karena yang terjadi di lapangan bersifat force majeure.

”Kami kan anggapnya perizinan ini sudah kami sampaikan dengan sesuai ketentuan, kami sudah sampai­kan dari H-7 bahkan lebih, masalah tiba-tiba di H-2 ada pemberitahuan tak layak, ya kami tak bisa apa-apa karena alasannya masuk akal dan demi keselamatan bobotoh juga,” ujarnya.

”Force majeure ini kan ada penurunan tanah di stadion, ada beberapa titik bangunan yang retak-retak. Kita juga ingin menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.***

Bagikan: